Jumat, 16 Desember 2016

es yang membeku




Bukankah es di kutub tidak akan mencair saat hanya secercah api yang berpijar?
Seperti hatimu, yang sempat membuatku menyerah, dan sepertinya kali ini aku akan menyerah lagi
Menyerah untuk yang kedua kalinya
Mundur dan kembali pulang dengan senyuman
Karena aku tahu semua ini akan sia-sia
Membuang-buang waktu dan hatiku selama ini
Memaksa takdir agar membuatmu mencair, atau minimal sekedar mengetahui siapa aku
Haruskah aku tetap memutuskan untuk menyerah pada dinginmu?
Kalau boleh jujur, sekarang ini aku masih sangat menyukaimu
Sedingin dan sekokoh apapun pendirianmu
Sejujurnya aku masih sangat ingin bertahan dan hadir lagi
Namun semesta kembali memaksaku untuk menyerah padamu

Senin, 21 November 2016

pamit

Bukan tentang bertepuk sebelah tangan atau berharap memeluk rembulan. Tapi ini semua hanya sekedar perasaan. Perasaan yang aku sendiripun tak tahu kapan dan dimana ia akan berlabuh. Perasaan yang bahkan terkadang akupun berada dalam kondisi tidak siap saat ia datang. Entahlah, kali ini aku menyerah. Lelah rasanya bermain-main dalam dalam ketidakpastian. Menyebalkan jika terus-terusan berada dalam kubangan yang semakin lama menyeretku dalam imajinasi yang tak kunjung usai. Sepertinya kali ini aku harus mengistirahatkan hatiku. Ditambah lagi, aku akan menenggelamkan diri dalam hal-hal yang aku sukai. Yups, itu pasti. 

Senin, 14 November 2016

patah hati-lagi



Patah hati
Lagi
Dengan perasaan yang hanya berjalan seumur jagung
Langsung dipatahkan

Ya, aku bisa membaca gerak-gerik yang ada
Sikap, respon, dan hal-hal lain yang kau lakukan
Sekali lihat aku langsung faham
Kalau kau, menyukainya

Ah, sudahlah
Terus saja mengejarnya
Orang yang sepertinya sesuai dengan yang kau harapkan

Ah, aku memang berhayal terlalu tinggi
Tidak sadar bahwa dosa yang aku timbun terlalu banyak
Sangat tidak sesuai denganmu

Berbahagialah, jangan hiraukan aku
Aku akan berhenti  menyukaimu
Aku akan menjaga agar tidak lagi ada prasangka

Kata orang, mengetahui segala itu terkadang justru menyakitkan
Terlalu banyak tahu juga kadang menyakitkan
Seperti sekarang

Aku terlalu cepat mencari informasi tentangmu
Sampai aku mengetahui banyak hal
Bahkan terlalu banyak hingga menjadi bumerang

Berontak, menyayat hatiku
Tepat di sini, lumayan dalam
Meninggalkan bekas pilu
Yang aku sendiri sudah tidak tahan

Sudahlah, aku tidak mau lagi bermain
Apalagi menyangkut hati
Karena patahnya, langsung mengenai nurani

Tidak satu-dua kali aku begini
Jatuh hati lalu patah lagi
Ada yang bilang harusnya aku membangun itu
Bukan malah menjatuhkannya

Baru beberapa hari yang lalu aku berhasil melepaskan dia
Dengan menjatuhkan hatiku padamu
Dan sekarang? Kau mematahkan hatiku

Ah sudahlah, aku tidak mau tertipu dengan perasaan semu
Sejak hari ini aku bertekad tidak akan bermain lagi
Dengan hati siapapun itu
Termasuk hatimu

Senin, 07 November 2016

Obrolan pagi ini

Sekarang, mari kita saling mendoakan. Sebagai teman baik, semoga kamu bahagia. Dan aku berusaha untuk tidak berharap apa2 lagi. Karena cerita kita sudah selesai dengan kata terimakasih.
Dan untuk hatiku, jangan sampai ia mati rasa. Semoga kamu dan aku, masing-masing akan merasakan kembali, atau lebih indah. Dengan seseorang yg namanya sudah Allah tulis bahkan sebelum kita bernafas. Aku sekarang mungkin akan tidak suka dg siapun atau tidak membuka hati dg siapapun. Karena pada akhirnya, semua rasa ini akan aku berikan pada seseorang itu, yang berani ke rumah dan memintaku bersama keluarganya.

Minggu, 06 November 2016

AKU IRI



Aku iri
Padamu yang telah melepaskanku
Kamu yang berhasil bangkit kembali
Dan benar-benar membuangku

Rabu, 02 November 2016

hati yang baru?



Hei kamu yang punya segudang prestasi
Berbakat dalam segala hal yang kau lewati
Mempesona setiap insan yang bahkan belum mengenali
Seperti permata biru yang sangat indah untuk dikagumi
Siapa yang tidak terbersit perasaan untuk ingin memiliki?

Senin, 03 Oktober 2016

Terkadang memang ada kalanya judul dan isi tidak sesuai


MENCINTAI ITU SAKIT, APALAGI KALAU BERTEPUK SEBELAH TANGAN, DAN LEBIH SAKIT LAGI JIKA DIA TAHU TAPI DIA ACUH

Jumat, 30 September 2016

melenceng dari ide awal :D



Malam ini aku merasa terlahir kembali. Betapa tidak, akhirnya aku merasa ada yang berontak di dalam hati kecilku ketika aku berlaku tidak adil dalam pembagian proporsi dalam kehidupanku. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bisa memaafkan dia. Tidak hanya itu, coba tebak! Aku bisa merelakan dia, aku berhasil benar-benar mengeluarkannya dari dalam hati serta fikiranku yang aku rasa butuh jutaan tahun untuk berhasil melakukannya. Bukan karena kamu, seseorang yang baru sembuh dari serangan asam lambungnya. Tapi ya gabisa bohong kalau sedikit banyak ini berkat bantuan darimu juga sih. Tapi benar-benar seperti aku terbangun dan bersiap menghadapi hari senin setelah mengalami hari libur yang sangat panjang.

Senin, 19 September 2016

untukmu yang berani mengatakannya

tulisan ini saya dedikasikan untuk seseorang, terimakasih telah berbagi suka dan dukamu padaku.

Kamis, 12 Mei 2016

surat untukmu ketika "pesan" itu sampai ke mata dan hati ana



Hai kung. Sejak hari itu, lidah ana pahit. Takmampu menyesap rasa apapun. Mungkin itu bentuk protes tubuh ana pada janji-janji akung. Menegur ana agar tak mudah percaya pada janji apapun karena memang lidah tak pernah bertulang. Sejak hari itu pula kepala ana sering sakit, seperti terbentur ujung jendela yang lancip. Sakit yang ana sendiri kadang tak mampu menahannya saat ia datang. Mungkin reaksi tubuh ana agar tak memikirkanmu lebih jauh lagi.  Hati ana pun berangsur membeku. Tak peka lagi dengan rasa bahagia ataupun lara. Kekecewaan dari akung telah menggerus ruang kepekaan itu. Bagaimana kabar kalian? Kabar akung dan bidadarimu yang sangat kau lindungi? Demi dia saja akung mampu mengatakan hal yang sangat kasar yang ana sendiripun masih tak percaya kalau itu akung sendiri yang mengatakannya.

Selasa, 10 Mei 2016

move on? aku belum bisa



Move on?
Belum, aku belum bisa
Aku masih sering sengaja memikirkanmu
Atau kau memang melintas di fikiranku
Hei kung, ana masih rindu
Hangatnya punggungmu yang tak seempuk bantalku
Manisnya mulutmu saat tersenyum di depanku
Sabahagia itukah kau terlepas dariku?
Aku masijh mencari tahu kabarmu
Aku masihsering membuka fbmu dari temanku
Apakah kau masih mengingatku?
Apakah pernah sedikit saja aku terlintas di fikiranmu?
Entahlah, aku belum bisa sekedar melupakanmu
Sampai saat ini aku masih berharap semuanya mimpi
Esok pagi, aku akan terbangun oleh suara merdumu
Kita masih akan berbagi rindu dan cinta satu sama lain
Aku rindu, rindu, rindu sekali
Lalu kau? Apakah sedikitpun kau tak merindukanku?

patah



Ya, sekarang aku patah hati
Seperti yang lalu dulu
Namun selalu aku merasa ini baru
Orang bilang menulis mampu melepaskan
Tapi bukankah itu namanya mengingat?
Lalu kenapa aku masih melakukannya?
Cukup lihat dan baca
Aku hanya ingin kau tahu apa yang sedang aku rasakan
Karena mungkin saat aku membacanya lagi
Suatu saat nanti aku akan lupa pernah sesakit ini

suatu saat nanti, entah kapan



Separah badai sore ini, parah mengkhawatirkan
Seperti itulah patah hatiku, tak terkira akan datang
Guntur yang memekakkan telinga, seperti makianmu
Angin yang tak bisa diterjang, seperti keputusanmu
Hujan yang menutup pandangan mata, seperti cintaku
Tak ada cahaya matahari, hatiku tambah redup
semurka itu hatiku tanpamu, kacau
Semuram itu hidupku tanpa cinta kita
Seburuk itu hariku tanpa namamu
Sakit separah itu aku rasakan
Perlahan semuanya akan reda, persis badai sore ini
Perasaanku padamu, kisah kita yang lalu
Dan segala waktu manis yang pernah kita kecup
Ada saatnya akan memudar, menjadi sebuah kenangan
Mungkin untukku akan sedikit lama, tidak sepertimu
Tidak seperti kau yang dengan mudahnya melupakan kita
Tapi pasti, perasaankupun akan memudar
Entah kapan segalanya menghilang