Hai kung. Sejak hari itu, lidah
ana pahit. Takmampu menyesap rasa apapun. Mungkin itu bentuk protes tubuh ana
pada janji-janji akung. Menegur ana agar tak mudah percaya pada janji apapun
karena memang lidah tak pernah bertulang. Sejak hari itu pula kepala ana sering
sakit, seperti terbentur ujung jendela yang lancip. Sakit yang ana sendiri
kadang tak mampu menahannya saat ia datang. Mungkin reaksi tubuh ana agar tak
memikirkanmu lebih jauh lagi. Hati ana
pun berangsur membeku. Tak peka lagi dengan rasa bahagia ataupun lara.
Kekecewaan dari akung telah menggerus ruang kepekaan itu. Bagaimana kabar
kalian? Kabar akung dan bidadarimu yang sangat kau lindungi? Demi dia saja
akung mampu mengatakan hal yang sangat kasar yang ana sendiripun masih tak
percaya kalau itu akung sendiri yang mengatakannya.
Kamis, 12 Mei 2016
Selasa, 10 Mei 2016
move on? aku belum bisa
Move on?
Belum, aku belum bisa
Aku masih sering sengaja memikirkanmu
Atau kau memang melintas di fikiranku
Hei kung, ana masih rindu
Hangatnya punggungmu yang tak seempuk bantalku
Manisnya mulutmu saat tersenyum di depanku
Sabahagia itukah kau terlepas dariku?
Aku masijh mencari tahu kabarmu
Aku masihsering membuka fbmu dari temanku
Apakah kau masih mengingatku?
Apakah pernah sedikit saja aku terlintas di fikiranmu?
Entahlah, aku belum bisa sekedar melupakanmu
Sampai saat ini aku masih berharap semuanya mimpi
Esok pagi, aku akan terbangun oleh suara merdumu
Kita masih akan berbagi rindu dan cinta satu sama lain
Aku rindu, rindu, rindu sekali
Lalu kau? Apakah sedikitpun kau tak merindukanku?
patah
Ya, sekarang aku patah hati
Seperti yang lalu dulu
Namun selalu aku merasa ini baru
Orang bilang menulis mampu melepaskan
Tapi bukankah itu namanya mengingat?
Lalu kenapa aku masih melakukannya?
Cukup lihat dan baca
Aku hanya ingin kau tahu apa yang sedang aku rasakan
Karena mungkin saat aku membacanya lagi
Suatu saat nanti aku akan lupa pernah sesakit ini
suatu saat nanti, entah kapan
Separah badai sore ini, parah mengkhawatirkan
Seperti itulah patah hatiku, tak terkira akan datang
Guntur yang memekakkan telinga, seperti makianmu
Angin yang tak bisa diterjang, seperti keputusanmu
Hujan yang menutup pandangan mata, seperti cintaku
Tak ada cahaya matahari, hatiku tambah redup
semurka itu hatiku tanpamu, kacau
Semuram itu hidupku tanpa cinta kita
Seburuk itu hariku tanpa namamu
Sakit separah itu aku rasakan
Perlahan semuanya akan reda, persis badai sore ini
Perasaanku padamu, kisah kita yang lalu
Dan segala waktu manis yang pernah kita kecup
Ada saatnya akan memudar, menjadi sebuah kenangan
Mungkin untukku akan sedikit lama, tidak sepertimu
Tidak seperti kau yang dengan mudahnya melupakan kita
Tapi pasti, perasaankupun akan memudar
Entah kapan segalanya menghilang
rindu?
Mungkin ini rindu
Karena isi kalbuku hanya teringat padamu
Mungkin ini tabu
Tapi jiwaku mendesah menyebut namamu
Setiap memejamkan mataku
Kau menunggu dengan senyum jeratmu
Bagaimana aku tak luluh
Jika selama ini tanpamu aku rapuh
Aku merindukan hembusan nafasmu
Aku menantikan aroma cintamu
Aku mencandukan rambut keritingmu
Juga kulitmu yang halus menyentuh jiwaku
Maaf aku merindukanmu
Katakanlah betapa kau bahagia dengannya
Dengan pilihan hatimu yang baru
Meninggalkanku yang telah membusuk perlahan
Dengan jasad tanpa hati, tanpa otak
Kremasi ragaku, simpan cintaku
Langganan:
Postingan (Atom)