Kamis, 12 Mei 2016

surat untukmu ketika "pesan" itu sampai ke mata dan hati ana



Hai kung. Sejak hari itu, lidah ana pahit. Takmampu menyesap rasa apapun. Mungkin itu bentuk protes tubuh ana pada janji-janji akung. Menegur ana agar tak mudah percaya pada janji apapun karena memang lidah tak pernah bertulang. Sejak hari itu pula kepala ana sering sakit, seperti terbentur ujung jendela yang lancip. Sakit yang ana sendiri kadang tak mampu menahannya saat ia datang. Mungkin reaksi tubuh ana agar tak memikirkanmu lebih jauh lagi.  Hati ana pun berangsur membeku. Tak peka lagi dengan rasa bahagia ataupun lara. Kekecewaan dari akung telah menggerus ruang kepekaan itu. Bagaimana kabar kalian? Kabar akung dan bidadarimu yang sangat kau lindungi? Demi dia saja akung mampu mengatakan hal yang sangat kasar yang ana sendiripun masih tak percaya kalau itu akung sendiri yang mengatakannya.

Ana ingin bertanya, jutaan pertanyaan yang memang akan selalu ada dalam fikiran ana. Mengapa akung waktu itu menjawab dengan “no komen”? padahal mudah sekali menjawab yang sejujurnya kalau akung memang sudah ndak punya perasaan apapun untuk ana. Mengapa akung bisa jadi sekasar itu? Apa akung lupa hangatnya pelukan akung pada hati ana yang ketika itu akung sendiri yang larut dalam cinta kita? kenapa akung harus mengatakan ana tidak tahu diri padahal sebelum itu akung sendiri yang memohon-mohon hingga akung menjuluki diri akung sendiri pengemis? Mengapa akung terkesan ingin mengeringkan kantung air mata ana padahal saat kita bertengkar dan ana menangis saat dulu akung sendiri yang berjanji tidak akan membuat ana menangis untuk kedua kalinya? Mengapa perasaan akung begitu cepat tergantikan padahal akung berkata akan menjadikan ana madrasah bagi anak-anak kita kelak? Mengapa akung tidak mau mengatakan langsung pada mata ana dengan mulut akung sendiri dan memilih mencaci ana lewat pesan yang itu sangat kekanakan sekali?
Kita udah deket jauh sebelum kita berhubungan kung. Ana manggil dari kakung ke akung itu juga gara-gara dulu akung manggil ana nyonya besar. Ana kenal akung lama, ketika akung masih di man, ketika akung berusaha ana jodohin sama neng lia, ketika akung udah kuliah di stain, ketika akung naksir anaknya pak kyai yang stratanya tinggi, ketika akung belum ingin berkomitmen dengan siapa-siapa, ketika akung masih mengucapkan selamat ulang tahun pada sepertiga malam dan mengatakan semoga ana akan selalu menawan enatah itu gendut atau kurus, ketika akung di madura dan mendadak punya nomor simpati. Kenapa tiba-tiba akung menghardik ana dan mengatakan punya nama dan gak mau dipanggil akung? Di mana kesalahannya?

Tapi memang ini yang salah ana. Salah siapa masih terus cinta ketika sudah memutuskan tak mau lagi berhubungan? Tak mau mengikuti apa yang akung mau? Ndak mau berkorban? Memang salah ana. Harusnya akung tahu ana memang seperti ini. Meski ana bilang putus, hati ana masih diam tak berkutik. Tapi memang bukan salah akung yang cepat menemukan pengganti, bidadari lagi! Ana mah hanya sesosok gadis kecil yang bisanya hanya menangis, meraung, dan mengganggu waktu akung. Tapi billahi, ana ndak pernah ada niatan sedikitpun untuk menjerumuskan akung. Ana ndak pernah sedikitpun ingin mengajak akung ke arah yang buruk. Sudahlah jangan dibahas lagi. Pegal punggung ana.

Selimut ini sudah ana londri, novel ini juga ana kembalikan. Toh akung sudah mengharamkannya. Mungkin memang ana ndak tau diri atau ndak punya harga diri. Tapi bisakah akung agar tidak usah mengatakannya dengan emosi dan dalam posisi akung mencintai wanita lain? Itu yang paling menyakitkan bagi ana kung. Dulu saat malam tahun baru, mas fuad pernah misui ana “samean iku jancuk dek” samapai sekarang ana ingat. Tapi ana ndak masalah, ana ndak terlalu terluka. Karena memang saat itu ana sudah ndak punya perasaan apa-apa sama mas fuad. Tapi akung? Ana masih punya beberapa screenshoot pesan kita yang masih dalam indah-indahnya, akung ndak inget semua itu? Akung ndak pernah inget ta? Ini yang ana ndak suka dari dekat sampai berjanji janji. Akung bilang akung berkomitmen sama bidadari itu? Lalu dengan monster pink ini, apakah akung ndak pernah berkomitmen juga? Apakah akung ndak pernah mencintai seonggok daging mengerikan ini? Hati ana benar-benar terluka saat akung mengatakan itu. Bukan terluka seperti ana patah hati atau mendapat kabar ana sudah tergantikan dengan bidadari sempurna itu. Tapi ini lebih kepada ana tidak percaya akung bisa sampai mengucapkan hal seperti itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar