Hai kung. Sejak hari itu, lidah
ana pahit. Takmampu menyesap rasa apapun. Mungkin itu bentuk protes tubuh ana
pada janji-janji akung. Menegur ana agar tak mudah percaya pada janji apapun
karena memang lidah tak pernah bertulang. Sejak hari itu pula kepala ana sering
sakit, seperti terbentur ujung jendela yang lancip. Sakit yang ana sendiri
kadang tak mampu menahannya saat ia datang. Mungkin reaksi tubuh ana agar tak
memikirkanmu lebih jauh lagi. Hati ana
pun berangsur membeku. Tak peka lagi dengan rasa bahagia ataupun lara.
Kekecewaan dari akung telah menggerus ruang kepekaan itu. Bagaimana kabar
kalian? Kabar akung dan bidadarimu yang sangat kau lindungi? Demi dia saja
akung mampu mengatakan hal yang sangat kasar yang ana sendiripun masih tak
percaya kalau itu akung sendiri yang mengatakannya.
Ana ingin bertanya, jutaan
pertanyaan yang memang akan selalu ada dalam fikiran ana. Mengapa akung waktu
itu menjawab dengan “no komen”? padahal mudah sekali menjawab yang sejujurnya
kalau akung memang sudah ndak punya perasaan apapun untuk ana. Mengapa akung
bisa jadi sekasar itu? Apa akung lupa hangatnya pelukan akung pada hati ana
yang ketika itu akung sendiri yang larut dalam cinta kita? kenapa akung harus
mengatakan ana tidak tahu diri padahal sebelum itu akung sendiri yang
memohon-mohon hingga akung menjuluki diri akung sendiri pengemis? Mengapa akung
terkesan ingin mengeringkan kantung air mata ana padahal saat kita bertengkar
dan ana menangis saat dulu akung sendiri yang berjanji tidak akan membuat ana
menangis untuk kedua kalinya? Mengapa perasaan akung begitu cepat tergantikan
padahal akung berkata akan menjadikan ana madrasah bagi anak-anak kita kelak?
Mengapa akung tidak mau mengatakan langsung pada mata ana dengan mulut akung
sendiri dan memilih mencaci ana lewat pesan yang itu sangat kekanakan sekali?
Kita udah deket jauh sebelum kita
berhubungan kung. Ana manggil dari kakung ke akung itu juga gara-gara dulu
akung manggil ana nyonya besar. Ana kenal akung lama, ketika akung masih di
man, ketika akung berusaha ana jodohin sama neng lia, ketika akung udah kuliah
di stain, ketika akung naksir anaknya pak kyai yang stratanya tinggi, ketika
akung belum ingin berkomitmen dengan siapa-siapa, ketika akung masih
mengucapkan selamat ulang tahun pada sepertiga malam dan mengatakan semoga ana
akan selalu menawan enatah itu gendut atau kurus, ketika akung di madura dan
mendadak punya nomor simpati. Kenapa tiba-tiba akung menghardik ana dan
mengatakan punya nama dan gak mau dipanggil akung? Di mana kesalahannya?
Tapi memang ini yang salah ana.
Salah siapa masih terus cinta ketika sudah memutuskan tak mau lagi berhubungan?
Tak mau mengikuti apa yang akung mau? Ndak mau berkorban? Memang salah ana.
Harusnya akung tahu ana memang seperti ini. Meski ana bilang putus, hati ana masih
diam tak berkutik. Tapi memang bukan salah akung yang cepat menemukan
pengganti, bidadari lagi! Ana mah hanya sesosok gadis kecil yang bisanya hanya
menangis, meraung, dan mengganggu waktu akung. Tapi billahi, ana ndak pernah
ada niatan sedikitpun untuk menjerumuskan akung. Ana ndak pernah sedikitpun
ingin mengajak akung ke arah yang buruk. Sudahlah jangan dibahas lagi. Pegal
punggung ana.
Selimut ini sudah ana londri,
novel ini juga ana kembalikan. Toh akung sudah mengharamkannya. Mungkin memang
ana ndak tau diri atau ndak punya harga diri. Tapi bisakah akung agar tidak
usah mengatakannya dengan emosi dan dalam posisi akung mencintai wanita lain?
Itu yang paling menyakitkan bagi ana kung. Dulu saat malam tahun baru, mas fuad
pernah misui ana “samean iku jancuk dek” samapai sekarang ana ingat. Tapi ana
ndak masalah, ana ndak terlalu terluka. Karena memang saat itu ana sudah ndak
punya perasaan apa-apa sama mas fuad. Tapi akung? Ana masih punya beberapa
screenshoot pesan kita yang masih dalam indah-indahnya, akung ndak inget semua
itu? Akung ndak pernah inget ta? Ini yang ana ndak suka dari dekat sampai
berjanji janji. Akung bilang akung berkomitmen sama bidadari itu? Lalu dengan
monster pink ini, apakah akung ndak pernah berkomitmen juga? Apakah akung ndak
pernah mencintai seonggok daging mengerikan ini? Hati ana benar-benar terluka
saat akung mengatakan itu. Bukan terluka seperti ana patah hati atau mendapat
kabar ana sudah tergantikan dengan bidadari sempurna itu. Tapi ini lebih kepada
ana tidak percaya akung bisa sampai mengucapkan hal seperti itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar