Selasa, 19 Maret 2019

rumit


Satu...dua...
Kau terjatuh dalam harap
Aku terperosok dalam duka
Harapan agar cintaku kembali
Duka karena hidupku pergi
Cintamu aku
Hidupku kamu
Cintamu sudah dulu
Hidupku belum berlalu

6 januari 2016


Sebesar apapun api, akhirnya padam juga.
Pun perasaanmu padaku.
Sekecil apapun bara, akhirnya membara juga.
Pun rasaku padamu.
Rintik kerinduan akan deras juga.
Derasnya janji yang terucap, akhirnya reda tak terungkap.
Selalu saja begitu.
Yang baru akan semakin diburu.
Terucap bisa tergugat.
Tapi jika tak dianggap, untuk apa tetap hinggap?
19.18

aku pada Januari 2016


Kehilanganmu tak semudah itu aku menerimanya.
Karena ini kesalahanku  yang sempat meninggalkanmu dalam kegelapan.
Aku lupa ini bukan drama, dimana ada yang akan mampu bertahan selama dan semenyakitkan bagaimanapun itu.
Karena ini kehidupan, dimana selalu ada pilihan yang harus segera diputuskan.
Aku lupa kalau tidak semua orang seperti aku, yang mampu bertahan pada keadaan tidak menyenangkan.
Aku lupa kau bukan aku, yang akan dengan senyuman menerima kembali orang yang jelas-jelas telah sering menyakiti.
Senyumanmu kau pilih untuk berikan padanya. Bukan aku tidak rela, hanya saja aku tidak biasa.
Aku terbiasa menerima cinta dan hatimu yang belum pernah kau berikan pada orang lain.
Aku terbiasa ada di fikiran dan hatimu saat semua orang menginginkanmu.
Tapi dia yang mampu menyembuhkan lukamu.
Saat kau membutuhkan transfusi darah, aku hanya tertawa sambil membungkus darahku dengan pita yang cantik dan menunggu waktu yang tepat.
Tanpa memikirkanmu yang sekarat membutuhkan darahku. Lalu ia datang.
Membawa berkantung-kantung penuh darah yang siap ditransfusikan padamu. Kau tertolong, jiwamu selamat, dan cinta padanya tersemat.
Setelah semuanya berjalan, aku datang. Membawa sekantung penuh darah yang terbungkus rapi dan masih segar. Tapi untuk apa? Sudah tak berguna


Kung, duniaku di 2016


Move on?
Belum, ana belum bisa kung
Ana masih sering sengaja memikirkanmu
Atau kau memang melintas di fikiran ana
Hei kung, ana masih rindu
Hangatnya punggungmu yang tak seempuk bantal ana
Manisnya mulutmu saat tersenyum di depan ana
Sabahagia itukah kau terlepas dari ana kung?
Ana masih mencari tahu kabarmu
Ana masih sering membuka fbmu dari akun teman
Apakah kau masih mengingat ana?
Apakah pernah sedikit saja ana terlintas di fikiranmu?
Entahlah, ana belum bisa sekedar melupakanmu kung
Sampai saat ini ana masih berharap semuanya mimpi
Esok pagi, ana akan terbangun oleh suara merdumu
Kita masih akan berbagi rindu dan cinta satu sama lain
Ana rindu, rindu, rindu sekali
Lalu kau kung? Apakah sedikitpun kau tak merindukan ana?

suatu hari di 2016

Ya, sekarang aku patah hati
Seperti yang lalu dulu
Namun selalu aku merasa ini baru
Orang bilang menulis mampu melepaskan
Tapi bukankah itu namanya mengingat?
Lalu kenapa aku masih melakukannya?
Cukup lihat dan baca
Aku hanya ingin kau tahu apa yang sedang aku rasakan
Karena mungkin saat aku membacanya lagi
Suatu saat nanti aku akan lupa pernah sesakit ini

Badai 2016 ku


Separah badai sore ini, parah mengkhawatirkan
Seperti itulah patah hatiku, tak terkira akan datang

Merindukanmu pada 2016

Mungkin ini rindu
Karena isi kalbuku hanya teringat padamu
Mungkin ini tabu
Tapi jiwaku mendesah menyebut namamu
Setiap memejamkan mataku
Kau menunggu dengan jerat senyummu
Bagaimana aku tak luluh
Jika selama ini tanpamu aku rapuh
Aku merindukan hembusan nafasmu
Aku menantikan aroma cintamu
Aku mencandukan rambut keritingmu
Juga kulitmu yang halus menyentuh jiwaku
Maaf aku merindukanmu
Katakanlah betapa kau bahagia dengannya
Dengan pilihan hatimu yang baru
Meninggalkanku yang telah membusuk perlahan
Dengan jasad tanpa hati, tanpa otak
Kremasi ragaku, simpan cintaku

kepingan di 2016

Sosokmu telah angkuh
Mulai liar tak bisa terengkuh
Lupa jika dulu pernah lumpuh
Bukankah kau sendiri yang bilang tidak suka sarkas?
Namun kau sendiri yang melahirkan cacat berbekas

kembalikan, 2016


Benci aku seperti kau membenci masa kecilmu
Hujat aku seperti hujatanmu pada hal itu
Peluklah bidadari barumu dengan cinta
Jangan biarkan jiwanya rontok seperti jiwaku
Tiupkan cinta pada rohku, buat aku tertawa
Seperti jutaan kilometer yang telah kita lalui dalam suka
Apakah selama ini hanya aku yang setia?
Bagaimana kau bisa terbang lalu menenggelamkanku
Jika kau merindukan hangatku, kembalilah
Karena betapun kau berusaha membunuhku
Rasa kini mungkin takkan hilang

aku, si upik abu


Aku tahu tidak sedetikpun kau menghadirkanku pada hidupmu
Aku tahu, bagimu aku hanya sekedar camilan selingan
Aku juga tahu, dibandingkan penggemarmu di luar sana, aku hanyalah upik abu
Lalu mengapa kau justru memilih upik abu untuk kau permainkan?
Mengapa kau memberi kunci untuk membuka pintu hatimu pada upik abu ini?
Hahaha kau pasti benar-benar sedang mempermainkanku dengan menjadikanku leluconmu
Akhirnya aku tahu jawabannya setelah kubuka pintu hatimu
Dan coba tebak apa isinya? Gotcha!
Hanya layar putih yang memutar kehidupanmu, tidak bisa aku jangkau
Semua benar-benar hanya dari layar putih, aku tidak bisa berbuat apa-apa
hahaha....sudah puaskah kau menertawaiku?
Memang hanya aku di sini yang bodoh. Siapa suruh jatuh hati padamu
Harusnya aku sudah tau dari awal kalau bagimu, aku ini hanya sebatas permainan
Aku benar kan?

Aku dan sedikit pemikiran warasku


Jadi kali ini menyambung yang kemaren. Tentang menyukai secara sepihak, ditambah lagi yang kita sukai acuh. Sejak kemarin aku memikirkan hal itu seperti bagaimana? Dan aku baru sadar, sepertinya aku sudah dan sedang mengalaminya. Hahahahaha menggelikan sekali ya.

Senin, 18 Maret 2019

Aku dan tepuk sebelah tanganku yang pertama


"Mencintai itu sakit, apalagi kalau bertepuk sebelah tangan, dan lebih sakit lagi jika dia tahu tapi dia acuh"

Kalimat di atas diucapkan oleh seorang kawan saat kami sedang membicarakan laki-laki yang kami suka. Ya, sakit memang. Jangankan dalam level mencintai, menyukai saja dan tidak terbalaskan sudah cukup untuk membuat kita uring-uringan setiap saat. Tidak satu-dua kisah yang berjalan seperti itu. Tidak hanya kau, mungkin jutaan wanita dan laki-laki di dunia ini pernah mengalaminya. Boleh aku bercerita sedikit tentang hal ini?

Ada satu hal yang ingin ku tanyakan


Hai cinta, apa kabar?
Papilaku sepertinya mogok kerja bersama lambung dan system pencernaanku yang lainnya
Pun syarafku
Mereka terus-terusan mengirimkan sinyal rasa “sakit” padahal tidak ada yang bermasalah
Mungkin mereka sedang protes padaku ya