Senin, 18 Maret 2019

Aku dan tepuk sebelah tanganku yang pertama


"Mencintai itu sakit, apalagi kalau bertepuk sebelah tangan, dan lebih sakit lagi jika dia tahu tapi dia acuh"

Kalimat di atas diucapkan oleh seorang kawan saat kami sedang membicarakan laki-laki yang kami suka. Ya, sakit memang. Jangankan dalam level mencintai, menyukai saja dan tidak terbalaskan sudah cukup untuk membuat kita uring-uringan setiap saat. Tidak satu-dua kisah yang berjalan seperti itu. Tidak hanya kau, mungkin jutaan wanita dan laki-laki di dunia ini pernah mengalaminya. Boleh aku bercerita sedikit tentang hal ini?

Beberapa tahun lalu, saat usiaku baru memasuki usia pubertas. Malam itu sekali lagi kami bergurau lewat bbm. Ya, memang saat dipikir lagi selalu aku yang memulai setiap pembicaraan. Selalu aku yang menghidupkan topik diantara kita agar ada saja kesempatanku untuk menghubungimu. Bagaimana mungkin aku yang tidak bisa begadang semalaman berhasil kau buat melek dan tiba-tiba menjadi penggila bola. Aku ingat betul malam itu piala dunia yang menampilkan Argentina melawan Jerman. Aku yang mendukung Jerman dan kau ada dipihak yang berseberangan. Aku berhasil mempertahankan mataku terbuka dan berjuang memahami sejujurnya apa yang menarik dari segerombolan laki-laki di dalam layar kaca sedang berlarian di atas lapangan hijau. Ya, kau yang notabene adalah seorang pemain sepak bola dan berposisi sebagai kiper paham dengan keasyikan itu.
Aku menyukaimu. Jangan ditanya sejak kapan, aku juga tidak tahu. Yang aku tahu, aku selalu memperhatikanmu saat kau berdiri gagah di depan gawangmu. Yang aku tahu, aku selalu menyempatkan pergi untuk menontonmu membela almamater kita. Dan satu lagi yang aku tahu, kau tidak pernah sedikitpun mempunyai perasaan yang sama padaku. Ya, bagaimana mungkin idola sepertimu bisa menyukai orang sepertiku. Yang dinilai dari atas sampai bawah tidak ada nilai plusnya. Wajahku biasa-biasa saja, kulitku hitam legam tidak terawat, kacamata yang sederhana memenuhi wajahku, rambutku panjang tidak terawat dan penuh dengan ketombe, ditambah lagi, lemak yang menonjol di seluruh tubuhku berusaha saling menampakkan diri. Aku tahu tanggal lahirmu, aku hafal nomer handphonemu, aku tahu apa-apa yang kau sukai dan tidak kau sukai. Kedengarannya seperti stalker yang membahayakan. Bukankah aku memang terlihat sangat tidak menarik?
Kau tahu tidak, betapa bersyukurnya aku bisa menghabiskan malam ini denganmu. Lebih tepatnya dengan tertawa denganmu berkedok tayangan sepak bola ini. Aku bersyukur karena kita masih berteman. Aku menyukaimu meskipun tahu kau tidak menyukaimu. Namun salahkah jika aku berharap agar tuhan menjatuhkan hatimu padaku? Agar tuhan menggerakkan pandanganmu menatapku meski itu dari kejauhan dan selintas lalu? Tidak pantaskah aku berharap kau fikirkan, meski itu sebentar tanpa bertahan?
Aku begitu menyukaimu, dan di dalam kepalaku kamu juga harus menyukaiku. Aku mempunyai teman yang sama-sama gilanya padamu. Bedanya, dia menunjukkannya sehingga membuat rumor beredar di sekolah. Yah rumor yang sangat tidak mengenakkan untuk kau terima. Tapi ya memang seperti itulah kenyataannya. Sedangkan aku, hanya berada di jajaran teman dan fansmu saja, tidak akan berubah sampai kapanpun. Saat aku menanyakan kepadamu bagaimana tentang dia, kau menjawab bahwa di ahanya teman kelas. Kau baik padanya karena dia juga baik sekali padamu. Dia tidak pernah absen memberimu curahan perhatian dan kasih sayang. Sedangkan aku? Menatapmu yang ada didepanku sebagai lebih dari teman saja aku tidak sanggup. Aku takut merusak perteman kita yang sangat berada pada level biasa ini. Aku hanya bisa menghubungimu karena aku menjadi temanmu. Lebih dari itu, aku tidak mampu. Aku tidak bisa karena aku tidak mampu.
Aku dan temanku ini bersaing terbuka. Kami saling berbagi satu sama lain tentangmu. Kami menjadi dekat karenamu. Dia gadis yang cantik. Dengan tubuh kecil nan mungil. Wajahnya sama rupawan dengan parasnya. Kulitnya kekuningan dengan sikapnya yang menyenangkan. Dia sering bercerita padaku bagaimana sikapmu terhadapnya. Ya, kau tahu dia menyukaimu namun kau acuh. Sedikitpun kau tidak punya perasaan padanya. Setidaknya seperti itulah yang dia ceritakan padaku.
 Saat aku menanyakannya langsung padamu, kau bilang kau masih menyukai teman sejak kecilmu. Seorang teman yang lembut hati dan tuturnya. Seorang teman yang membuatmu bertekad tetap berada di depan gawang karena dia menyukainya. Lalu bagaimana kabar temanku? Ya, seperti gadis yang entahlah, patut untuk dikasihani karena telah kau sakiti hatinya yang lembut. Difikiranku muncul pertanyaan, kenapa kau tidak menyukainya? Kami berjanji satu sama lain, jika ada salah satu diantara kami yang berhasil terbalaskan perasaannya, kami harus saling berbagi. Dan apabila saat itu tiba, kami harus saling mengerti. Awalnya aku hanya mengira itu mimpi yang kami kembangkan bersama agar bisa saling menguatkan. Awalnya aku mengira dia mengucapkannya untuk hiburan semata. Sampai akhirnya aku mengetahui semuanya.
Siang itu, saat jam istirahat berlangsung. Tidak terasa sudah diakhir masa sekolahku menjadi siswi menengah pertama. Aku sudah tidak lagi menomorsatukan urusan hati, yang terpenting adalah studiku. Aku terbiasa berkumpul dengan teman-temanku, namun siang itu partner bergosipku tentang kamu tidak ada. Entahlah, aku tidak tahu dia kemana. Kami sudah tidak lagi dekat karena kesibukan belajar yang memaksa kami untuk terus fokus pada ujian akhir.
Tenggorokanku haus sekali, kebetulan baru saja sekolahku mengadakan jumat bersih. Aku mengajak salah satu dari mereka untuk menemaniku mengambil minuman. Tapi tidak ada yang mau. Terpaksa aku mengambilnya sendiri. Aku berjalan melewati kelas-kelas yang mulai sepi. Banyak dari para siswa berkumpul di kantin ataupun halaman tengah. Jarang sekali ada yang masih mau tinggal di kelas saat acara bersih-bersih selesai. Takut mengotori kelas katanya.
Kelasmu berada di seberang kelasku. Sepertinya aku merindukanmu. Aku memutuskan untuk melangkahkan kakiku menuju kelasmu. Aku ingin melihat bangkumu. Seperti itu saja sudah cukup untukku memadamkan rinduku padamu. Senyumku tersungging dengan hanya memikirkanmu. Sudah lama aku tidak melihatmu berdiri di depan gawang kebanggaanmu. Sudah lama aku tidak melihatmu berlatih di lapangan sebelah saat sore hari. Hei! Kau ada di dalam ternyata, sontak aku merasa wajah dan tubuhku ringan. Bolehkan aku berlari kepadamu dan mengatakan bagaimana kabarmu? Hehehe...tidak, aku hanya bisa melangkahkan kaki dengan pelan untuk mengagetkanmu. ternyata, kalianlah yang memberikan kejutan padaku.
Bayangan itu tidak mau hilang dari kepalaku. Aku enggan bercerita kepada siapapun karena aku tidak mau mengingatnya. Aku tidak ingin diriku membencimu karena kejadian itu. Dan saat ini, rumor tentang kalian berdua tersebar. Rumor kalau kalian berdua berpacaran. Sedangkan dia tidak mengucapkan apapun kepadaku. Lalu apa gunanya janji yang dia buat dulu? Bukankah saat ini aku terlihat sangat menyedihkan dan patut untuk dikasihani? Aku membenci hal itu.
Saat itu, suatu kejadian yang tidak pernah bisa aku lupakan...
Aku mengendap-endap untuk mengagetkanmu dari pintu kelas. Perlahan mendekati mu dengan memantau dari ujung cendela yang tirainya tersingkap. Merapikan rambut yang jatuh menjadi poni, sampai ada seseorang yang terlihat ada di depanmu. Itu dia, temanku yang menyukaimu. Orang yang membuatmu bercitra buruk di depan warga sekolah. Orang yang kau bilang kau hanya baik padanya karena dia sangat baik padamu. Orang yang menjanjikan padaku akan memberitahuku saat ia sudah berhasil mendapatkanmu. Dan sekarang, sepertinya kau sudah menjatuhkan hatimu pada dia. Aku menyunggingkan senyum dan berusaha memahami kalau batu akan berlubang karena tetesan air secara terus-menerus. Aku mengucapkan selamat untuk kalian berdua. Hingga wajah kalian berdua saling bedekatan dan kau menciumnya. Aku yakin jantungku sempat berhenti sebentar saking kagetnya aku melihat kejadian ini. Kalian berdua, di ruang kelas, di sekolah, dan tepat di depan mataku. Aku tidak pernah melihatnya secara langsung. Apalagi melihat orang yang aku sukai, dengan orang yang pernah menjadi tempat berbagi cerita tentangmu.
Sejak itu, kau menjadi nol di mataku. Aku tidak peduli. Aku sudah cukup kecewa melihatmu seperti itu. Aku terlalu awam untuk hal itu. Aku hanya gadis lugu yang pergaulannya hanya sebatas itu-itu saja menilaimu terlalu tinggi. Entahlah...aku hanya kecewa padamu. Bukan karena kau memilih dia ketimbang aku. Bukan karena kau hanya menganggapku selingan tong sampah untuk membuang gratisan sms. Bukan karena kau hanya menyalamiku saat pertahanan yang kau lakukan luar biasa. Bukan, bukan karena itu. Aku kecewa dan sejak itu, aku tidak mau mengerti apapun tentangmu, tentang dia dan tentang kalian. Saat dia kembali menghubungiku untuk meminta maaf saat kalian berdua putus beberapa minggu kemudian, aku tidak peduli. Pun saat kau kembali menanyakan kabar aku berhasil melanjutkan sekolah di mana, aku hanya menanggapinya dengan malas-malasan saja.
Sakit memang saat kita menyukai seseorang dan hal itu hanya sebelah tangan. Segala tindakan darimu yang sebenarnya normal dan tidak ada yang istimewa, seakan menjadi istimewa. Segala yang keluar dari dirimu terasa respon yang baik padaku. Semua perhatian yang aku yakin hanya basa-basi saja seakan menjadi percikan harapan untukku. Segala hal yang terjadi terasa seperti tanda bahwa kau juga menyukaiku walau itu sedikit. Saat itu aku tahu kau tidak punya perasaan padaku, tapi keyakinanku juga tidak kalah besar jika kau perlahan mulai menyukaiku. Itulah kesalahan fatalnya. Aku terjebak dalam bayang-bayang perasaanmu padaku. Halusinasiku terlampau tinggi tentang perasaanmu padaku. Hahaha, aku memang gadis bodoh yang tidak sadar akan keadaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar