Senin, 18 Maret 2019

Ada satu hal yang ingin ku tanyakan


Hai cinta, apa kabar?
Papilaku sepertinya mogok kerja bersama lambung dan system pencernaanku yang lainnya
Pun syarafku
Mereka terus-terusan mengirimkan sinyal rasa “sakit” padahal tidak ada yang bermasalah
Mungkin mereka sedang protes padaku ya
Agar jangan lagi terlalu percaya
Pada lidah siapapun, karena mereka tulang saja tidak punya
Atau mungkin protes pada organ pemfilterku
Yang bahkan menyaring janjimu pun ia tak mampu

Hai cinta, apa kabarmu dan cintamu yang baru?
Aku masih ingat bagaimana hebatnya perasaanmu padaku
Akupun ingat hangatnya pelukanmu pada hidupku
Apalagi janjimu yang tak akan pernah mau membuatku menangis lagi
Tidak kusangka justru kau sendiri yang memerasnya habis-habisan dari kelenjar air mataku

Hai cinta, bagaimana ia memanggilmu sekarang?
Aku memanggilmu cinta sejak kita belum berurusan dengan “cinta”
Sejak kamu masih berbagi cerita tentang cita-cita dan kisah cintamu
Saat dalam sepertiga malam kau kirimkan ucapan selamat ulang tahun padaku
Dan kau katakan, aku akan selalu cantik dan menawan dalam apapun kondisiku
Lalu tiba-tiba kau marah dan tidak ingin mulutku mengucapkan namamu, cinta

Ah, tapi memang ini salahku ya
Siapa yang masih terus cinta ketika sudah memutuskan tak mau lagi berhubungan?
Selalu seperti itu, aku
Berlagak lari namun nyatanya tak pernah pergi
Tak pernah sedikitpun menghapus memori yang mungkin milikmu telah tertelan bumi
Saat kau bilang bahwa kau mencintainya dengan seluruh jiwamu
Ada satu hal yang ingin aku tanyakan
Apakah dengan gadis cengeng ini kau tak pernah mencintainya dengan seluruh jiwamu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar