Hai cinta, apa kabar?
Papilaku sepertinya mogok kerja bersama lambung dan system pencernaanku
yang lainnya
Pun syarafku
Mereka terus-terusan mengirimkan sinyal rasa “sakit” padahal
tidak ada yang bermasalah
Mungkin mereka sedang protes padaku ya
Pada lidah siapapun, karena mereka tulang saja tidak punya
Atau mungkin protes pada organ pemfilterku
Yang bahkan menyaring janjimu pun ia tak mampu
Hai cinta, apa kabarmu dan cintamu yang baru?
Aku masih ingat bagaimana hebatnya perasaanmu padaku
Akupun ingat hangatnya pelukanmu pada hidupku
Apalagi janjimu yang tak akan pernah mau membuatku menangis lagi
Tidak kusangka justru kau sendiri yang memerasnya
habis-habisan dari kelenjar air mataku
Hai cinta, bagaimana ia memanggilmu sekarang?
Aku memanggilmu cinta sejak kita belum berurusan dengan “cinta”
Sejak kamu masih berbagi cerita tentang cita-cita dan kisah
cintamu
Saat dalam sepertiga malam kau kirimkan ucapan selamat ulang
tahun padaku
Dan kau katakan, aku akan selalu cantik dan menawan dalam
apapun kondisiku
Lalu tiba-tiba kau marah dan tidak ingin mulutku mengucapkan
namamu, cinta
Ah, tapi memang ini salahku ya
Siapa yang masih terus cinta ketika sudah memutuskan tak mau
lagi berhubungan?
Selalu seperti itu, aku
Berlagak lari namun nyatanya tak pernah pergi
Tak pernah sedikitpun menghapus memori yang mungkin milikmu
telah tertelan bumi
Saat kau bilang bahwa kau mencintainya dengan seluruh jiwamu
Ada satu hal yang ingin aku tanyakan
Apakah dengan gadis cengeng ini kau tak pernah mencintainya
dengan seluruh jiwamu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar