Selasa, 19 Maret 2019

aku pada Januari 2016


Kehilanganmu tak semudah itu aku menerimanya.
Karena ini kesalahanku  yang sempat meninggalkanmu dalam kegelapan.
Aku lupa ini bukan drama, dimana ada yang akan mampu bertahan selama dan semenyakitkan bagaimanapun itu.
Karena ini kehidupan, dimana selalu ada pilihan yang harus segera diputuskan.
Aku lupa kalau tidak semua orang seperti aku, yang mampu bertahan pada keadaan tidak menyenangkan.
Aku lupa kau bukan aku, yang akan dengan senyuman menerima kembali orang yang jelas-jelas telah sering menyakiti.
Senyumanmu kau pilih untuk berikan padanya. Bukan aku tidak rela, hanya saja aku tidak biasa.
Aku terbiasa menerima cinta dan hatimu yang belum pernah kau berikan pada orang lain.
Aku terbiasa ada di fikiran dan hatimu saat semua orang menginginkanmu.
Tapi dia yang mampu menyembuhkan lukamu.
Saat kau membutuhkan transfusi darah, aku hanya tertawa sambil membungkus darahku dengan pita yang cantik dan menunggu waktu yang tepat.
Tanpa memikirkanmu yang sekarat membutuhkan darahku. Lalu ia datang.
Membawa berkantung-kantung penuh darah yang siap ditransfusikan padamu. Kau tertolong, jiwamu selamat, dan cinta padanya tersemat.
Setelah semuanya berjalan, aku datang. Membawa sekantung penuh darah yang terbungkus rapi dan masih segar. Tapi untuk apa? Sudah tak berguna


Tidak ada komentar:

Posting Komentar