Kehilanganmu tak semudah itu aku menerimanya.
Karena ini kesalahanku yang sempat meninggalkanmu dalam kegelapan.
Aku lupa ini bukan drama, dimana ada yang akan mampu
bertahan selama dan semenyakitkan bagaimanapun itu.
Karena ini kehidupan, dimana selalu ada pilihan yang
harus segera diputuskan.
Aku lupa kalau tidak semua orang seperti aku, yang mampu
bertahan pada keadaan tidak menyenangkan.
Aku lupa kau bukan aku, yang akan dengan senyuman
menerima kembali orang yang jelas-jelas telah sering menyakiti.
Senyumanmu kau pilih untuk berikan padanya. Bukan aku
tidak rela, hanya saja aku tidak biasa.
Aku terbiasa menerima cinta dan hatimu yang belum pernah
kau berikan pada orang lain.
Aku terbiasa ada di fikiran dan hatimu saat semua orang
menginginkanmu.
Tapi dia yang mampu menyembuhkan lukamu.
Saat kau membutuhkan transfusi darah, aku hanya tertawa
sambil membungkus darahku dengan pita yang cantik dan menunggu waktu yang
tepat.
Tanpa memikirkanmu yang sekarat membutuhkan darahku. Lalu
ia datang.
Membawa berkantung-kantung penuh darah yang siap
ditransfusikan padamu. Kau tertolong, jiwamu selamat, dan cinta padanya
tersemat.
Setelah semuanya berjalan, aku datang. Membawa sekantung
penuh darah yang terbungkus rapi dan masih segar. Tapi untuk apa? Sudah tak
berguna
Tidak ada komentar:
Posting Komentar