Kamis, 28 Desember 2017

Surat cinta akhir tahun

Kau tahu rasanya lelah dan menyerah?
Kau tahu rasanya sakit karena bertepuk sebelah tangan dalam jangka waktu yang lama? Kau tau rasanya diabaikan dan dilupakan? Kau tau rasanya dianggap angin lalu? Kau tau rasanya dibuang dan tidak diingat bahkan dengan janji yang orang lain berikan padamu?

Di posisinya

Rindu itu berat, semua orang tahu itu.
Berjuang sendirian apalagi, ditambah dengan bertahan atas perasaan yang hingga kini tak terbalaskan.

Tapi semua itu jauh lebih berat, tatkala bersamaan dengan seseorang yang kamu tau dia menyukaimu juga berada di posisi seperti itu karenamu.
Kau mengabaikan perasaannya demi perasaanmu untuk sosok yang bahkan tidak tergapai.
Kau membuatnya berada di posisimu demi kegilaanmu pada yang lain.
Kau tahu itu menyakitkan, dan kau memposisikan orang lain berada di sana juga.
Rasanya pasti semakin berat, dihantui rasa bersalah dan keegoisan secara bersamaan.
Tidak bisa mengalah pada keadaan dan menyerah berjuang.

Semua berkata lebih baik dicintai daripada mencintai.
Tapi realitanya tidak, setiap orang menikmati mencintai dan tetap bertahan untuk itu.
Meskipun jelas itu akan menyakitkan, bahkan tak akan luput dari luka atau kekecewaan.

Minggu, 26 November 2017

Rindu saat itu

Apakah merindukanmu termasuk dalam salah satu dosa besar?
Kalau memang ya, biarkan aku berdosa karena rinduku.
Bahkan hingga pekat malampun tak mampu menahan gejolak pikiranku.
Apa kabarmu sejak terakhir kali kita bertemu?
Aku sedikit menyesal mengabaikan telfonmu di sepertiga malam terakhir kita.
Aku tidak punya cadangan duplikat raga ataupun tawamu lagi.
Jika boleh, aku ingin untuk sekali ini biarkan aku kembali lagi mengabadikan setiap hembus nafasmu, setiap degup jantungmu, setiap suara lembutmu, dan semua senyuman serta tawa indahmu.
Aku rindu kamu. . .

Aku kembali merindu
Saat mereka bicara tentang pesona
Fikiranku langsung mengingatmu
Pesonamu yang mampu membuat akal sehatku berhenti sejenak
Aku rindu dengan kerlingan nakalmu
Aku candu dengan tawa dan suaramu
Aku rindu~

3 Juli 2017

Sejak 3 juni, tepat setelah aku memutuskan untuk tidak lagi mengangkat telfonmu hingga meninggalkan 4 missedcall yang terkadang masih aku sesali karena tidak mengangkatnya, kamu datang di setiap malamku. Dengan wajah cerah dan tampanmu yang mampu menepiskan logikaku, kamu selalu memantik lagi perasaanku ini. Hingga sekitar banyak hari lamanya, kamu tidak pernah absen senalam pun dari mimpiku. Aku lelah, hingga berharap dan memutuskan untuk tidak mengizinkanmu meski sekedar mampir dalam mimpiku. Namun, saat kamu sudah tidak lagi menjengukku lewat mimpi, aku rindu.

Malam ini, datanglah dalam mimpiku. Ada yg ingin aku sampaikan kepadamu. Tentang rasa ini, yg perlahan mengokoh tanpa bisa aku tumbangkan.
Esok malam, datanglah kembali. Ada yg ingin aku beritahukan kepadamu. Perihal luka yg sempat kau goreskan, perlahan terkuak lagi meninggalkan perih.
Teruslah kembali, lagi dan lagi hingga luka iki tak berarti dan rasa ini mati.

Rabu, 04 Januari 2017

Selamat, terimakasih dan jangan pernah kembali.



Kemarin ini, ada seseorang dari masa lalu yang kembali hadir. Seseorang yang hadir kembali untuk keberapa kalinya. Seseorang yang pertama kali memasuki kehidupanku. Seseorang yang membuatku mengerti bagaimana rasanya sebuah kehilangan. Ya, dia kembali lagi setelah puas memaki dan meninggalkanku beberapa saat lalu. Ia kembali lagi saat hatinya butuh pelarian dari sebuah hubungan yang baru berakhir. Ya, dia baru putus dengan kekasihnya.

Selasa, 03 Januari 2017

sepertimu...

Aku iri pada mereka yang bisa menahan diri untuk tidak memasuki masa lalu lagi. Aku ingin seperti mereka yang bisa gigih menolak kedatangan seseorang kembali. Aku ingin bisa berjalan lurus ke depan tanpa menoleh padamu lagi. Aku berandai-andai bisa kembali menatapmu tanpa hatiku berdebar-debar kembali.