Minggu, 26 November 2017

Rindu saat itu

Apakah merindukanmu termasuk dalam salah satu dosa besar?
Kalau memang ya, biarkan aku berdosa karena rinduku.
Bahkan hingga pekat malampun tak mampu menahan gejolak pikiranku.
Apa kabarmu sejak terakhir kali kita bertemu?
Aku sedikit menyesal mengabaikan telfonmu di sepertiga malam terakhir kita.
Aku tidak punya cadangan duplikat raga ataupun tawamu lagi.
Jika boleh, aku ingin untuk sekali ini biarkan aku kembali lagi mengabadikan setiap hembus nafasmu, setiap degup jantungmu, setiap suara lembutmu, dan semua senyuman serta tawa indahmu.
Aku rindu kamu. . .

Aku kembali merindu
Saat mereka bicara tentang pesona
Fikiranku langsung mengingatmu
Pesonamu yang mampu membuat akal sehatku berhenti sejenak
Aku rindu dengan kerlingan nakalmu
Aku candu dengan tawa dan suaramu
Aku rindu~

3 Juli 2017

Sejak 3 juni, tepat setelah aku memutuskan untuk tidak lagi mengangkat telfonmu hingga meninggalkan 4 missedcall yang terkadang masih aku sesali karena tidak mengangkatnya, kamu datang di setiap malamku. Dengan wajah cerah dan tampanmu yang mampu menepiskan logikaku, kamu selalu memantik lagi perasaanku ini. Hingga sekitar banyak hari lamanya, kamu tidak pernah absen senalam pun dari mimpiku. Aku lelah, hingga berharap dan memutuskan untuk tidak mengizinkanmu meski sekedar mampir dalam mimpiku. Namun, saat kamu sudah tidak lagi menjengukku lewat mimpi, aku rindu.

Malam ini, datanglah dalam mimpiku. Ada yg ingin aku sampaikan kepadamu. Tentang rasa ini, yg perlahan mengokoh tanpa bisa aku tumbangkan.
Esok malam, datanglah kembali. Ada yg ingin aku beritahukan kepadamu. Perihal luka yg sempat kau goreskan, perlahan terkuak lagi meninggalkan perih.
Teruslah kembali, lagi dan lagi hingga luka iki tak berarti dan rasa ini mati.