Senin, 03 Maret 2025

Banyuwangiku yang berlalu selesai

Mas Tama - 15.50

Bil, mau beli buka? Sebentar lagi aku selesai, mandi terus ke sana ya


Aku tersenyum melihat notif chat dari atas, segera aku iyakan sambil bersiap membereskan barang-barangku yang tidak seberapa ini. Sampai tidak terasa hidungku mencium aroma parfum mas Tama, disusul dengan suaranya yang mengucap salam sambil mengetuk pintu. Saat melihatnya dengan rambut masih basah, tanda dia langsung kesini setelah mandi, aku semakin menertawakan diriku yang masih saja menyukainya beberapa tahun terakhir. 


Mas Tama mengantarkanku sejam lebih awal jadi jadwal kereta. Kami mengambil tempat di taman depan pintu masuk, sambil duduk di tembok kecil tanpa atap. Mas Tama membantuku melepas helm karena tiba-tiba saja kaitannya macet. Hei, aku tidak sedang modus dengan dia ya.

"Anak-anak mau ngajakin ketemu lagi mas. Kebetulan ada buber angkatan, mas ikut?"

"Kapan tuh acaranya Bil?" 

"Sekitar tanggal 13 kalo jadi. Bubernya tanggal segitu soalnya"

"Jadi kalian buber, terus habis buber ketemu sama aku juga nongkrong seperti biasa" aku mengangguk

"Tapi kalau mas Tama ikut, buber sama aku aja gapapa kok. Aku gaikut buber angkatan" jawabku sambil tertawa

"Hei, mana ada seperti itu. Nggak lah, kamu buber aja gapapa. Aku nanti bisa nyusul kan"

"Hadeh aku tuh malas tau mas mau buber sama anak angkatan. Bukan apa tapi kayak gaada feelnya. Mending buber sama mas Tama aja ya kan" ganti dia yang tertawa. Aku selalu suka mendengar tawanya, suaranya, semuanya.

"Lihat dulu ya nanti Bil. Sepertinya itu hari Sabtu ya. Mungkin bisa, tapi nanti aku kabari lagi"

"Mas Tama emang ga kangen sama aku?" Dia tergelak sambil geleng-geleng kepala

"Lah ini dari kemaren juga ketemu"

"Ih maksudku gak gituuuu. Eh betewe kalau mas Tama mau, bisa kok nanti Hilya diajak gabung" dia terkekeh

"Never mind, apa tiba-tiba bahas Hilya" dia tertawa

"Loh bukannya mas sempet ada something sama Hilya?"

"Nggak lah, ngapain" jawabnya cepat

"Ih waktu itu gosipe gitu"

"Dira? Dia kamu percaya loh Bil" mas Tama menegakkan badannya

"Tapi katanya mas Tama minta kenalin sama minta nomornya Hilya ke Putri"

"Iya itu gara gara kalah main Uno sama Dira. Itupun juga aku ga apa-apain nomornya sampai sekarang"

"Kenapa?" Aku menghadapkan seluruh tubuhku ke dia

"Apanya kenapa?"

"Mas tau kan kalau aku suka sama mas?" Aku menggigit pipi dalamku dan menahan nafas

"Tau kok" jawabnya sambil tersenyum

"Lalu?"

"Yaa itu hak kamu sebagai manusia, punya kuasa apa aku mau mengatur-atur perasaan seseorang kan"

"Mas gak suka sama aku?" Ah aku pasti gila membiarkan mulutku meracau sendiri

"Suka, kalau gak suka kita gak bakal berteman seperti ini kan" dia menatapku, lalu tersenyum

"Mas sedikitpun, pernah gak suka sama aku tanpa embel-embel teman?" Dia terdiam, lalu menatap bangunan di depan kami

"Bila, kamu tau gak kalau hubungan yang abadi adalah pertemanan?"

"Berarti gak pernah ya?" Dia diam "kalau kemungkinan mas Tama bakal suka aku bukan sebagai teman ada gak?"

"Hei, pertanyaanmu kenapa sulit sekali"

"Aku, cuma mau memastikan mas. Aku takut kalau aku terlanjur moveon dari mas, ternyata mas pernah punya perasaan sedikit saja ke aku. Aku gak mau sisa hidupku dipenuhi dengan penyesalan karena gak tanya ke mas langsung"

"Kita tidak tahu takdir akan membawa kita ke mana Bil"

"Aku tau, tapi yang aku tanyakan perasaan mas sekarang. Menurut mas, selama ini atau bahkan ke depannya apakah ada kemungkinan sedikiiiiiit aja. Meskipun hanya percikan, bukan kobaran. Mungkin gak mas punya perasaan ke aku?" Dia membalas tatapanku, sambil menghela nafas

"Maaf bila"

"Gapapa mas, aku lebih suka mas terbuka dan gamblang aja jawabnya. Aku janji kita tetep teman dan aku juga gk bakal secepat itu buat bisa moveon dari mas" aku tertawa

"Tapi aku gak mau menyakiti kamu Bil" tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa keretaku sebentar lagi akan datang.

"Mas, ini terakhir kali aku berharap jawaban jelas dari mas. Sepulang dari sini, biar semuanya selesai di Banyuwangi saja, termasuk patah hatiku" aku tertawa sambil berdiri. Mas Tama menyusulku, membersamai langkahku. "Jadi?" Tanyaku lagi sebelum menghampiri boarding tiket

"Bila, I care about you. But I don't think I'll ever feel romantically about you. I'm sorry Bila" setelahnya, aku tersenyum sambil berterimakasih padanya dan berbalik menuju tempat boarding tiket. Dari dalam, aku masih bisa melihatnya tersenyum sambil melambaikan tangannya kepadaku. Tiba-tiba saja, hatiku merasa sedih. Seolah suara kereta menjadi pengingat bahwa setelah ini, cerita yang tak ada ujungnya harus diselesaikan sebelum aku meninggalkan kota ini, meninggalakan mas Tama yang mengawasiku dari balik kaca. Aku sekali lagi menoleh dan melambaikn tangan padanya, sembari berjalan menuju gerbong kereta yang sudah siap membawaku keluar dari Banyuwangi.


Bisakah aku selesai dengan perasaanku untuknya dan membiarkan segalanya tertinggal di Banyuwangi? Bisakah aku meninggalkan hal-hal yang sudah masuk dalam list kenangan yang berkesanku menjadi Banyuwangiku yang berlalu? 

Banyuwangiku yang berlalu 2

Masih ingat kali pertama pertemuan kami di perpustakaan universitas. Pada sore itu, hujan deras di siang hari. Aku yang malas pulang kost, memutuskan berjalan menuju perpustakaan universitas. 

Lumayan sambil cari referensi dan juga menunggu hujan reda. Terimakasih untuk bu Desy, dosenku yang pernah memberi tugas terkait kesejahteraan lansia pada rumah singgah. Kalau tidak karena tugas esainya, aku tidak akan bertemu dan mengenal mas Tama. Aku menuju rak di ujung kanan yang berisi buku-buku tentang sosiologi, mencari buku pengantar sosiologi lansia karangan prof Damsar. Terdiam cukup lama karena harus menyisir satu persatu rak besar berisi 7 susun dengan ratusan buku di dalamnya. Sambil memegang kertas catatan kecil berisi kode buku yang aku temukan pada komputer perpustakaan tadi. Diujung rak, ada seseorang dengan kemeja flanel biru sedang menyisir buku. Sedangkan kode 781 tepat di depannya. Belum sempat aku menyapa, dia menoleh.

"Eh sorry, silahkan" dia bergeser memberi ruang agar aku bisa masuk. Aku mengucapkan terimakasih dan mengangguk. 

"Cari buku apa? Mungkin bisa tak bantu" sepertinya dia bosan melihatku celingukan mencari buku. Aku menoleh sambil tersenyum karir, buku ditangannya menarik perhatianku. Ternyata buku yang aku cari dari tadi sedang bertengger manis di pelukannya.

"Hehehe itu mas" aku menunjuk buku yang dia peluk

"Lah, gak bilang dari tadi. Nih" dia tertawa lirih

"Ya ndak tau juga kalo lagi mas baca" ternyata, gerbang hatiku mulai terbuka setelahnya. Dari sana aku tahu bahwa mahasiswa itu adalah kakak tingkat dari kota sebelah. 

"Kamu FKM 14 ya, aku punya temen namanya Dira. Tau?"

"Lah, Dira mah bestieku mas. Ini aja nanti malem mau bikin tugas bareng"

"Wah, boleh gabung ga?"

"Ih ayo, ayook. Sama beberapa temenku yang lain juga tapi. Gapapa ya?" dan malam itu, mas Tama mengantarku pulang ke kos. 


Liburan kali ini, aku dan teman-temanku akan mendaki Ijen dan berkeliling Banyuwangi. Dira mengajukan rumahnya untuk menjadi basecamp selama liburan. Kami sepakat untuk hari pertama akan ke Teluk Ijo dan menyaksikan sunset di Pulau merah. Hari kedua naik ke Ijen dan sisanya menikmati kuliner Banyuwangi. 

"Iki lo mas Tama bawa jajan banyak" Dira berteriak sambil menaruh kresek makanan

"Wih mas Tama habis cair niiiih" Putri tanpa basa-basi menerima kresek dari mas Tama

"Kebetulan baru tadi selesai. Dapet gift banyak, ini ada kitkat matcha juga. Bila suka matcha kan?" Aku girang, sedikit ge-er karena mas Tama ingat sedikit hal tentang aku

"Rasa suket seng doyan emang cuma Bila" aku meninju pelan lengan Keenan yang mengejekku. Ah benar juga, bukan yang sulit diingat oleh siapapun. Tidak perlu ge-er Bila


Aku menikmati hembusan angin, sambil sesekali mengabadikan langit oranye  kemerahan yang nenyelimuti pulau kecil di seberang. Menoleh sekitar, Dira sibuk dengan Vani sedangkan Keenan dengan Putri. Dan mas Tama, duduk tenang sambil memandang langit.

"Mas Tama, fotoin aku boleh gak?" Aku berlari kecil mendekatinya

"Boleh, pakai hpku atau hpmu?" Aku sedikit kaget, lalu menimbang sejenak

"Coba satu-satu aja ya? Kalo bagus punya mas pinjem hp mas Tama boleh kan?" Aku meringis sambil memberikan hpku. Beberapa kali take, dan ternyata hasilnya kebih bagus dari hp mas Tama

"No offense ya, tapi lebih bagus pakai hpku aja" katanya, dan aku mengangguk menyetujuinya. Kembali aku berpose sampai aku melihat mas Tama tersenyum sendiri. Salting membuatku tiba-tiba mati gaya.

"Sini gantian mas, aku fotoin"

"Eh ga perlu Bila, aku gabisa foto"

"Ih sayang tau mumpung bagus banget ini langitnyaa" mau tidak mau mas tama meninggalkan hpnya dan mulai berdiri pada tempatku tadi.

"Ih cakep bangeeeeet, cocok sama orangnya juga" aku menggoda mas Tama sambil menunjukkan foto terbaik menurutku

"Makasih ya Bila" katanya sambil mengirim foto-fotoku

"Ih aku yang makasih banyak. Maaf merepotkan" kami berjalan beriringan menuju yang lain. Sambil sedikit mendengarkan cerita soal pekerjaan freelancenya sebagai translator kemarin. Entah kenapa, suasananya menjadi jauh lebih indah dan menyenangkan saat ngobrol dengannya.


Hari ini Putri berulang tahun, seperti tradisi tidak tertulis kami, akan ada acara makan-makan di warung ayam penyet om Boy. Kebetulan kemarin mas Tama selesai menggelar ujian hasil skripsinya, maka akan ada dua perayaan hari ini. Aku, Vani, Dira dan Keenan sedang memilih kue untuk Putri dan mas Tama. 

"Tiramisu aja nih" tunjuk Keenan

"Mas Tama lambungnya gak kuat kopi" jawabku

"Nih blackforest aja. Mantap coklate gede gede"

"Nggak makan coklat tapi" jawabku

"Ha?" Mereka menoleh

"Hehe, mas Tama gak makan cokelat" aku meringis

"Waduh hafal betul seperti calon istri" aku memukul pelan lengan Dira

"Ini aja piye? Millecrepes yang 8 slice campur rasanya. Jadi bisa milih rasa masing-masing" usulku yang langsung disetujui dan mereka berebut memilih rasa. 


"Am I also being celebrated?" Tanya mas Tama sambil mengambil potongan blueberry cheesecake, pilihanku yang aku tahu akan menjadi faforitnya.

"Yoi, kan situ part of our colonies sekarang" jawab Vani ketika makanan mulai datang

"Aduh lupa ngomong kalau punyaku gak pedes" kata mas Tama saat melihat piring piring dengan sambal menumpuk mulai dihidangkan

"Udah kok mas. Ayam panggang tanpa cabe, minumnya teh anget. Tak pesenin teh anget soale aku beli air putih belum tak buka kalau mas mau minum air putih juga" jawabku. Keningnya sedikit berkerut tanda terkejut, tapi sambil tertawa

"Aku gak ekspek kamu tau yang mau tak pesen" aku tertawa

"Apa sih yang nggak aku tau kalau buat mas" dia tertawa sambil berterimakasih dan mengambil piringnya. Aku memperhatikan sambil tersenyum, hehehe simulasi calon yang baik ini mas. Kataku dalam hati.


Besok, hari yang ditunggu-tunggu oleh mas Tama. Pun olehku, hehe. Pasalnya, perjuangan mas Tama mengejar kelengkapan berkas untuk wisuda didampingi oleh aku dan yang lainnya. Selain waktunya yang singkat, dosen pembimbing yang hampir tidak pernah ada di tempat membuat kami sering menemani mas Tama di gedung kampusnya. Sejak siang aku memilih baju mana yang layak untuk dikenakan dalam acara wisuda mas Tama. Pilihanku jatuh pada dress hitam bermotif bunga matahari. Aku mengambil paperbag hitam dan kotak kado berwarna maroon. Aku letakkan hasil sulaman kristik yang menyita seluruh perhatianku sebulan terakhir. Dengan tulisan happy graduation mas Tama, dan siluet lelaki memakai toga, aku letakkan hati-hati di dalam kotak. Ah, aku sudah siap menemui mas Tama yang aku yakin akan terlihat sangat mempesona memakai baju toganya.


"Mas, aku kok ga ngerti ini plagiasinya ga turun turun" keluhku diujung telefon

"Ganti saja diksinya Bila, coba kamu bacakan yang mulai tadi ga nemu parafrasenya"

"Lansia merupakan salah satu kelompok masyarakat yang rentan mengalami penurunan kesehatan dan kualitas hidup" aku membacakan salah satu paragraf pada proposal penelitianku

"Em coba ganti gini usia lanjut seringkali diikuti dengan penurunan kesehatan dan kualitas hidup" aku mulai mencatatnya

"Enak ganti vc aja gak sih mas?" Aku berbaring, mendengarkannya tertawa

"Hahahaha lak kamu seng pengen kalo itu. Gak jadi garap ntar" aku merengut, sambil membenarkan prasangka mas Tama diujung sana

"Mas, kalau aku sempro dateng gak?" 

"Wah gak tau ya Bil. Emang kapan?"

"Hehe, doain aja dulu" lagi-lagi suara tawanya membuatku ikut tersenyum

"Waaah aku kira sudah keluar jadwalnya, soale kamu udah ngundang aku"

"Hahahaha belum ee. Masih nyantol bab 1 ini munyer terus gara2 kalimate jelek. Butuh banyak parafrase"

"Yasudah kamu selesaikan dulu proposalmu, biar bisa segera sempro"

"Tapi mas dateng kan? Kalo mas dateng semangat nih aku garap sempronya"

"Hahaha, dont count on me Bil"

"Tapi aku pengen banget mas dateng ih"

"Nanti kalau ada waktu libur, coba aku lihat dulu, tapi gak janji ya. I'm not promising anything Bila" suara tegasnya, membuatku begidik dengan kupu-kupu yang beterbangan dalam perut


Ternyata benar, mas Tama benar-benar tidak bisa hadir dalam semproku. Sepertinya dia repot, karena aku pun tidak lupa mengabarinya pagi tadi.

Bila

06.45

Halo, semoga hari ini lancar yaa. Semproku semoga gak banyak revisi dan kendala. Wish me luck mas


Meskipun tidak terbalas hingga aku masuk ruang ujian. Baru setelah keluar ruangan, ternyata ada satu pesan dari mas Tama

Mas Tama

08.30

I'm rooting for you. Good luck, Bila. Allohumma solli 'alaa muhammad


Bila

09.00

Revisi dikit, tapi lainnya lancar. Beneran ga dateng yaa


Aku meletakkan handphone dan mulai sibuk merayakan euforia. Hingga matahari mulai di atas kepala, sosok mas Tama benar-benar tidak muncul. 


Mas Tama sudah tahu tentang perasaanku untuknya, aku yakin itu. Tidak terhitung berapa kali aku mengucapkannya dengan mudah, atau dari pertanyaan blak-blakan teman-temanku saat kami sedang bersama. Hebatnya, dia bisa tetap biasa saja sambil menimpali gurauan ini tanpa merubah sikapnya padaku. Kami masih bisa tetap saling tertawa dan hangout bersama tanpa canggung. Setidaknya sampai sebelum hari ini. Malam saat bulan puasa terakhir sebelum kami lulus. Entah kenapa, atau hanya perasaanku saja. Mas Tama seperti sengaja menghindari tatapanku. Aku menghitungnya, dia hanya menatapku 1-2 kali. Bahkan saat aku ngobrol, dia masih menimpali tapi seperti enggan menatapku. Sekali lagi aku mengingat obrolan kami sebelum ini, apakah aku punya salah? 


Aku, Putri dan Vani sedang rebahan di kos Vani. Sekedar menunggu sore karena kami akan buber di rumah Keenan. 

"Bil, ini aku denger dari Dira sih gatau bener atau nggak. Doi kan sering asbun" Vani memulai pembicaraan sambil menyetrika bajunya.

"Apa tuh?" Sela Putri penasaran. Aku merubah posisi membaca sambil tengkurap sambil menghadap Vani

"Mas Tama suka sama Hilya, katanya sempet minta nomore ke Putri" aku menutup buku, Putri langsung berdiri

"Hah seriusan? Aku kira itu mek bercanda. Makanya nanti pas buber ini mau tak ceng-cengin"

"Nek kata Dira seh bener, ketemu pas Dira sama mas Tama lagi di rektorat. Waktu mas Tama nganterin Dira ngurus berkas wisuda"

"Aaaah Bilaaa jangan sediiiih, pasti mas Tama cuma bercanda" Putri memelukku, aku tertawa

"Ya gapapa toh, Hilya kan cantik, tinggi, putih, wajahnya arab dan ukhti-ukhti. Cocok lah sama mas Tama" aku meletakkan novel Origin milik Dan Brown

"Tenan gapapa?" Vani berdiri sambil merapikan alas setriknya. Aku tertawa

"Hei, rungokne ya. Aku cuma suka sama mas Tama. Aku bukan pacar apalagi istrinya. Aku gak ada hak apapun untuk menghalangi dia, apalagi perasaannya"

"Tapi kan mas Tama tau kamu suka sama dia" Putri memegang tangaku

"Yaa tapi kan dia gak wajib punya perasaan yang sama ke aku. Aku cuma pengen dia tahu nek ada orang yang suka sama dia, dia amat sangat layak disukai. Jangankan sama Hilya, kalo mas Tama suka ke Vani aja aku beneran gak masalah"

"He lambene" mereka kompak

"Tenan, awas aja kalau misal salah satu kalian ternyata disukai mas Tama dan kalian nolak cuma karena aku. Wes mending kita putus pertemanan aja. Kalian berhak sama siapapun, mas Tama juga berhak dengan siapapun. Aku gak mau justru adanya aku malah menghalangi kebahagiannya"

"Gak gak, mas Tama bukan tipeku" jawab Putri

"Heleh, tipemu mas Adit seng anak metal itu toh" jawab Vani. Kami berceloteh sampai dihentikan oleh telepon dari Dira yang bilang dia sudah di depan kos Vani. Hilya Amani Dinara, perempuan yang menurutku sudah mendekati angka 90% idaman. Siapa yang tidak suka, bahkan mas Tama sampai minta dikenalkan dan ingin berkenalan lebih jauh. Aku harus bersiap menata hati lagi, karena sepertinya episode kali ini akan segera selesai setelah lebih dari 3 tahun berjalan.