Kamu masih saja begitu. Manis setiap waktu dan berani berbeda tanpa harus sok jadi guru.
Kalau beberapa tahun lalu aku berhasil membuat jagat raya cemburu karenamu, hari ini gantian aku yang ikut dalam posisi jagat raya itu.
Kamu selalu manis, indah, dan menyenangkan disetiap keadaan.
Bahkan meski puluhan Purnama berlalu pun, senyuman dan suara merdumu masih terdengar jelas di kendang telingaku.
Betapa beruntungnya gadis itu menjadi tempat berlabuh hatimu saat ini.
Memang cadar dan jilbab besarnya sesuai dengan baiknya agamamu.
Pun dengan bekal hafalannya, mampu mengikuti 30 juzmu.
Sedangkan aku?
Manusia penuh dosa ini sungguh tidak layak mendapatkan alunan murojaahmu.
Makhluk hina yang bertopeng tebal ini benar-benar tidak pantas menikmati hangatnya hatimu.
Sedikit curang rasanya ketika kau menghilang memblokir segala aksesku padamu.
Aku hanya mampu menikmati puing puing kehidupanmu yang lalu melalui akun temanku.
Tapi memang pantaslah manusia macam aku tidak diberi kesempatan mengetahui kabarmu lagi.
Oh kasih, wajah rupawan dan senyum manismu yang tidak sengaja aku nikmati di sekitar jalan jawa beberapa minggu lalu mampu membuat ingatan kisah kita kembali bangkit.
Lidahku kelu bersamaan dengan mata dan leherku yang tak mau melepaskan sedetikpun pertemuan kebetulan itu.
Sungguh tidak patut aku masih memunculkan bayanganmu dalam kebahagiaan yang telah kau nikmati saat ini.
Sungguh aku tidak tahu diri dengan kembali memantik harapan yang mungkin sudah tak lagi kau kehendaki.
Ah sungguh aku sangat tidak tahu diri.