Rabu, 04 Januari 2017

Selamat, terimakasih dan jangan pernah kembali.



Kemarin ini, ada seseorang dari masa lalu yang kembali hadir. Seseorang yang hadir kembali untuk keberapa kalinya. Seseorang yang pertama kali memasuki kehidupanku. Seseorang yang membuatku mengerti bagaimana rasanya sebuah kehilangan. Ya, dia kembali lagi setelah puas memaki dan meninggalkanku beberapa saat lalu. Ia kembali lagi saat hatinya butuh pelarian dari sebuah hubungan yang baru berakhir. Ya, dia baru putus dengan kekasihnya.

Hubungan kami biasa saja, dia bertanya kabar dan begitu juga sebaliknya. Sampai pada suatu hari dia kembali menghilang. Dalam dua centang biru yang tidak terjawab, dalam online dan last seen yang tidak terucap. Ya, kau menghilang lebih cepat dari kepulan asap. Tidak menyakitkan namun tetap saja menyebalkan. Lalu apakah kau pikir aku seperti tawang alun? Aku tidak masalah jika kau kembali dengan dia dan kau berhenti menghubungiku. Aku tidak pernah sedikitpun punya pemikiran kalau kita akan kembali lagi. Kalau memang harus kembali, aku akan langsung memilih kembali dengannya, bukan denganmu. 

Sosokmu sangat menyenangkan walau hanya sebatas teman. Aku benar-benar meyukaimu sebatas adik kelas yang suka curhat ke kakak kelasnya. Aku masih ingat semua nasehatmu padaku. Mungkin kau sudah lupa bagaimana percakapan kita di bawah kumpulan bintang dulu. Sepertinya aku tahu bagaimana kau menganggapku selama ini. Ternyata hanya sekedar tempat pelarian kan? Belum sembuh luka ini karena makian dan bentakanmu kala itu, kau sudah menorehkan yang baru. Selamat, terimakasih dan jangan pernah kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar