Kemarin ini, ada seseorang dari masa lalu yang kembali
hadir. Seseorang yang hadir kembali untuk keberapa kalinya. Seseorang yang
pertama kali memasuki kehidupanku. Seseorang yang membuatku mengerti bagaimana
rasanya sebuah kehilangan. Ya, dia kembali lagi setelah puas memaki dan
meninggalkanku beberapa saat lalu. Ia kembali lagi saat hatinya butuh pelarian
dari sebuah hubungan yang baru berakhir. Ya, dia baru putus dengan kekasihnya.
Hubungan kami biasa saja, dia bertanya kabar dan begitu juga
sebaliknya. Sampai pada suatu hari dia kembali menghilang. Dalam dua centang
biru yang tidak terjawab, dalam online dan last seen yang tidak terucap. Ya,
kau menghilang lebih cepat dari kepulan asap. Tidak menyakitkan namun tetap
saja menyebalkan. Lalu apakah kau pikir aku seperti tawang alun? Aku tidak
masalah jika kau kembali dengan dia dan kau berhenti menghubungiku. Aku tidak
pernah sedikitpun punya pemikiran kalau kita akan kembali lagi. Kalau memang
harus kembali, aku akan langsung memilih kembali dengannya, bukan denganmu.
Sosokmu sangat menyenangkan walau hanya sebatas teman. Aku benar-benar
meyukaimu sebatas adik kelas yang suka curhat ke kakak kelasnya. Aku masih
ingat semua nasehatmu padaku. Mungkin kau sudah lupa bagaimana percakapan kita
di bawah kumpulan bintang dulu. Sepertinya aku tahu bagaimana kau menganggapku
selama ini. Ternyata hanya sekedar tempat pelarian kan? Belum sembuh luka ini
karena makian dan bentakanmu kala itu, kau sudah menorehkan yang baru. Selamat,
terimakasih dan jangan pernah kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar