Jadi kali ini menyambung yang kemaren. Tentang
menyukai secara sepihak, ditambah lagi yang kita sukai acuh. Sejak kemarin aku
memikirkan hal itu seperti bagaimana? Dan aku baru sadar, sepertinya aku sudah
dan sedang mengalaminya. Hahahahaha menggelikan sekali ya.
Aku tidak mengerti bagaimana perasaanmu saat
kau mengetahui bahwa aku menyukaimu. Jangan tanya padaku bagaimana rasanya
disukai seseorang, karena aku belum pernah. Ya, aku belum pernah disukai secara
sepihak oleh orang lain. Dulu sih pernah ada orang yang mengatakan perasaannya
padaku, dan itu tidak berlangsung lama. Kalau tidak aku yang ikutan menyukainya
dan akhirnya kami berpacaran, ya dia yang tiba-tiba berpaling ke lain hati
dalam waktu kurang dari 3 hari. Jadi hitungannya aku belum tahu bagaimana
rasanya disukai dengan seseorang.
Saat itu aku mulai mengenal banyak orang lewat
teman-temanku. Ada satu yang berhasil membuatku jatuh hati. Anggap saja dia
adalah saudara dari salah satu temanku. Tidak ada yang istimewa. Tampan? Ya,
standard laki-laki pada umumnya sih seperti itu. Bagian dari orang sosial yang
pasti dengan sangat mudah berinteraksi dengan orang lain. Pembawaannya
menyenangkan, mudah diajak ngobrol dan nyambung diajak bergurau. Tidak
berkubu ataupun fanatik terhadap satu golongan. Perlahan tapi pasti, aku merasa
mulai menyukainya. Dari pertemuan yang tidak bermakna seperti bertemu dengan
teman-teman lain pada umumnya, menjadi pertemuan yang paling aku nantikan.
Aku menyukai caranya berbicara, aku
menyukai caranya berjalan, aku menyukai caranya tertawa. Semua tentang
dia, aku menyukainya. Saat ia dengan telatennya menjelaskan padaku tentang
kerusakan yang ada pada handphoneku. Caranya saat tertawa ketika aku menyeletuk tentang hal
yang lucu. Aku menyukai punggunggnya
yang berdiri di depanku.
Aku menyukai saat wajahnya menghadapku dengan latar belakang langit biru. Aku menyukai seluruh cerita yang ia tuturkan. Dari
mulai konflik Negara Timur Tengah, hingga kritikan dan pembahasan politik
ringan yang biasa kami lakukan. Intinya,
aku menyukainya
Namun lagi-lagi, aku
hanya bertepuk sebelah tangan. Entah apa yang dia fikirkan ketika ia mengetahui
aku menyukainya. Yang aku tau, hanya sikapnya perlahan berubah. Menarik diri
dariku, mengurangi interaksi denganku, dan hanya satu dua kali menatapku
sepanjang waktu kita bertemu. Ah, aku mengutuk diriku sendiri. Kalau begini
jadinya, lebih baik aku tidak pernah menyukainya sama sekali. Padahal sebelumnya,
dengan melihatnya tertawa saja sudah kebahagiaan yang tidak bisa terhitung. Berdiskusi
dengannya dari pagi hingga petang pun salah satu kegiatan faforitku. Ah,lagi-lagi
ini karena kebodohan dan kecerobohanku, semua manjadi berantakan.
Aku menyukainya sejak lama, kalau dilihat dari catatan yang pernah aku tuliskan tentangnya pada tahun 2016, mungkin aku sudah mulai menyukainya pada tahun 2015 akhir atau 2016 awal. Mari kita anggap pada tahun 2016 saja, berarti 2016 ke 2019 sudah berapa lama? berarti saat menulis ini masih suka dong? Hehehe tenang saja, aku sudah sadar diri bahwa aku tidak akan pernah berada pada hati dan fikirannya. Tidak mungkin
ada sedikit saja celah di sana untu perempuan seperti aku. Padahal, dia
satu-satunya lelaki yang berhasil memasuki segala macam kriteria yang sangat
aku inginkan untuk menjadi orang yang akan kuhabiskan hidupku dengannya. Tapi ya
mau bagaimana lagi? Aku sudah tidak bisa menjalani bertepuk sebelah tangan
lagi.
Di usiaku yang
sekarang, akhirnya aku kembali lagi sadar untuk yang kesekian kalinya. Dulu,
aku selalu menyangkal kalimat “lebih baik dicintai daripada mencintai”. Bagiku
itu kalimat dengan penuh kebohongan. Kenapa? Sekarang aku tanya kalian. Siapakah
diantara orang yang kalian pilih ini jika kalian diberi kesempatan untuk bisa
memiliki. Satu, seseorang yang sangat kalian sukai, kagumi, dan cintai dengan
sepenuh hati. Atau dua, seseorang yang kalian sedikitpun tidak ada perasaan
apapun padanya, tapi dia bilang bahwa ia mencintai kalian. Kalian pilih mana?
Aku bertaruh, 90% dari
kalian akan memilih yang pertama. Sama, aku juga. Sudah fitrah manusia ingin
memiliki sesuatu yang memang ia inginkan. Tapi saat sekarang ini, aku rasa
pandanganku terkait pilihan itu menjadi sedikit berbeda. Kenapa? Karena aku
pernah berada pada posisi “dicintai” dan “mencintai”. Rasanya? Jauh lebih baik
berada di posisi dicintai, atau katakanlah diinginkan. Saat kita dicintai,
mungkin akan timbul rasa semena-mena karena merasa tidak akan ditinggalkan. Selain
itu akan ada rasa dibutuhkan oleh pasangan kita yang membuat kita semakin gila
gelap mata. Tapi disisi lain, kita akan mendapatkan kasih sayang, perhatian,
dan perasaan cinta dari pasangan kita. Singkatnya, kita akan selalu diberi dari
segi apapun. Sedangkan saat kita mencintai, terlebih sepihak, skak mat. Hanya
ada kita yang selalu mencintainya, kita yang selalu rela melakukan apapun
untuknya, kita yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya, kita yang
akan selalu mati-matian membuatnya bahagia, kita yang selalu memaksa ada dan
siaga untuk segala kebutuhannya. Mau seperti itu? Ndak capek? Kalau aku pribadi,
capek.
Lalu, untuk kalian
yang masih memaksa bertahan dengan perasaan cinta bertepuk sebelah tanganmu,
semua keputusan ada pada kalian. Kalau ingin bertahan, pertahankan saja. Ayo kita
lihat sejauh apa kamu bertahan dan berusaha. Kalau memang ia berhasil
menyukaimu seperti kamu menyukainya, sebuah keberuntungan besar bagimu. Namun jika
kalian ingin menyerah saja untuk perasaan itu dan menjalani yang rasional saja,
sini mendekat. Hei, bukankah ketika kita mencintai seseorang itu kita hanya
ingin mereka bahagia? Gunakanlah kata-kata itu untuk memotivasimu melupakan dan
merelakannya. Jangan kau berikan ia beban dengan memaksanya menyukaimu. Atau dengan
kau kekeuh menyukainya dan ia tau hal itu, apakah kau tega padanya? Apakah kau
tega membuatnya menahan diri untuk tidak bahagia untuk menjaga hatimu? Dia tidak
menyukaimu, lalu apa? Dia tidak bisa membuatmu terluka dengan menjalin hubungan
dengan orang lain. Tega orang yang kau cintai jadi tidak bahagia? Tega! Yang seperti
itu namanya buka suka apalagi cinta, itu hanya ambisi. Ambisimu untuk menjadi
orang spesial di hidupnya.
Kita hidup bukan hanya
tentang masalah cinta-cintaan saja. Lagipula, bukankah tuhan sudah menggariskan
jodoh kita masing-masing? Kau harus percaya bahwa tuhan adalah yang maha
mengetahui, apapun yang harus terjadi maka semoga itu memang hal terbaik yang
telah di tuliskan dalam takdir kita masing-masing. Kalau kau memaksa tuhan agar
menjodohkanmu dengannya, bukankah itu tidak adil? Bagaimana jika tuhan
mengabulkan doamu padahal di satu sisi dia menyebut sebuah nama dalam doanya. Kalau
aku, aku tidak akan tega membuatnya seperti itu. Berat?
Ya memang berbicara
dengan logika saat hati sedang dipenuhi asmara itu susah. Kita hanya butuh argument
pendukung yang kita inginkan saja. Sedangkan kita tidak butuh pembenaran yang sesungguhnya,
apalagi penolakan. Yuk, belajar melepaskan diri dari “bertepuk sebelah tangan”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar