Selasa, 19 Maret 2019

Aku dan sedikit pemikiran warasku


Jadi kali ini menyambung yang kemaren. Tentang menyukai secara sepihak, ditambah lagi yang kita sukai acuh. Sejak kemarin aku memikirkan hal itu seperti bagaimana? Dan aku baru sadar, sepertinya aku sudah dan sedang mengalaminya. Hahahahaha menggelikan sekali ya.

Aku tidak mengerti bagaimana perasaanmu saat kau mengetahui bahwa aku menyukaimu. Jangan tanya padaku bagaimana rasanya disukai seseorang, karena aku belum pernah. Ya, aku belum pernah disukai secara sepihak oleh orang lain. Dulu sih pernah ada orang yang mengatakan perasaannya padaku, dan itu tidak berlangsung lama. Kalau tidak aku yang ikutan menyukainya dan akhirnya kami berpacaran, ya dia yang tiba-tiba berpaling ke lain hati dalam waktu kurang dari 3 hari. Jadi hitungannya aku belum tahu bagaimana rasanya disukai dengan seseorang.

Saat itu aku mulai mengenal banyak orang lewat teman-temanku. Ada satu yang berhasil membuatku jatuh hati. Anggap saja dia adalah saudara dari salah satu temanku. Tidak ada yang istimewa. Tampan? Ya, standard laki-laki pada umumnya sih seperti itu. Bagian dari orang sosial yang pasti dengan sangat mudah berinteraksi dengan orang lain. Pembawaannya menyenangkan, mudah diajak ngobrol dan nyambung diajak bergurau. Tidak berkubu ataupun fanatik terhadap satu golongan. Perlahan tapi pasti, aku merasa mulai menyukainya. Dari pertemuan yang tidak bermakna seperti bertemu dengan teman-teman lain pada umumnya, menjadi pertemuan yang paling aku nantikan. 

Aku menyukai caranya berbicara, aku menyukai caranya berjalan, aku menyukai caranya tertawa. Semua tentang dia, aku menyukainya. Saat ia dengan telatennya menjelaskan padaku tentang kerusakan yang ada pada handphoneku. Caranya saat tertawa ketika aku menyeletuk tentang hal yang lucu. Aku menyukai punggunggnya  yang berdiri di depanku. Aku menyukai saat wajahnya menghadapku dengan latar belakang langit biru. Aku menyukai seluruh cerita yang ia tuturkan. Dari mulai konflik Negara Timur Tengah, hingga kritikan dan pembahasan politik ringan yang biasa kami lakukan.  Intinya, aku menyukainya

Namun lagi-lagi, aku hanya bertepuk sebelah tangan. Entah apa yang dia fikirkan ketika ia mengetahui aku menyukainya. Yang aku tau, hanya sikapnya perlahan berubah. Menarik diri dariku, mengurangi interaksi denganku, dan hanya satu dua kali menatapku sepanjang waktu kita bertemu. Ah, aku mengutuk diriku sendiri. Kalau begini jadinya, lebih baik aku tidak pernah menyukainya sama sekali. Padahal sebelumnya, dengan melihatnya tertawa saja sudah kebahagiaan yang tidak bisa terhitung. Berdiskusi dengannya dari pagi hingga petang pun salah satu kegiatan faforitku. Ah,lagi-lagi ini karena kebodohan dan kecerobohanku, semua manjadi berantakan.

Aku menyukainya sejak lama, kalau dilihat dari catatan yang pernah aku tuliskan tentangnya pada tahun 2016, mungkin aku sudah mulai menyukainya pada tahun 2015 akhir atau 2016 awal. Mari kita anggap pada tahun 2016 saja, berarti 2016 ke 2019 sudah berapa lama? berarti saat menulis ini masih suka dong? Hehehe tenang saja, aku sudah sadar diri bahwa aku tidak akan pernah berada pada hati dan fikirannya. Tidak mungkin ada sedikit saja celah di sana untu perempuan seperti aku. Padahal, dia satu-satunya lelaki yang berhasil memasuki segala macam kriteria yang sangat aku inginkan untuk menjadi orang yang akan kuhabiskan hidupku dengannya. Tapi ya mau bagaimana lagi? Aku sudah tidak bisa menjalani bertepuk sebelah tangan lagi.

Di usiaku yang sekarang, akhirnya aku kembali lagi sadar untuk yang kesekian kalinya. Dulu, aku selalu menyangkal kalimat “lebih baik dicintai daripada mencintai”. Bagiku itu kalimat dengan penuh kebohongan. Kenapa? Sekarang aku tanya kalian. Siapakah diantara orang yang kalian pilih ini jika kalian diberi kesempatan untuk bisa memiliki. Satu, seseorang yang sangat kalian sukai, kagumi, dan cintai dengan sepenuh hati. Atau dua, seseorang yang kalian sedikitpun tidak ada perasaan apapun padanya, tapi dia bilang bahwa ia mencintai kalian. Kalian pilih mana?

Aku bertaruh, 90% dari kalian akan memilih yang pertama. Sama, aku juga. Sudah fitrah manusia ingin memiliki sesuatu yang memang ia inginkan. Tapi saat sekarang ini, aku rasa pandanganku terkait pilihan itu menjadi sedikit berbeda. Kenapa? Karena aku pernah berada pada posisi “dicintai” dan “mencintai”. Rasanya? Jauh lebih baik berada di posisi dicintai, atau katakanlah diinginkan. Saat kita dicintai, mungkin akan timbul rasa semena-mena karena merasa tidak akan ditinggalkan. Selain itu akan ada rasa dibutuhkan oleh pasangan kita yang membuat kita semakin gila gelap mata. Tapi disisi lain, kita akan mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan perasaan cinta dari pasangan kita. Singkatnya, kita akan selalu diberi dari segi apapun. Sedangkan saat kita mencintai, terlebih sepihak, skak mat. Hanya ada kita yang selalu mencintainya, kita yang selalu rela melakukan apapun untuknya, kita yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya, kita yang akan selalu mati-matian membuatnya bahagia, kita yang selalu memaksa ada dan siaga untuk segala kebutuhannya. Mau seperti itu? Ndak capek? Kalau aku pribadi, capek.

Lalu, untuk kalian yang masih memaksa bertahan dengan perasaan cinta bertepuk sebelah tanganmu, semua keputusan ada pada kalian. Kalau ingin bertahan, pertahankan saja. Ayo kita lihat sejauh apa kamu bertahan dan berusaha. Kalau memang ia berhasil menyukaimu seperti kamu menyukainya, sebuah keberuntungan besar bagimu. Namun jika kalian ingin menyerah saja untuk perasaan itu dan menjalani yang rasional saja, sini mendekat. Hei, bukankah ketika kita mencintai seseorang itu kita hanya ingin mereka bahagia? Gunakanlah kata-kata itu untuk memotivasimu melupakan dan merelakannya. Jangan kau berikan ia beban dengan memaksanya menyukaimu. Atau dengan kau kekeuh menyukainya dan ia tau hal itu, apakah kau tega padanya? Apakah kau tega membuatnya menahan diri untuk tidak bahagia untuk menjaga hatimu? Dia tidak menyukaimu, lalu apa? Dia tidak bisa membuatmu terluka dengan menjalin hubungan dengan orang lain. Tega orang yang kau cintai jadi tidak bahagia? Tega! Yang seperti itu namanya buka suka apalagi cinta, itu hanya ambisi. Ambisimu untuk menjadi orang spesial di hidupnya.

Kita hidup bukan hanya tentang masalah cinta-cintaan saja. Lagipula, bukankah tuhan sudah menggariskan jodoh kita masing-masing? Kau harus percaya bahwa tuhan adalah yang maha mengetahui, apapun yang harus terjadi maka semoga itu memang hal terbaik yang telah di tuliskan dalam takdir kita masing-masing. Kalau kau memaksa tuhan agar menjodohkanmu dengannya, bukankah itu tidak adil? Bagaimana jika tuhan mengabulkan doamu padahal di satu sisi dia menyebut sebuah nama dalam doanya. Kalau aku, aku tidak akan tega membuatnya seperti itu. Berat?
Ya memang berbicara dengan logika saat hati sedang dipenuhi asmara itu susah. Kita hanya butuh argument pendukung yang kita inginkan saja. Sedangkan kita tidak butuh pembenaran yang sesungguhnya, apalagi penolakan. Yuk, belajar melepaskan diri dari “bertepuk sebelah tangan”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar