MENCINTAI ITU SAKIT, APALAGI KALAU BERTEPUK SEBELAH TANGAN,
DAN LEBIH SAKIT LAGI JIKA DIA TAHU TAPI DIA ACUH
Kalimat di atas diucapkan oleh seorang kawan saat kami
sedang membicarakan laki-laki yang kami suka. Ya, sakit memang. Jangankan dalam
level mencintai, menyukai saja dan tidak terbalaskan sudah cukup untuk membuat
kita uring-uringan setiap saat. Tidak satu-dua kisah yang berjalan seperti itu.
Tidak hanya kau, mungkin jutaan wanita dan laki-laki di dunia ini pernah
mengalaminya. Boleh aku bercerita sedikit tentang hal ini?
Malam itu sekali lagi kami bergurau lewat bbm. Ya, memang
saat dipikir lagi selalu aku yang memulai setiap pembicaraan. Selalu aku yang
menghidupkan topik diantara kita agar ada saja kesempatanku untuk
menghubungimu. Bagaimana mungkin aku yang tidak bisa begadang semalaman
berhasil kau buat melek dan tiba-tiba menjadi penggila bola. Aku ingat betul
malam itu piala dunia yang menampilkan Argentina melawan Jerman. Aku yang
mendukung Jerman dan kau ada dipihak yang bersebrangan. Aku berhasil mempertahankan
mataku terbuka dan berjuang memahami sejujurnya apa yang menarik dari
segerombolan laki-laki di dalam layar kaca sedang berlarian di atas lapangan
hijau. Ya, kau yang notabene adalah seorang pemain sepak bola dan berposisi
sebagai kiper paham dengan keasyikan itu.
Aku menyukaimu. Jangan ditanya sejak kapan, aku juga tidak
tahu. Yang aku tahu, aku selalu memperhatikanmu saat kau berdiri gagah di depan
gawangmu. Yang aku tahu, aku selalu menyempatkan pergi untuk menontonmu membela
almamater kita. Dan satu lagi yang aku tahu, kau tidak pernah sedikitpun
mempunyai perasaan yang sama padaku. Ya, bagaimana mungkin idola sepertimu bisa
menyukai orang sepertiku. Yang dinilai dari atas sampai bawah tidak ada nilai
plusnya. Wajahku biasa-biasa saja, kulitku hitam legam tidak terawat, kacamata
yang sederhana memenuhi wajahku, rambutku panjang tidak terawat dan penuh
dengan ketombe, ditambah lagi, lemak yang menonjol di seluruh tubuhku berusaha
saling menampakkan diri. Aku tahu tanggal lahirmu, aku hafal nomer handphonemu,
aku tahu apa-apa yang kau sukai dan tidak kau sukai. Kedengarannya seperti
stalker yang membahayakan. Bukankah aku memang terlihat sangat tidak menarik?
Kau tahu tidak, betapa bersyukurnya aku bisa menghabiskan
malam ini denganmu. Lebih tepatnya dengan tertawa denganmu berkedok tayangan
sepak bola ini. Aku bersyukur karena kita masih berteman. Aku menyukaimu
meskipun tahu kau tidak menyukaimu. Namun salahkah jika aku berharap agar tuhan
menjatuhkan hatimu padaku? Agar tuhan menggerakkan pandanganmu menatapku meski
itu dari kejauhan dan selintas lalu? Tidak pantaskah aku berharap kau fikirkan,
meski itu sebentar tanpa bertahan?
Aku begitu menyukaimu, dan di dalam kepalaku kamu juga harus
menyukaiku. Aku mempunyai teman yang sama-sama gilanya padamu. Bedanya, dia
menunjukkannya sehingga membuat rumor beredar di sekolah. Yah rumor yang sangat
tidak mengenakkan untuk kau terima. Tapi ya memang seperti itulah kenyataannya.
Sedangkan aku, hanya berada di jajaran teman dan fansmu saja, tidak akan
berubah sampai kapanpun. Saat aku menanyakan kepadamu bagaimana tentang dia,
kau menjawab bahwa di ahanya teman kelas. Kau baik padanya karena dia juga baik
sekali padamu. Dia tidak pernah absen memberimu curahan perhatian dan kasih
sayang. Sedangkan aku? Menatapmu yang ada didepanku sebagai lebih dari teman
saja aku tidak sanggup. Aku takut merusak perteman kita yang sangat berada pada
level biasa ini. Aku hanya bisa menghubungimu karena aku menjadi temanmu. Lebih
dari itu, aku tidak mampu. Aku tidak bisa karena aku tidak mampu.
Aku dan temanku ini bersaing terbuka. Kami saling berbagi
satu sama lain tentangmu. Kami menjadi dekat karenamu. Dia gadis yang cantik. Dengan
tubuh kecil nan mungil. Wajahnya sama rupawan dengan parasnya. Kulitnya kekuningan
dengan sikapnya yang menyenangkan. Dia sering bercerita padaku bagaimana
sikapmu terhadapnya. Ya, kau tahu dia menyukaimu namun kau acuh. Sedikitpun kau
tidak punya perasaan padanya. Setidaknya seperti itulah yang dia ceritakan
padaku.
Saat aku
menanyakannya langsung padamu, kau bilang kau masih menyukai teman sejak
kecilmu. Seorang teman yang lembut hati dan tuturnya. Seorang teman yang
membuatmu bertekad tetap berada di depan gawang karena dia menyukainya. Lalu bagaimana
kabar temanku? Ya, seperti gadis yang entahlah, patut untuk dikasihani karena
telah kau sakiti hatinya yang lembut. Difikiranku muncul pertanyaan, kenapa kau
tidak menyukainya? Kami berjanji satu sama lain, jika ada salah satu diantara
kami yang berhasil terbalaskan perasaannya, kami harus saling berbagi. Dan apabila
saat itu tiba, kami harus saling mengerti. Awalnya aku hanya mengira itu mimpi
yang kami kembangkan bersama agar bisa saling menguatkan. Awalnya aku mengira dia
mengucapkannya untuk hiburan semata. Sampai akhirnya aku mengetahui semuanya.
Siang itu, saat jam istirahat berlangsung. Tidak terasa
sudah diakhir masa sekolahku menjadi siswi menengah pertama. Aku sudah tidak
lagi menomorsatukan urusan hati, yang terpenting adalah studiku. Aku terbiasa
berkumpul dengan teman-temanku, namun siang itu partner bergosipku tentang kamu
tidak ada. Entahlah, aku tidak tahu dia kemana. Kami sudah tidak lagi dekat
karena kesibukan belajar yang memaksa kami untuk terus fokus pada ujian akhir.
Tenggorokanku haus sekali, kebetulan baru saja sekolahku
mengadakan jumat bersih. Aku mengajak salah satu dari mereka untuk menemaniku
mengambil minuman. Tapi tidak ada yang mau. Terpaksa aku mengambilnya sendiri. Aku
berjalan melewati kelas-kelas yang mulai sepi. Banyak dari para siswa berkumpul
di kantin ataupun halaman tengah. Jarang sekali ada yang masih mau tinggal di
kelas saat acara bersih-bersih selesai. Takut mengotori kelas katanya.
Kelasmu berada di seberang kelasku. Sepertinya aku merindukanmu.
Aku memutuskan untuk melangkahkan kakiku menuju kelasmu. Aku ingin melihat
bangkumu. Seperti itu saja sudah cukup untukku memadamkan rinduku padamu. Senyumku
tersungging dengan hanya memikirkanmu. Sudah lama aku tidak melihatmu berdiri
di depan gawang kebanggaanmu. Sudah lama aku tidak melihatmu berlatih di
lapangan sebelah saat sore hari. Hei! Kau ada di dalam ternyata, sontak aku
merasa wajah dan tubuhku ringan. Bolehkan aku berlari kepadamu dan mengatakan
bagaimana kabarmu? Hehehe...tidak, aku hanya bisa melangkahkan kaki dengan
pelan untuk mengagetkanmu.
Gotcha! Aku sendiri yang terjebak dengan rencanaku
mengagetkanmu. Kau yang berhasil mengagetkanku sampai aku tidak mampu lagi
berdiri. Aku merasa jantungku sempat berhenti walau sebentar. Aku melihat
sesuatu yang sangat menampar dan membuatku mual. Aku tidak menyangka, kau mampu
berlaku seperti itu.
Bayangan itu tidak mau hilang dari kepalaku. Aku enggan
bercerita kepada siapapun karena aku tidak mau mengingatnya. Aku tidak ingin
diriku membencimu karena kejadian itu. Dan saat ini, rumor tentang kalian
berdua tersebar. Bukan rumor tentang apa yang aku lihat saat itu. Tapi rumor
kalau kalian berdua berpacaran. Sedangkan dia tidak mengucapkan apapun
kepadaku. Lalu apa gunanya janji yang dia buat dulu? Bukankah saat ini aku
terlihat sangat menyedihkan dan patut untuk dikasihani? Aku membenci hal itu.
Saat itu, suatu kejadian yang tidak pernah bisa aku
lupakan...
Aku mengendap-endap untuk mengagetkanmu dari pintu kelas. Perlahan
mendekati mu dengan memantau dari ujung cendela yang tirainya tersingkap. Merapikan
rambut yang jatuh menjadi poni, sampai ada seseorang yang terlihat ada di
depanmu. Itu dia, temanku yang menyukaimu. Orang yang membuatmu bercitra buruk
di depan warga sekolah. Orang yang kau bilang kau hanya baik padanya karena dia
sangat baik padamu. Orang yang menjanjikan padaku akan memberitahuku saat ia
sudah berhasil mendapatkanmu. Dan sekarang, sepertinya kau sudah menjatuhkan
hatimu pada dia. Aku menyunggingkan senyum dan berusaha memahami kalau batu
akan berlubang karena tetesan air secara terus-menerus. Aku mengucapkan selamat
untuk kalian berdua. Hingga wajah kalian berdua saling bedekatan dan kau
menciumnya. Kau mencium dia tepat di bibirnya dan aku mual. aku yakin jantungku
sempat berhenti sebentar saking kagetnya aku melihat kejadian ini. Kalian berdua,
berciuman, pada bibir, di ruang kelas, di sekolah, dan tepat di depan mataku. Aku
tidak pernah melihatnya secara langsung. Apalagi melihat orang yang aku sukai,
dengan orang yang pernah menjadi tempat berbagi cerita tentangmu.
Sejak itu, kau menjadi nol di mataku. Ada bisik-bisik rumor
kalau kalian berdua melakukan first kissdi
rumahnya. Aku tidak peduli. Aku sudah cukup kecewa melihatmu seperti itu. Aku terlalu
awam untuk hal itu. Aku hanya gadis lugu yang pergaulannya hanya sebatas
itu-itu saja menilaimu terlalu tinggi. Entahlah...aku hanya kecewa padamu. Bukan
karena kau memilih dia ketimbang aku. Bukan karena kau hanya menganggapku
selingan tong sampah untuk membuang gratisan sms. Bukan karena kau hanya
menyalamiku saat pertahanan yang kau lakukan luar biasa. Bukan, bukan karena itu.
Aku kecewa karena kau menciumnya dan tepat dibibirnya. Aku kecewa dan kau
berhasil membuatku jijik padamu. Dan sejak itu, aku tidak mau mengerti apapun
tentangmu, tentang dia dan tentang kalian. Saat dia kembali menghubungiku untuk
meminta maaf saat kalian berdua putus beberapa minggu kemudian, aku tidak
peduli. Pun saat kau kembali menanyakan kabar aku berhasil melanjutkan sekolah
di mana, aku hanya menanggapinya dengan malas-malasan saja.
Sakit memang saat kita menyukai seseorang dan hal itu hanya
sebelah tangan. Segala tindakan darimu yang sebenarnya normal dan tidak ada
yang istimewa, seakan menjadi istimewa. Segala yang keluar dari dirimu terasa
respon yang baik padaku. Semua perhatian yang aku yakin hanya basa-basi saja
seakan menjadi percikan harapan untukku. Segala hal yang terjadi terasa seperti
tanda bahwa kau juga menyukaiku walau itu sedikit. Saat itu aku tahu kau tidak
punya perasaan padaku, tapi keyakinanku juga tidak kalah besar jika kau
perlahan mulai menyukaiku. Itulah kesalahan fatalnya. Aku terjebak dalam
bayang-bayang perasaanmu padaku. Halusinasiku terlampau tinggi tentang
perasaanmu padaku. Hahaha, aku memang gadis bodoh yang tidak sadar akan
keadaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar