Bukan tentang bertepuk sebelah tangan atau berharap memeluk
rembulan. Tapi ini semua hanya sekedar perasaan. Perasaan yang aku sendiripun
tak tahu kapan dan dimana ia akan berlabuh. Perasaan yang bahkan terkadang
akupun berada dalam kondisi tidak siap saat ia datang. Entahlah, kali ini aku
menyerah. Lelah rasanya bermain-main dalam dalam ketidakpastian. Menyebalkan jika
terus-terusan berada dalam kubangan yang semakin lama menyeretku dalam imajinasi
yang tak kunjung usai. Sepertinya kali ini aku harus mengistirahatkan hatiku. Ditambah
lagi, aku akan menenggelamkan diri dalam hal-hal yang aku sukai. Yups, itu
pasti.
Kali ini, setelah kepatahan hatiku yang sudah tak bisa
kuhitung lagi. Aku kembali memantapkan hati, menata niat, untuk meraih ridhoNya.
Selama ini hatiku terlalu jauh pada penciptaku. Duniaku berputar hanya padamu. Kau,
yang selama ini tidak berkontribusi apapun padaku. Eh, berkontribusi ding. Membuatku
terserang virus merah jambu dan mematahkan hatiku. Aih maaf, sepertinya kau tidak
mematahkannya. Akulah yang mematahkannya sendiri. Ya, selama ini hanya aku
satu-satunya pemain di opera sabunku. Kau, hanya sebagai pelengkap saja. Pelengkap
dan membawa sebagian hati dan fikiranku. Yang begitu menyukaimu dari sini, aku.
Yang begitu semangat berdiskusi denganmu dari balik layar hp ini, aku. Yang memikirkanmu
setiap waktu, aku.
Aku percaya, laki-laki baik untuk wanita yang baik. Maka dari
itu, sepertinya kau tidak diciptakan untukku. Kenapa? Karena aku bukan orang
baik-baik. Dan kau, dirubungi oleh seribu kebaikan. Untuk sekarang ini, beri
aku waktu untuk memperbaiki diri. Karena aku tak selugu yang kau katakan. Aku tidak
sebersih yang kau anggapkan. Hehe, aku hanya manusia biasa saja. Doakan aku,
agar bisa menjadi lebih baik lagi ya. Jadi kan kalo kita jodoh bisa pas gitu,
sama-sama baik. Hehehehe, bercanda. Jodoh itu hak mutlak dari sang maha kuasa. Jadi
aku tidak mau membicarakannya.
Hei, bukannya aku tidak ingin kau menyebut namaku dalam ijab
yang kau ucapkan di depan keluarga besarku. Tapi, bukankah akan terlihat tidak
etis jika aku memaksa agar kita berjodoh? Sedangkan skenario terbaik sudah
diciptakanNya jauh sebelum aku muncul di dunia ini. Bukankah lebih romantis
jika ternyata benar kau jodohku setelah sekian lama kita saling memperbaiki
diri dan diam tanpa mengumbar kata mesra? Hehehe, sejujurnya sih aku memang
benar-benar ingin menghabiskan masa tuaku denganmu. Tapi aku juga ingin berada
dalam ridhoNya ketika sedang bersamamu. Apalagi yang bisa kita lakukan selain
bersatu dalam ikatan suci?
Tapi saat ini, sepertinya juga kau masih belum
menginginkanku ya. Hehehe, biarlah begini saja. Teruslah melanjutkan hidupmu
dan kejar mimpi-mimpi indahmu. Aku akan mendoakanmu dari sini, sebagai teman
dan saudara. Aku mengharapkan kau bahagia dengan kehidupanmu, meskipun suatu
saat nanti ternyata kita tidak bisa terikat dengan ijab kabul. Meskipun aku
mungkin akan terlupakan seiring hadirnya orang-orang baru dihidupmu. Meskipun kau
selamanya akan menganggapku sebagai teman biasa saja. Cukup melihatmu
berbahagia saja aku senang.
Yang harus kamu ingat, meskipun saat ini aku menyukaimu, aku
tidak akan meminta agar aku jadi jodohmu. Aku percaya segala sesatu yang telah
dituliskan di lauhul mahfudz sudah menjadi yang terbaik. Baik untukmu, maupun
untukku. Jadi, aku akan pamit dulu untuk menutup perasaanku padamu. Aku undur
diri karena banyak kesibukan yang mulai aku kerjakan untuk menghilangkan
perasaan merah jambu itu padamu. Sampai juga lagi, entah sebagai pasangan yang
bersanding dipelaminan atau sekedar tamu undangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar