berawal dari rasa penasaran teman sekasur. penasaran dengan sosok "dia". "dia" yang telah mencuri hatiku dengan berbagai pengetahuannya, "dia" yang telah menggendongku dengan kedewaaannya, "dia" yang telah membuatku terlena dengan sikap polosnya, dan "dia" yang telah menghancurkan segala rencana indah yang telah ia sampaikan sendiri pada kehidupanku.
mencari akun fbnya yang hanya terdiri dari 3 huruf lewat fb orang lain, tidak semudah mencarinya dalam facebookku yang selalu muncul di deretan teratas tanpa harus mengetik huruf apapun. namun karena pemblokiran yang telah ia lakukan pada akunku sedikit membantuku untuk tidak stalker lagi segala hal tentang dia.
KETEMU! detik-detik awal hatiku berdebar, ragu untuk mengklik atau tidak. akhirnya profilnya muncul. ada foto teratas yang diunggah beberapa puluh menit yang lalu oleh seorang kawannya. aku tidak faham itu foto apa. setelah aku lanjutkan ke foto berikutnya, ada foto dengan backround tulisan "ujian tahfidz". ya, dia memang sedang proses menghafalkan al qur'an sejak pertama kali kami bertemu. dan ini, hal yang aku tunggu sejak lama. kenapa? karena ini momen yang sangat penting baginya, bagi keluarganya. bagiku dan bagi pasangan barunya juga.
ya, dia punya penggantiku. seseorang yang dengan kerudung panjangnya, kacamata dan tubuh mungilnya akan mampu memikat siapapun dengan mudah. hh...ada yang salah dengan makanku hari ini, dadaku sesak dan mataku panas, terdesak oleh sesuatu yang mungkin butuh diledakkan dengan tangisan. duh, nyerinya... tidak hanya kali ini saja nyeri itu datang. sudah ketiga atau keempat kalinya sakit ini menyerang.
lalu aku ingin apa? aku mau apa? aku mengharapkan apa?
entahlah...
aku hanya, menyayanginya. aku hanya telah terlanjur jatuh cinta dengan segala hal tentangnya. kepolosannya, pengetahuannya, kemampuannya menelaah sesuatu, semua hal tentang dia. rambut keritingnya, kulit coklatnya, tubuh pendeknya, badan kurusnya, dan peci hitamnya yang tak pernah ia lepas saat kami keluar bersama.
aku tau aku yang membuatnya seperti ini. hh...segala kenangan tentang kami, tentang dia, masih sering berseliweran di otakku. refleksi masa depan yang telah kami rencanakan masih sering mampir dan menghampiriku. terasa tidak adil, saat aku disini belum bisa melepasnya, belum bisa mencegah segala tentangnya mampir lagi, "dia" sudah benar-benar bisa menggusurku dalam hatinya.
aku terjebak di sini, dalam perasaan yang masih sama sejak ke"putus"annya dulu. belum ada, belum ada yang mampu membuatku nyaman dan tertarik ketika berbicara dengan oarang lain seperti dia. aku bahkan masih ingat kata demi kata yang telah ia ucapkan, ekspresi wajahnya, senyumnya dan degup jantungnya. aku masih mengingatnya.
aku hanya mendoakanmu agar bahagia. klise memang, tapi tak ada hal lain yang aku inginkan selain melihatmu tersenyum seperti pertama kali kita berjumpa di "senyum". itu adalah senyuman pertama yang membuatku langsung jatuh hati padamu. senyuman bahagia yang tulus dan tidak bersyarat. aku masih membingkai senyuman itu hingga kini.
kalau selama ini denganku kau kurang bahagia, semoga dengannya kau akan selalu bahagia. jangan pernah meneteskan airmata lagi ya. aku tidak sanggup mendengarmu menangis malam itu, saat aku mengucapkan sesuatu yang telah menyakiti hatimu. untuk namaku yang telah kau panjatkan pada sepertiga malam, gantilah dengan namanya. jalanilah hubungan dengannya dengan bahagia, dengan cara yang baik.
lalu aku? jangan difikirkan, aku masih seperti yang kau katakan. gadis kecil yang senang dengan taman bermain. aku tetap little girl yang masih tidak suka mengucapkan kata-kata buruk hanya untuk mencacimaki siapapun. aku selalu menjadi nona besar yang masih doyan makan meski tak kau rayu dengan pizza maupun eskrim seperti dulu. aku masih remaja labil yang suka baca komik, jalan-jalan, berteman dengan siapapun dan berkacamata. aku masih aku dengan segala sifat yang pernah membuatmu jatuh hati padaku. tapi sepertinya alasan-alasan itu bukan alasan kau menyukaiku. buktinya saat ini aku masih dan akan selalu setia dengan hal-hal itu tapi kau telah berpaling lebih dulu, bahkan jauh sebelum aku sanggup untuk tidak menirimkan sesuatu pada nomormu.
bacalah ini, bacalah bagaimana kau berhasil membuatku benar-benar mati rasa bahkan pada sosok yang memang sebelumnya sudah kukagumi. maafkan aku yang pernah membuatmu mengemis-seperti yang kau katakan padaku meski aku tak pernah bermaksud begitu- terimakasih pernah menjadikanku ratu di istanamu, terimakasih. oh iya, apakah benar perasaanmu dulu itu cinta? karena cinta yang mulai menuntut syarat itu sudah bukan lagi bernama dan berasa cinta.
aku, yang (mungkin)
pernah kau cintai





aku tahu orangnya :D huahahahah
BalasHapusaduh, malu nih lid ><
HapusIdaman yo, cis. Dadi pengen tak gawe sahur iku kabeh,
BalasHapusopo seh sun, opooo
Hapus