Sabtu, 16 April 2016

(masih) tulisan tentangnya



Pagi ini aku memutar lagu di leptop. Ada lagu yang pernah kamu nyanyikan dulu. Lagu dengan bahasa arab yang membuatku kesulitan mengenali itu lagu apa dan berjudul apa. Sampai pada suatu hari, temanku yang biasa bersholawat memutarnya dari leptopnya. Seketika aku langsung berlari ke kamarnya dan mmenanyakan itu lagu berjudul apa. Dan aku tau dari dia bahwa judul lagu itu. Judul lagunya “Zaujati” nih begini lagu dan terjemahannya.


احبك مثلما انت احبك كيفما كنت
Uhibbuki mitsla maa anti Uhibbuki kaifa maa Kunti 
Aku mencintaimu apapun dirimu, Aku mencintaimu bagaimanapun keadaanmu
ومهما كان مهما صار انت حبيبتى انت
Wa mahmaa kaana mahmaa shooro, Antii habiibatii anti 
Apapun yang terjadi dan kapanpun, Engkaulah cintaku
زوجتى انت حبيبتى انت
Zaujatii, Antii habiibatii anti 
Duhai istriku, Engkaulah kekasihku
حلالى انت لا اخشى عزولا همه مقتى
لقد اذن الزمان لنا بوصل غير منبتى
Halaalii anti laa akhsyaa 'azuulan himmuhuu maqti. 
Laqod adzinaz zamaanu lanaa biwushlin ghoiri munbatti
Engkau istriku yang halal, aku tidak peduli celaan orang. 
Kita satu tujuan untuk selamanya
سقيت الحب فى قلبى بحسن الفعل والسمت
يغيب السعد إن غبت ويصفو العيش إن جئت
Saqoitil hubba fii qolbii bihusnil fi'li wassamti 
yaghiibus sa'du in ghibti wa yashful 'aisyu in ji'ti
Engkau sirami cinta dalam hatiku dengan indahnya perangaimu. 
Kebahagiaanku lenyap ketika kamu menghilang lenyap. Hidupku menjadikan terang ketika kamu disana
نهاري كادح حتى إذا ما عدت للبيت
لقيتك فانجلى عني ضناى اذا ما تبسمت
Nahaarii kaadihun hattaa idzaa maa 'udtu lilbaiti
Laqiituki fanjalaa 'annii dhonaaya idzaa maa tabassamti
Hari-hariku berat sampai aku kembali ke rumah menjumpaimu. 
Maka lenyaplah keletihan ketika kamu senyum
تضيق بى الحياة اذا بها يوما تبرمت
فأسعى جاهدا حتى احقق ما تمنيت
Tadhiiqu biyal hayaatu idzaa bihaa yauman tabarromti. 
Fa as'aa jaahidan hattaa uhaqqiqo maa tamannaiti
Jika suatu saat hidupmu menjadi sedih, maka aku akan berusaha keras. 
Sampai benar-benar mendapatkan apa yang engkau inginkan
هنائى انت فلتهنئى بدفء الحب ما عشت
فروحانا قد ائتلفا كمثل الارض والنبت
Hanaa'ii anti faltahna'ii bidif-il hubbi maa 'isyti. 
Faruuhanaa qodi'talafaa kamitslil ardhi wannabti 
Engkau kebahagiaanku, tanamkanlah kebahaiaan selamanya. 
Jiwa-jiwa kita telah bersatu bagaikan tanah tumbuhan
فيا أملى ويا سكني ويا انسي وملهمتى
يطيب العيش مهما ضاقت الايام ان طبت
Fa yaa amalii wa yaa sakanii wa yaa unsii wa mulhimati. 
Yathiibul 'aisyu mahmaa dhooqotil ayyamu in thibti
Duhai harapanku, duhai ketenanganku, duhai kedamaianku, duhai ilhamku.
Indahnya hidup ini walaupun hari-hariku berat asalkan engkau bahagia

أُحِبُّـكِ مثلما أنـتِ أُحِبـُّكِ كيـفما كُنــْت
   
ومهما كانَ مهمــــا صارَ أنتِ حبــــــــيـبتي أنتِ
حَلالـــــــــي أَنتِ لا أَخْشى عَذولاً هَمّـُــــــــــــــــــه مَقْتِي
لقدْ أَذِنَ الزمــــــــــــــــــــــانُ لنا بِوَصْلٍ غَــــــــــــــــــيْرِ منْبَتِّ
سَقَيْـــتِ الحُــــــــــــــــــبَّ في قلبـي بِحُســـــــــــــــــْن الفعلِ والسَّمْتِ
يغيبُ السَّعـــــــــــــــــــْدُ إن غِبْتِ ويَصْـــــــــــــــــــــــــفو العَيْشُ إِنْ جِئْتِ
نهاري كــــــــــــــــــــــــادِحٌ حتى إذا ما عُـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــدْتُ للبـيتِ

لَقِيتُكِ فانْجَـــــــــــــــــــــــــــــلى عني ضَــــــــــــــــــــــــــــــــــنايَ إذا تَبَسَّمـْتِ
تَضيقُ بيَ الحيـــــــــــــــــــــــــــاةُ إذا بها يومــــــــــــــــــــــــــــــــــاً تَبَــرَّمتِ
فأَســــــــــــــــــــــــــــــعى جاهـداً حتى أُحَقِّقَ مــــــــــــــــــــــــــا تَمَنَّيـــْتِ
هَنــــــــــــــــائي أنتِ فَلْتَهْنَيْ بِدفءِ الْحُـــــــــــــــــــــــــــبِّ مَا عِشْــتِ
فَرُوحَــــــــــــانَا قدِ ائْتَلَفا كَمِثْلِ الْأَرْضِ وَالنَّــــــــــــــــــــــــــبْـتِ
فَيَا أَمَلـــــي وَيَا سَكَنـــــِي وَ يَا أُنْسِـي ومُلْهِــــــــمَتِي
يَطيبُ العَيْشُ مَهْمَا ضَـاقَتِ الأيامُ إِنْ طِبْتِ

I love you the way you are
I love you the way you were
No matter what did or will happen
You are My Darling and will be
My Wifeeey,You are My Darling and will be
I love you the way you are
I love you the way you were
No matter what did or will happen
You are My Darling and will be
My Wife, You're my rightful wife, I don’t fear sin. 
I don’t care about those who don't like to reproach and irritate me, 
It is our destiny to be Together eternally
In my heart you instilled love With grace and good deeds
Happiness vanishes when you disappear
Life brightens when you're there,
My day is hard Until you return home
Sadness disappears When you smile
I love you the way you are
I love you the way you were
No matter what did or will happen
You are My Darling and will be
My Wife, You are My Darling and will be
Life turns black When you're upset
So I work hard To make your wish come true
You're my happiness. May you be happy forever. 
Our souls are united Like soil and plants
You're my hope, my peace my good company and inspiration
Life is good, no matter how hard it is, When you're fine
You're my hope, my peace my good company and inspiration
Life is good, no matter how hard it is, When you're fine
I love you the way you are
I love you the way you were
No matter what did  or will happen
You are My Darling and will be
My Wife, You are My Darling and will be


Aku masih ingat saat suaramu dengan merdunya mengalun dari seberang telefon. Aku yang tidak mengerti itu lagu apa hanya mendengarkannya sambil tiduran. Setelah kau selesai menyanyikannya kau tertawa. Sudah paham kalau aku tak paham lagu yang barusaja kau nyanyikan. Suara manjamu yang tak pernah kau tunjukkan ke orang lain menggelitik telingaku. Ya, kau menyanyikan lagu itu sekali lagi dengan bahasa yang bisa ku mengerti  dan menggantinya dengan namaku. Aku tersenyum, ada rasa hangat merambat di dada. Manis yang tidak kukecap sudah merambahi hati. Kau dan temanmu di seberang sana tertawa saat aku protes bahwa itu lagu yang tidak terdeteksi. Kalian tertawa karena memang pengetahuanku tentang musik rendah. Temanmu melanjutkan membaca ayat suci Al-Quran dan kita tetap menyalurkan rindu dari saluran yang tak kasat mata. Sampai pada temanmu membaca surat yang aku sangat sukai, Ar-Rahman. Aku refleks mengikutinya sampai kau kaget karena mengira aku menghafalkannya. 

“hani, njenengan ngafalaken ar rahman?”
“endak kok, cuman suka aja sama surat itu”
“masa sih? Kok hafal? Kenapa kok suka?”
“cuman hafal berapa ayat juga. Hehehe iya, itu soalnya dulu pas baca surat ini kata kepala TPQ ana suara ana bagus. Jadi entah kenapa kebawa sampe sekarang deh sukanya
“oh iya? Wah jadi tambah sayang deh. nang ning nung ning nung”
“ih apa sih, emang ana bayi”
"hehe, iya kamu itu menggemaskan. kayak anak bayi. duuh lemaknya ituloh pengen tak makan sama ana"
"hahaha, emang ana bakpo, mau dimakan"

Ya, hani. Itulah panggilan yang kau berikan padaku dulu. Setelah nona besar, little girl, hani lalu kembali lagi ke cizka. Hahaha, kembali lagi ke nama panggilanku karena perasaanmu padakupun sudah ndak ada. Duh, ngilu di hati.

Aku yang mengenalmu sejak awal sebagai guru intensif bahasa arabku membahasakan diriku sendiri padamu ana. Dan aku memanggilmu akung. Sejak kau memanggilku dengan sebutan nona besar, yang artinya itu jauh sebelum kita dekat, saat kita berpisah dari kegiatan intensif itu. Saat aku belum mempunyai perasaan padamu apapun selain menginginkanmu menjadi kakak iparku. Sampai sekarang aku masih memanggilmu akung. Aku tidak terbiasa memanggil namamu. Aku terlanjur nyaman dengan nama itu.

Setiap aku memanggilmu begitu, aku masih bisa merasakan nafasmu yang mengalah ketika kita bertengkar. Aku bisa mendengarkan nadamu yang mulai meninggi ketika emosi lalu langsung meminta maaf padaku karena kau tahu aku sama sekali tidak bisa dibentak. Aku masih bisa merasakan tawa renyahmu yang muncul saat aku tidak sengaja mengucapkan sesuatu yang lucu. Akupun selalu mengingat tatapanmu padaku saat kita makan berhadapan.

Aku juga masih ingat wajahmu yang hari itu tidak sedikitpun menatap wajahku saat aku berbicara. Difikanku masih tertancap suaramu yang menjawab “no comment” ketika aku mengajukan pertanyaan-pertanyaan mudah yang biasanya kita jawab dengan mudah. Aku masih mengingat dengan sangat jelas ucapan-ucapanmu yang menyakiti hatiku. Aku masih menyimpannya di handphoneku. Kata-katamu yang membuatku mual, membuatku meneteskan air mata dan menyayat hatiku sekaligus. Aku masih ingat saat kau mengatakan aku adalah wanita tidak tahu diri yang telah menjerumuskanmu.

Aku masih ingat betapa hancur tak berbentuk hatiku saat membaca itu. Bagaimana mungkin, kau-orang yang lembut-bahkan menyakiti semutpun kau tak mampu- tiba-tiba berubah menjadi laki-laki yang mengucapkan hal seperti itu kepada gadis. Seorang gadis kecil yang pernah kau agung-agungkan cintamu padanya. Gadis yang katamu kau sukai karena sikap lembutnya. Gadis kecil yang kau sayangi karena kebersihan mulutnya yang tak pernah mampu mengumpat atau menghujat orang. Gadis kecil yang menurutmu menggemaskan karena tonjolan lemak yang tersebar di tubuhnya. 

Gadis kecil yang percaya dan bergantung pada harapan yang telah kau janjikan padanya. Gadis kecil yang dengan kepolosannya percaya bahwa cinta yang kau agung-agungkan padanya dulu akan bertahan lama, akan terus berkembang hingga kau datang ke rumahnya dan membawanya ke kua. Gadis kecil yang bahkan sampai sekarangpun belum mampu sedikitpun melupakan sosokmu yang dulu. Gadis kecil yang setiap malam masih menangis untuk mengadukanmu pada tuhannya. Gadis kecil yang tertawa dan berlari riang kesana-kemari sambil menyembunyikan hatinya yang sudah tergerogoti kecewa padamu. 

Gadis kecil yang selalu menulis tentangmu dan berharap kau membaca segala yang telah ditulisnya untukmu. Gadis kecil yang tidak berharap kau kembali memeluknya dengan cintamu, namun hanya berharap kau mengerti apa yang sebenarnya ia rasakan. Gadis kecil yang mulai mengumpulkan lagi sisa hatinya yang berceceran dijalan. Gadis kecil yang ingin bertanya padamu, sebenarnya apa yang sedang dan telah kau fikirkan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar