Masih dengan luka yang belum kering yang pedihnya menyempil
disetiap senyumku. Aku masih di sini, tidak berubah. Masih mengenangmu, masih
menunggu semua berlalu. Sebenarnya aku tak tahan lagi dibodohi. Ya, otak dan
hatiku saling membodohiku. Mereka beradu siapa yang akan aku ikuti. Harga diriku
yang telah kau cacati atau rasamu yang terlanjur ku sesap.
Hehehe, sedikit tidak adil ya kurasa. Kau disana tengah
terbuai cinta dengan bidadarimu,sedang aku disini masih setia dengan kisah kita
dulu. Bagaimana mungkin aku melupakan kehangatanmu yang tak pernah kuminta? Apa
kau mulai melupakan rasamu padaku yang sempat kau agung-agungkan dulu? Apa kau
disana sedikitpun pernah merindukan tawaku yang pernah kau butuhkan?
Jadi bagaimana kabarmu? Laki-laki yang masih saja tidak mau
keluar dari otakku. Tanganku gatal untuk tidak menulis tentangmu lagi. Yah,
meskipun dulu aku pernah mengatakan bahwa tulisan itu adalah yang terakhir
tentangmu, tapi jemariku tak mau di bekerja sama untuk melupakanmu, melupakan
kita.
Bagaimana perasaanmu saat ini? Bahagia? Senang? Yang pasti
tidak menderita kan? Aku baru tahu kalau mungkin selama ini akulah yang paling
banyak menyakitimu. Benar katamu, aku mungkin memang gadis yang tidak tahu diri.
Tidak mau berkorban untuk orang yang ia sayangi sepenuh hati. Saat itu, aku
hanya ingin kepastian darimu. Kepastian masa depan kita yang sempat kau obral
dan yakinkan mati-matian padaku.
Bukankah kau sempat begitu tidak ingin membuatku menangis? Tapi
kenapa malah kau sendiri yang paling membuatku tak mau menghentikan butiran
bening yang keluar dari mataku hingga bengkak?
Kau juga pernah berjanji akan selalu membuatku bahagia. Kenyataannya
malah kau menjanjikan hal yang sama dengan bidadarimu itu.
Kau bilang aku adalah cobaan keimananmu selama ini. Lalu mengapa
kau malah mencari godaan lain setelahku?
Kenapa kau melakukan hal yang berbeda dengan tekadmu selama
ini?
Aku hanya ingin berbicara denganmu. Entah untuk apa. Bisa jadi
karena aku ingin mengatakan banyak hal padamu. Atau mungkin memang hanya
alasanku agar bisa melihat kembali sosok hangatmu. Karena aku tidak tahu harus
menulis untukmu ke mana, tanganku menuntunku ke sini. Tempat yang selama ini
tak pernah mengeluh aku tulisi dengan kata-kata alay menjijikkan yang bisa
bikin orang mual.
Bacalah. Hatiku ngilu saat melihat sedikit saja hal yang
mengingatkanku padamu. Kenpa kau mencalonkan menjadi satu-satunya yang akan
memenuhi hatimu denganku bila perasaan itu cepat sekali padam.
Kau tahu bahwa aku sangat merindukanmu bukan? Aku merindukan
punggungmu yang tak pernah berlari meninggalkanku. Aku merindukan senyumanmu
yang pernah membuat teman-teman angkatanku histeris karenamu. Aku merindukanmu,
dirimu, dan kepribadianmu yang dulu. Kembalilah pada dirimu yang menyenangkan. Dirimu
yang tidak pernah ingin menyakiti meski itu nyamuk pun. Kembalilah pada dirimu
yang hatinya mudah luluh dengan sedikit kisah haru. Kembalilah pada dirimu yang
selalu berhasil membuat orang bahagia. Kembalilah meski harus bersama
bidadari itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar