Jumat, 15 April 2016

jika ini kamu, bacalah

Masih dengan luka yang belum kering yang pedihnya menyempil disetiap senyumku. Aku masih di sini, tidak berubah. Masih mengenangmu, masih menunggu semua berlalu. Sebenarnya aku tak tahan lagi dibodohi. Ya, otak dan hatiku saling membodohiku. Mereka beradu siapa yang akan aku ikuti. Harga diriku yang telah kau cacati atau rasamu yang terlanjur ku sesap.

Hehehe, sedikit tidak adil ya kurasa. Kau disana tengah terbuai cinta dengan bidadarimu,sedang aku disini masih setia dengan kisah kita dulu. Bagaimana mungkin aku melupakan kehangatanmu yang tak pernah kuminta? Apa kau mulai melupakan rasamu padaku yang sempat kau agung-agungkan dulu? Apa kau disana sedikitpun pernah merindukan tawaku yang pernah kau butuhkan?
Jadi bagaimana kabarmu? Laki-laki yang masih saja tidak mau keluar dari otakku. Tanganku gatal untuk tidak menulis tentangmu lagi. Yah, meskipun dulu aku pernah mengatakan bahwa tulisan itu adalah yang terakhir tentangmu, tapi jemariku tak mau di bekerja sama untuk melupakanmu, melupakan kita. 

Bagaimana perasaanmu saat ini? Bahagia? Senang? Yang pasti tidak menderita kan? Aku baru tahu kalau mungkin selama ini akulah yang paling banyak menyakitimu. Benar katamu, aku mungkin memang gadis yang tidak tahu diri. Tidak mau berkorban untuk orang yang ia sayangi sepenuh hati. Saat itu, aku hanya ingin kepastian darimu. Kepastian masa depan kita yang sempat kau obral dan yakinkan mati-matian padaku.

Bukankah kau sempat begitu tidak ingin membuatku menangis? Tapi kenapa malah kau sendiri yang paling membuatku tak mau menghentikan butiran bening yang keluar dari mataku hingga bengkak?
Kau juga pernah berjanji akan selalu membuatku bahagia. Kenyataannya malah kau menjanjikan hal yang sama dengan bidadarimu itu.
Kau bilang aku adalah cobaan keimananmu selama ini. Lalu mengapa kau malah mencari godaan lain setelahku?
Kenapa kau melakukan hal yang berbeda dengan tekadmu selama ini?

Aku hanya ingin berbicara denganmu. Entah untuk apa. Bisa jadi karena aku ingin mengatakan banyak hal padamu. Atau mungkin memang hanya alasanku agar bisa melihat kembali sosok hangatmu. Karena aku tidak tahu harus menulis untukmu ke mana, tanganku menuntunku ke sini. Tempat yang selama ini tak pernah mengeluh aku tulisi dengan kata-kata alay menjijikkan yang bisa bikin orang mual.

Bacalah. Hatiku ngilu saat melihat sedikit saja hal yang mengingatkanku padamu. Kenpa kau mencalonkan menjadi satu-satunya yang akan memenuhi hatimu denganku bila perasaan itu cepat sekali padam.

Kau tahu bahwa aku sangat merindukanmu bukan? Aku merindukan punggungmu yang tak pernah berlari meninggalkanku. Aku merindukan senyumanmu yang pernah membuat teman-teman angkatanku histeris karenamu. Aku merindukanmu, dirimu, dan kepribadianmu yang dulu. Kembalilah pada dirimu yang menyenangkan. Dirimu yang tidak pernah ingin menyakiti meski itu nyamuk pun. Kembalilah pada dirimu yang hatinya mudah luluh dengan sedikit kisah haru. Kembalilah pada dirimu yang selalu berhasil membuat orang bahagia. Kembalilah meski harus bersama bidadari itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar