Jumat, 29 November 2019

Ceritaku, Ara part 2


Terhitung satu bulan, aku dan mas Zidan tidak berkomunikasi sama sekali. Awalnya aku yang mendiamkannya, mengacuhkan pesan pesannya, dan mengabaikan telfon serta vidiocallnya. Bukan 100% disengaja, kebanyak karena aku tertidur kelelahan, atau kehabisan baterai handphone. Sisanya, duniaku lebih fokus pada lembar penelitian dan laporan penelitian dosenku. Benar-benar hubungan kami sudah memasuki fase yang tidak bisa aku prediksi bagaimana kedepannya.
"Ra, ada mas Zidan di bawah" tiba-tiba Ajeng, teman kosku berteriak dari jendela kamarku.
"Ha? Iya ya bentar" aku berlarian mengambil jaket dan kerudung seadanya. Sambil merapikan kerudung dan memoles lipbalm, aku menebak nebak apa yang dia lakukan sampai harus datang ke sini.
"Hei nduk, kok makin kurus kamu" duh, suaranya yang lama tidak kudengar. Aku tersenyum, berlari dalam pelukannya. Ia mendekapku erat, mencium kepalaku dengan cepat. Lalu melepaskan pelukannya.
"Kangen" kataku. Dia tersenyum, lalu duduk disebelahku.
"Kamu kemana aja?" Tanyanya sambil memberikan thai tea dan batagor faforitku.
"Gak kemana-mana kok. Mas gimana?"
"Alhamdulillah baik, hari ini kosong nduk?"
"Em, kosong kok. Kenapa?"
"Ikut mas ke rumah yuk. Abah sama umi pengen kenal kamu" deg! Aku belum siap bertemu dengan orangtua mas Zidan.
"Mboten terlalu cepet ta mas?" Tanyaku gugup.
"Ndak toh, kan habis ini juga kamu jadi mantu mereka" usapannya pada kepalaku membuat kegelisahanku semakin tidak bisa disembunyikan.
"Kulo dereng siap mas" aku menunduk
"Kenapa?"
"Kulo dereng lulus, dereng saget nopo nopo"
"Kan ora kesusu nduk. Mas cuman pengen beliau berdua tahu, kalau mas punya pilihan sendiri gawe masa depan mas" aku mulai meraba-raba arah pembicaraan ini.
"Mas bade dijodohkan?" Tanyaku. Dia tersenyum
"Mas berhak memilih sama siapa mas pengen menghabiskan sisa hidup mas nduk" lagi-lagi airmataku muncul tanpa dikomando. Sepertinya sejak menempuh skripsi, aku menjadi lebih sering menangis.
"Kok mboten nate cerita?" Aku terisak
"Ndak pernah ada sesuatu yang terjadi nduk, opo seng arep tak ceritakne?"
"Mbak niku" protesku
"Mas emoh nambahi bebane samean. Mas wes matur teng abi kale umi nek mas punya pilihan sendiri. Karena beliau berdua ndak percaya, makanya rencana mas mau bawa samean ke sana hari ini" jawabnya sambil mengusuk kepalaku
"Anak mana?"
"Banyuwangi, mondok di tempat pakde. Ibunya temen umi mondok dulu"
"Kuliah di mana? Umur berapa?"
"Angkatanmu, kuliah di UGM ambil psikologi"
"Cantik?"
"Ndak tau, belum pernah ketemu"
"Mas suka?" Lalu dia tertawa
"Lah piye ate suka wong kenal ae ora. Mas iki sayange mbek kowe nduk"
"Tapi abah sama umi pasti mau yang terbaik buat putranya" aku diam. Tiba-tiba tidak berselera dengan batagor faforitku ini.
"Nduk, yang menjalani iki mas. Mas berhak mengajukan kebahagiaan mas dewe"
"Nek kulo mboten saget ndamel mas bahagia yaknopo?"
"Insyaallah iso nduk. Nek samean gelem usaha bareng mas, dadine ora njomplang" aku ragu.
Aku berharap mas Zidan bahagia. Tapi aku? Dibandingkan calonnya yang lulusan pesantren dan kampus ternama, aku berasa hanyalah bagian dari partikel debu. Ditambah dengan usia yang sama, dia sudah lulus dan aku masih luntang lantung dengan skripsiku. Pasti dalam waktu dekat ini, mau tidak mau aku harus segera menyelesaikan skripsiku. Sedangkan di waktu yang sama aku harus menyelesaikan penelitian dosenku juga. Ayah dan ibuku juga tidak akan memberikan izin aku diminta sebelum lulus. Tapi dilain sisi, aku benar-benar mencintai mas zidan. Aku ingin menghabiskan sisa usiaku bersama dengannya. Aku ingin mewujudkan cita-cita kami, rancangan rumah kami, sampai rencana permainan apa saja yang akan kami lakukan dengan anak-anak kami. Lalu aku harus apa?

Seminggu lagi, aku sidang. Setelah memutuskan untuk melepas mas Zidan, aku benar-benar terpuruk. Hampir 3 hari sesudah keputusanku itu duniaku hanya berpusat di tempat tidur. Setiap terbangun aku selalu menangis, mengangisi keputusanku, menangisi kebodohanku. Setelah lelah menangis, aku tertidur. Bangun dari tidur dan melihat foto kami di dinding, aku menangis lagi. Sampai pada hari ketiga, aku tidak sengaja menemukan surat dari mas zidan. Surat-surat yang selalu ia tulis setiap tanggal ulang tahunnya.
7 Mei, 2016
Nduk, kalau boleh jujur aku mencintaimu dari pertemuan pertama kita
Meskipun katamu tidak percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada, tapi aku percaya
Aku percaya karena orang yang membuatku jatuh cinta itu kamu nduk
Gadis yang selalu memancarkan kebahagiaan dan keceriaan untuk sekitarnya
Gadis yang tidak pernah bersembunyi dalam kepura-puraan
Gadis yang paling bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu
Gadis yang berhasil membuatku ingin segera bekerja agar bisa membelikannya batagor dengan uangku sendiri
Gadis yang ndak pernah marah, dan hanya kalimat kalimat indah yang keluar dari bibir manisnya
Nduk, doaku tahun ini adalah
Semoga aku bisa diberikan umur panjang, kesehatan dan kekuatan agar bisa selalu membuatmu bahagia nduk. Hiduplah dengan bahagia nduk, karena separuh nyawaku sudah tak gadaikan untuk kebahagiaanmu. Rugi bandar kalau kamu ndak bahagia 🤣 sebelum kamu membahagiakan orang lain, bahagiakanlah dirimu sendiri. Buat mas, kebahagiaan diri mas ada pada bahagiamu. Jadi bahagialah 
Aku tersenyum, kecut. Tuhan memang maha membolak balikkan hati. Entah sejak kapan aku merasa sudah tidak mempunyai perasaan sebesar dulu pada mas zidan. Dan entah sejak kapan, keputusan yang kuambil dengan mulutku sendiri malah membuat semuanya menjadi kacau. Sedih sekali mengingat bahwa aku sudah melepaskan mas Zidan. Sedih sekali mengingat bahwa kini tidak ada apapun lagi diantara kami berdua. Kalaupun ada, itu hanyalah jurang yang semakin besar memisahkan kami. 
Aku mengambil air minum. Lelah sekali rasanya menangis selama itu. Setelah melihat cermin, aku tertawa. Ternyata sungguh mengerikan pantulan wajahku pada cermin. Mata cekung, merah, sembab dan bengkak. Dengan rambut acak acakan seperti jemuran yang berhari-hari tidak pernah disetrika. 
Aku teringat mas Zidan, dan ternyata aku masih ingin berjuang dengannya. Setelah memesan makanan pada teman kos, aku kembali mengerjakan laporan yang tinggal sedikit lagi bisa selesaikan. Setelah kenyang, kulanjutkan dengan mengerjakan draft skripsiku. Selesai ndak selesai, pokoknya harus berangkat Konsul. Aku tidak mau menyia-nyiakan laki-laki sebaik mas Zidan. Pun, aku belum tentu akan bisa menemukan laki-laki yang mampu membuat debaranku tetap seirama seperti awal berjumpa. Akhirnya, hanya dengan waktu satu bulan, aku bisa ngebut menuju sidang.

Aku memantapkan hati untuk memberitahu mas Zidan bahwa hari ini aku akan sidang. Pun aku juga ingin mengatakan bahwa aku siap dikenalkan pada abi dan umi. Kulihat jam, setengah jam lagi jadwalku berjuang. Setelah meminta doa restu pada ayah dan ibu, aku memutuskan untuk menelfon mas Zidan. Dalam tiga deringan, telfonku diangkat
"Assalamualaikum mas, ngapunten tiba-tiba telfon"
"Waalaikumussalam nduk, apa kabar?"
"Alhamdulillah baik mas. Anu, bade ngabari. Kulo mantun ngeten masuk ruang sidang. Nyuwun pandungane"
"Alhamdulillah, mandaro sukses ya nduk. Lancar, ora enek pertanyaan angel, ora akeh revisi, dilut wes mari langsung ketok palu lulus" aku tertawa, setidaknya gugupku sedikit berkurang
"Aamiin. Maturnuwun mas. Njenengan repot ta?"
"Selesai jam piro ngko? Insyaallah tak sempetne runu"
"Jam tigo nawi mas. Nggeh pun, kulo rantos ya. Kulo tak siap-siap riyen"
"Semangat nduk, kowe pasti iso. Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam" akhirnya, aku lega mendengar suaranya yang lembut. Aku siap melewati sidang hari ini. Aku siap merajut lagi hubungan dengan mas Zidan. Aku siap, aku lebih siap dari yang paling siap sekalipun. Semoga semua berjalan sesuai dengan yang aku inginkan.

Setelah euforia sidang yang cukup menggembirakan, aku masih menunggu sosok mas zidan datang. Sambil ditemani beberapa teman kos yang membantuku membereskan segala pernak pernik dan hadiah yang menggunung, aku nelihat handphone. 14.45, masih lebih cepat 15 menit dari waktu yang aku katakan padanya. Yah, sepertinya tuhan mengabulkan doanya agar sidangku cepat, mudah, dan sedikit revisi. Benar-benar diluar prediksi sidang yang selama ini aku bayangkan. Terimakasih gusti, untuk lancarnya hari ini. Dan semoga saja, urusan dengan mas zidan juga akan lancar dan semulus sidangku tadi. Tak lama, dari kejauhan aku melihat mas Zidan berjalan dari parkiran. Ia membawa paperbag berwarna tosca di tangan kanan, dan buket bunga di tangan kiri. Aku melambaikan tangan, ia membalas dengan senyuman. Mengetahui aktor utama yang kutunggu datang, teman temanku pamit sambil membawaku barang barangku pulang.
"Piye nduk?" Tanyanya setelah mengucapkan selamat dan memberikan dua hal ditangannya padaku.
"Luwancar mas, Alhamdulillah. Pandungane njenengan langsung diijabah" kami tertawa. Setelah berbincang mengenai keadaan di dalam ruang sidang, ia meminta maaf karena tidak membantuku selama penelitian. Aku tertawa dan tidak ingin ia membahas hal-hal seperti itu sekarang. Ada misi lain yang harus aku lakukan. Yaitu menyampaikan bahwa aku bersedia menjadi calon istrinya. Termasuk bersedia meninggalkan impianku magang di Iran, dan bersedia untuk segera di minta.
"Mas" panggilku. Ia menoleh sambil memakan batagor. Aku malu mau melanjutkan obrolanku.
"Opo nduk?"
"Ayo nikah" sahutku cepat. Wajahnya melongo, kaget. Sekian detik kemudian dia mesem. Sesuatu yang masih tidak bisa kutebak saat dia mesem adalah perasaannya. Saat dia bahagia, sedih, kecewa, bahkan marahpun, masih saja bisa mesem. Tanpa merubah sorot mata ataupun kerutan pada kening, benar-benar ekspresi yang paling tidak bisa kutebak.
"Enek-enek wae samean iki" jawabnya sambil menaruh plastik batagor. Gantian rokok yang ia sulut, aku diam. Apa aku salah?
Kami terjebak dalam hening yang asing. Seperti bertemu teman yang paling tidak akrab dalam angkutan umum.
"Kamu tau nduk, dulu ada kisah yang sangat terkenal. Diluar ini kisah nyata, atau hanya cerita cinta yang ditulis oleh para penyair yang patah hati" dia berhenti sejenak, memainkan asap rokok, lalu melanjutkan cerita "ada seorang perempuan dan laki-laki yang saling mencintai. Saking cintanya laki-laki tersebut ndek perempuan iku, dee pengen memberikan kejutan gawe nikahi perempuan kuwi. Laki-laki iki pengen njauk perempuan yang kui dengan cara yang tidak sederhana. Yoiku ambe nulis ulang Al Qur'an karo tangan. Akhire, si laki-laki memutuskan untuk belajar menulis Al Qur'an ndek Makkah. Sebelum berangkat, dee mek pamitan pada perempuan ini dengan mengucapkan salam perpisahan. Tanpa ada kata-kata yang secara tersirat maupun tersurat bahwa ia ingin ditunggu. Saking cintanya, laki-laki ini ingin segera bisa dan pulang ke rumahnya lagi" setelah menyesap batang rokoknya, cerita kembali dilanjutkan "terlalu fokus belajar, laki-laki ini lupa menulis surat serta membalas surat dari sang kekasih. Beberapa bulan kemudian, dee wes berhasil nyelesekne Al Qur'an tulisan tangan kui. Dengan perasaan yang sangat mennggebu, dee siap muleh nang kampung halamane dan nemoni perempuan seng ia cintai itu" ia terdiam, aku memperhatikan jenggotnya yang sepertinya jauh lebih bersih dan rapi
"Terus terus" desakku, dia tersenyum, manis sekali. Dan aku benar-benar menyukai senyuman itu
"Sesampainya di rumah si perempuan, ada perasaan yang tidak bisa ia simpan.
Yo kangen, bingung, ragu, seneng, kabeh wes pokoke.  Bar ngunu, ketemu ambe perempuan kui mau"
"Happy ending dong?" Aku menyela
"Perempuan seng dee cintai banget, seng paling dikangeni selama dee nang mekah, nangis. Mberok mberok ambe nggepuki cah lanang kui. Sampe akhire, keweroan opo alasane cah lanang kui budal nang mekah. Happy ending?" Dia mengernyitkan dahi
"Pasti mantun ngeten nikah" dia tertawa sambil mengacak rambutku
"Ih, kok eruh sih" katanya protes
"Tertebak deeh. Terus bahagia sedanten kaaan?" Cetolehku sambil menghabiskan gigitan batagor terakhirku
"Yup, akhire si perempuan nikah dengan laki-laki lain, dan si laki-laki kui ngekekne Al Quran tulisan tangan iku sebagai hadiah" aku melongo
"Kok saget?"
"Nduk, selama seseorang kuwi pergi tanpa kabar, akeh hal seng ora bakal wakdewe prediksi iso kejadian. Nandi ae samean baru saiki ngajak aku nikah?" dia tertawa, aku diam. Merasa pertanyaannya sangat menusuk.
"Biyooo. Yaknopo terus perasaane seng laki-laki?" Aku mengalihkan pembicaraan
"Yo, awale nyesel, pegel, pengen ngamuk, ndak terima penantian dan pengorbanane sia-sia. Suwi-suwi? Ikhlas"
"Kok saget ikhlas? Terus seng cewek mboten purun ngerantos?"
"Nduk, akeh hal seng kudu kita pikirne mateng-mateng. Gak cuman mek kari mlaku ae koyok opo seng dikarepne kene tanpa peduli wong lain" aku diam, sedikit tidak mengerti apa maksud ceritanya "sepurane nduk, sekarang kamu ndak sendirian" dia menerawang jauh, matanya terlihat nanar
"Maksudnya?" Aku merasa belum siap mendengar kenyataan. Aku takut mendengar jawabannya. Dia menoleh padaku, aku menarik lengannya
"Banyak pertimbangan dan pengorbanan sampai pada keputusan tersulit iki nduk" aku menangis tiba-tiba. Padahal aku belum tahu kelanjutan ceritanya "sepurane, 3 bulan lagi aku wes ora iso njogo kowe nduk" aku semakin menangis, nyeri sekali.
"Mas ndak sayang aku" aku memukul lengannya, sebisa mungkin meluapkan amarahku meski sudah tidak bertenaga "Mas kok mboten purun ngerantos kulo" aku menangis sampai susah bernafas. Mas zidan diam, membiarkanku tenggelam dalam kecewa sendirian. Membiarkanku meraung-raung sendirian dengan kenyataan ini.
"Iki keputusanku nduk, bukan paksaan dari abah atau umi. Keputusanku yang sudah tak pertimbangkan dengan matang" aku masih menangis, menyesali kebodohanku yang tidak pernah habis.
"Mboten wonten kesempatan malih damel kulo mas?" Aku tersenyum dengan mata basah. Dia diam sambil menunduk
"Andaikan waktu itu samean mau bertahan nduk, andaikan samean mau tak ajak berjuang" helaan nafasnya membuatku semakin kekurangan oksigen. "Tapi dari sana aku tau, nek aku bukan lelaki yang layak buatmu. Aku bukan lelaki seng iso bikin kamu mantep buat ikut berjuang bareng aku" aku semakin menangis, menyesali segala hal yang telah terjadi.
"Ngapunten mas" hanya itu yang bisa aku katakan. Selebihnya, waktu kami habiskan dengan tenggelam pada suara hati masing-masing.

Dua bulan lebih sudah berlalu dan aku masih belum bisa moveon dari mas zidan. Laki-laki yang membuatku mengenal dunia banjari. Laki-laki yang dari kedalaman matanya membuatku semakin jatuh cinta. Laki-laki yang selalu ada saat aku butuh tenaga. Laki-laki yang pelukan hangatnya mampu membuat semua gundah luruh sendirinya. Laki-laki yang namanya selalu aku hadirkan pada setiap doa. Laki-laki yang tidak pernah membuat debaranku berubah dari pertemuan pertama. Laki-laki yang selalu bisa membuatku tersenyum saat aku tidak baik-baik saja. Laki-laki yang menemaniku dari sekolah hingga kuliah. Laki-laki yang, ah sudahlah. Kalau aku terus mengenang, bagaimana aku bisa lupa? Tak terhitung sudah aku menolak ajakan teman ke tempat makanan faforitku dengan mas zidan. Menolak makanan atau kudapan faforif kami berdua. Bahkan aku sampai menarik diri dari festival-festival banjari, karena dentuman terbang selalu mampu membuatku berdebar dan otomatis mengingat mas Zidan.

"Mbak Ra" panggil Anggi di seberang telfon
"Dalem nggi"
"Besok ada lailatus shalawat buat acara nikahan, barengan sama fesban. Piye?"
"Jame bareng ta?"
"Nggeh mbak, kan tampil malam. Elin kale Mila disuwun prodine damel fesban niku. Piye ya mbak? Samean ada kenalan anak vokal mungkin" aku berfikir agak lama. Masih belum siap untuk berkecimpung di dunia itu lagi
"Kok dadakan toh nggi" protesku
"Lah yaknopo mbak, ajane nyuwun grupe mas Alwi. Cuman kan Mas Alwi kale mas Mas Wahid keluar kota. Akhire vokale gantos cewek. Lah, vokale namung 3 dan beking anyar sedanten. Mboten enten seng saget male mbak" Anggi adalah penanggung jawab grup jika ada event. Meskipun masih mahasiswa baru, dia sudah punya banyak koneksi dan kemampuan manajemen yang baik. Baru kali ini dia kelabakan dan kecolongan.
"Acarae jam piro? Nang endi?" Aku mempertimbangkan apakah aku saja yang menggantikan vokalnya, toh sudah lama aku tidak bernyanyinya.
"Mulai mantun magrib teng gedung Bambu Kuning mbak. Yaknopo?"
"Yawes, aku aja"
"Seriusan mbaaak? Mboten nopoo?" Suaranya terdengar bahagia
"Heem. Ngko bengi latihan ora?"
"Nggeh mbak, teng masjid kampus ya. Bareng kale latihan lomba" aku mengiyakan. Setelah berkali-kali mengucapkan terimakasih, Anggi menutup telfonnya. Tiba-tiba saja aku ingat mas Zidan lagi. Pelatih banjariku pertama kali di sekolah. Orang yang membuatku semangat ikut berbagai macam festival banjari karena dia juga salah satu pesertanya. Apa kabar ya dia? Apakah sekarang dia sudah menikah? Apakah sekarang pundaknya sudah dijadikan sandaran oleh orang lain? Apakah wanitanya yang sekarang bisa diajak duet dengan lagu-lagu banjari? Astaga, mengapa fikiranku melayang sejauh itu.

Latihan semalam membuatku agak kikuk. Sejak menarik diri dari dunia perbanjarian, aku sering sekali tidak hadir latihan. Ditambah aku harus tampil bersama dengan anggota grup sebelah. Sempurnalah aku yang sendirian tidak mengenal siapa siapa. Untunglah para vokal semuanya ramah dan mudah akrab. Tanpa menghiraukan jarak usia, kami bisa langsung akrab seperti sudah lama kenal. Di mobil, Lia, Elsa dan Farah, para vokalis yang akan mendampingiku tampil kali ini heboh sendiri. Mereka membicarakan acara akad nikah si pengantin yang akan kita datangi acaranya
"Biyuh gantenge reek" ucap Lia yang disetujui oleh lainnya.
"Saking yo kita bertemu di saat yang ndak tepat. Kunu wes rabi, eh kene seng ngisi lailatus shalawat e. Huuu aku pengen ndang nikaaah" celetuk Farah
"Heee, lagek kuliah wes pengen rabi ae kowe i" sahut Elsa sambil memukul pelan lengan Farah
"Mbak Ra, liaten iki mbak. Kari shinning shimering splendid mantene" Lia menyodorkan hpnya padaku. Mereka lalu merapatkan diri untuk melihat bersama vidio akad nikah yang lumayan mewah ini. Terlihat perempuan anggun dengan pakaian kebaya semi modern berwarna hijau muda, terlihat sangat pas dengan roncean melati di jilbabnya. Cantik dan memancarkan aura teduh.
"Mbak Rara nek nikah undang kita lo mbak" Farah nyeletuk, aku tertawa sambil mencubit pipinya. Kami kembali fokus pada layar hp. Mulai terdengar suara penghulu yang memberikan potongan ayat ayat tentang pernikahan. Aku takjub, melihat semua kesakralan ini. Jika saat itu aku memilih pergi ke rumah mas Zidan, apakah detik ini aku sudah merasakan akad nikah seperti di vidio? Gambar mulai menunjukkan para saksi yang duduk melingkari penghulu dan pengantin putra. Sepertinya aku mulai berhalusinasi mendengar suara mas zidan sedang mengucapkan akad. Sampai akhirnya kamera mengambil gambar dari samping, aku tau kalau itu mas Zidan. Detik setelahnya, otakku mendapatkan kesimpulan bahwa lailatus shalawat yang akan kami hadiri adalah acara pernikahan mas Zidan. Tiba-tiba semua menjadi gelap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar