Dan akhirnya, tadi aku menjawab pertanyaan yang selalu ditanyain sama Arka. Pertanyaan yang setiap dia mengajukannya, ada yang teriris di dalam sini.
"Kalau ini bulan mulud, dia bilangnya ba'da mulud. Berarti bulan depan"
Setelah itu, ada pertanyaan baru yang ia ajukan
"Kalau ini bulan mulud, dia bilangnya ba'da mulud. Berarti bulan depan"
Setelah itu, ada pertanyaan baru yang ia ajukan
"Kenapa ndak direbut aja bu?"
Aku tertawa
"Opo seng arep di rebut le?"
"Yo masnya. Direbut, dipaksa. Koyok dulurku iku bu, awale yang perempuan ndak mau diajak menikah. Terus dipaksa, tetep ndak mau. Lama-lama dipaksa terus sampai akhirnya mau. Sekarang udah nikah mereka"
"Le, namanya hati itu ndak bisa dipaksa. Kalau dari ceritamu, mereka saling mencintai tapi belum siap menikah. Kalau cerita bu guru, beliau yang ndak mau sama bu guru le"
"Kenapa?"
"Ya, karena ndak suka"
"Ndak masuk akal. Kenapa?"
"Ya, kamu masak mau nek suruh menikah sama tiit"
"Loh yo jangan mbek tit lah bu, ndak mau aku"
"Lah makane, dia juga gitu. Karena bu guru ndak sesuai sama seleranya"
"Tapi loh Bu guru levelnya tinggi. Coba aku disuruh nikah sama anak yang levelnya tinggi. Mau aku"
"Iyawes, coba sama tuut. Mauu? Meskipun kamu sukanya sama yang lain?"
"Nah, itu levelnya tinggi. Mau aku nikah sama dia. Bu guru juga level tinggi kok"
"Ya gimana ya le. Anak laki-laki itu konsisten sama hati. Beda sama perempuan. Samean misal suka sama anak, tapi dia gak suka. Berjuango wes, maju terus pantang mundur. Lama-lama dia akan suka. Beda sama laki-laki, kalau ndak suka, ya ndak suka. Meskipun bu guru jungkir walik, nek dia ndak suka ya ndak suka"
"Iyo yo bu. Samean wes jungkir walik ta bu?"
"Hm Ar, kok jungkir walik. Njauk bulan ae, nek iso tak jukukne Ar"
"Ahahaha, jok sedih Bu. Sek akeh ya, samean level tinggi kok bu"
"Ahahaha. Enek ae Ar, Ar. Wes ojo takon takon iku maneh"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar