Jumat, 29 November 2019

ceritaku, Ara


Iringan suara banjari dari laptop mengisi diamnya kami berdua. Dia yang sedang sibuk dengan kepulan asap rokoknya, dan aku yang sibuk meredam degup jantungku agar tidak terdengar dari luar.
"Piye nduk? Garap lagu bihamdillahi udna wes ya" katanya sambil menggeser posisi duduk.
"Nggeh mas, kulo kale lare-lare manut mawon" aku berusaha fokus agar tidak ketahuan sedang grogi.
"Yowis, sesok bengi nek iso arek-arek teko kabeh ya"
"Nggeh mas, siyap laksanakan" aku mengangkat tangan seperti sedang hormat pada bendera. Ia tertawa, benar-benar membuatku tak sanggup untuk menahan debaran yang semakin menggila.
"Aku i heran nduk, jaman saiki sek enek arek seng iso boso" ia menjentikkan abu pada asbak. Aku tersenyum sambil melahap tahu isi dan cabe rawit. Pedasnya lumayan bisa menutupi alasan memerahnya wajahku
"Nggeh njenengan ngajak ngobrol kale boso jawi, kan mboten kinten kulo jawab Indonesia" lagi-lagi ia tertawa.
"Samean i ratau meso a?" Aku terkesiap dengan pertanyaannya, lalu tertawa
"Kulo mboten remen kale omongan kasar atau mbentak Mas. Dados nggeh mboten mungkin kulo melakukan sesuatu hal seng mboten kulo remeni"
"Unik tibane, berarti samean ndak akan melakukan sesuatu yang samean ndak suka?"
"Lah nggeh, bukannya memang ngoten e? Kalau ndak mau dipukul ya jangan mukul. Lak ngoten see?" Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Dia lagi-lagi tersenyum.
"Aku ae kadang lupa filosofi kui nduk. Malah seringe hanya ndak suka dipukul, tapi kadang suka mukul"
"Loh, lak mboten adil dong"
"Yo kui menungso. Mau mukul, ndak mau dipukul. Mau diberi, ndak mau memberi. Bahkan kadang setuju dengan sesuatu yang menguntungkan dirinya pribadi meskipun itu salah. Dan menolak kebenaran kalau itu ndak menguntungkan dirinya sendiri" aku termenung, memainkan tangkai cabe yang kesembilan. Obrolan yang belum aku temukan pada lelaki lain. Belum pernah ada lelaki yang mengajakku ngobrol sedalam ini. Biasanya hanya gurauan dan basa-basi yang sudah basi. Aku menatapnya yang mengunyah tahu isi. Sosoknya benar-benar idaman bagiku, atau mungkin juga bagi para wanita diluaran sana. Sepertinya sejak pertama kali kami bertemu, hatiku sudah memutuskan untuk jatuh pada keteduhan wajahnya dan kemerduan suaranya. Sebenarnya diskusi bisa dilakukan di basecamp bersama dengan yang lainnya. Tapi entah kenapa, setiap dia mengajakku ngopi dengan dalih diskusi lagu baru, aku tak pernah menolak.

Seperti biasanya, lagi-lagi aku datang paling awal. Sembari menunggu yang lain, aku bersenandung kecil lagu yang akan kami bawakan.
"Nduk Ra, kok mesti teko disik toh"
"He, nggeh mas. Mboten eco umpami dirantos, mending ngerantos"
"Wih, calon bojo seng apik iki" aku mendongak, menatap dia yang sedang melepaskan jaket. Hatiku menghangat
"Lah, kok saget e mas?"
"Loh yoiyo. Arek lanang i ora enek seng seneng ngenteni suwe suwe. Saking ae wedok ra peka, mung njauke di pekai. Nyoh iki" sambil mengulurkan kresek hitam padaku
"Damel kulo ta? Nopo niki mas?" Tanyaku sambil membuka kresek tersebut
"Gelang, mau aku teko toko aksesoris karo kancaku. Ndelok gelang iku kok apik, lucu, iling samean deh. Pake yo" dia mengambil gelang itu dan memasangnya di tangaku. Mau tidak mau, aku menunduk sambil mesem.
"Maturnuwun mas" dia menatapku, sambil tersenyum. Duh Gusti, beruntung aku bisa lahir di dunia dan menikmati senyumnya.
"Nduk, samean percaya karo cinta pada pandangan pertama?" Aku reflek menggeleng dengan semangat, dia tertawa "kari cepet rek jawabe. Coba jelasne age" aku meringis mendengar permintaannya
"Em, yaknopo ya. Nggeh pokoknya kulo mboten setuju mas. Kadang ketika kita ketemu seseorang, tiba-tiba wonten perasaan deg ngoten. Kados seng lah iki loh, seng tak golek. Ngoten"
"Pandangan pertama iki diidentikkan dengan fisik berarti?"
"Sedikit banyak sih nggeh. Eh tapi mboten melulu fisik sih, kadang kan nate kita ketemu orang seng suaranya enak. Dalam sekali dengar garai adem ati, terus suka. Atau, orang seng omongane niku masuk banget teng ati, terus simpati, akhirnya suka"
"Terus terus" tanyanya sambil menggeser duduk semakin dekat
"Lah untuk eksekusi menjadi suka atau ndak, niku kan wonten berbagai tahap. Suka hanya suka kagum, yang artinya namung menyukai apa yang disukai tok. Kados suara atau wajah atau cara guyon dan lainnya. Atau suka beneran yang melewati tahap mengenal lebih jauh. Lah sakniki mosok bade tas kenal, polae ganteng langsung dipek bojo kan mboten. Wonten tahap perkenalan lebih lanjut. Nah dugi niku kan saget memutuskan bade menempatkan diri menjadi suka seng yaknopo. Ngoten lo"
"Wiih, jeru ee. Terus, opoo hal itu tidak bisa disebut sebagai cinta?" Dia menopangkan dagu pada tangannya. Gemash sekali melihatnya seperti itu
"Em, kulo penganut paham tidak memakai kata cinta untuk urusan sesama manusia mas" aku tertawa, dia juga tertawa
"Jan samean iki yo, enek aee. Wes wes ayok, belajar suluke sek wae. Dadi engko ben iso langsung ngelebokne suara" aku mengangguk, lalu mulai melantunkan suluk yang sebelumnya sudah diajarkan oleh dia. Latihan selesai pukul sepuluh malam, aku yang masih SMA dan tidak bisa naik motor, akhirnya memutuskan untuk jalan kaki. Setidaknya itu keputusan awal sebelum dia memaksa mengantarkanku pulang. Takut diculik katanya.

Sejak malam itu, terhitung empat tahun sudah kami dekat. Dekat dalam artian yang sebenarnya. Hampir setiap ada waktu luang kami bertemu, bertukar kisah tentang hari dari subuh hingga dini hari. Setiap malam dia ada di ruang tamu kostku. Kalaupun absen berkunjung, kami tetap mengobrol melalui videocall atau telefon. Duniaku perlahan mulai berporos padanya. Dari makanan faforit, hingga jam tidurnyapun aku hafal. Segala model baju, hingga ada berapa sisa rokok dalam tasnya pun aku tau. Kami tidak pacaran, setidaknya dia tak pernah menyatakan suka padaku. Kami hanya dekat, mengalir begitu saja. Durasi obrolan mulai mengalami peningkatan menit. Dari yang awalnya hanya basa-basi dan banyak diam, sekarang seperti wawancara. Ada saja topik yang kami bicarakan.

"Ra, belum tidur nduk?" Suara diseberang sana membuat ngantukku hilang sempurna.
"Mboten mas, kok dereng tilem?" Sahutku sambil bangun dari tidur.
"Baru selesai rapat ini. Terus nongkrong di warung ketan depan kosmu. Keluaro ra"
"Sekedap ya, mau kerudungan dulu"
"Hooh nduk. Tak liatin dari sini" aku bergegas lari ke kamar mandi, cuci muka secepatnya. Ambil kerudung langsungan dan memakai lipbalm tipis. Aku berlari menuju balkom depan sambil membawa handphone. Terlihat diseberang sana dia melambaikan tangan yang tengah memegang rokok. Aku membalas lambaiannya sambil tertawa.
"Ngapunten ya mas, ndak bisa keluar. Ndak enak sama penjaga"
"Aku yo emoh bagi-bagi sosok bidadari sama orang-orang di sini" kini ia tengah menyeruput cangkir di depannya. Kalau tebakanku benar, itu kopi susu tanpa gula.
"Heleh gombal"
"Ahahaha, dari bawah sini aja kamu terlihat cantik nduk. Pasti barusan macak sek ya"
"Ih geer, mboten yo" duh, aku harap lampu balkon tidak menunjukkan dengan jelas dari atas sini kalau pipiku memerah.
"Kok dereng tilem loh"
"Ngerantos njenengan" aduh, sedikit berbohong deh. Aku tau tadi dia pamit untuk rapat. Meskipun ketiduran, yang penting niat utamaku memang menunggu dia selesai rapat kok. Lagipula, rapat macam apa yang selesainya hampir dini hari.
"Nduk, selamat ulang tahun ya" deg! Aku melihat jam di layar hp, ternyata sudah 00.01 "semoga sehat selalu, barakah umurnya, diberikan kebahagiaan dan selalu menawan" saat aku menoleh ke bawah, dia menatapku sambil mengacungkan korek yang hidup
"Maturnuwun mas, duh terharu" aku mengusap air mata yang jatuh tanpa komando
"Ngusap ketek yo kui. Ahahaha" tawanya membuatku ingin berlari turun dan memukul pundaknya
"Mboten yaa. Huu suudzon kan" tawanya terdengar semakin meledak
"Ayo nduk, ditiup ini. Baca doa dulu, merem age" aku tersenyum, sambil menangkupkan tangan di depan dada. Menunduk, sambil merapal doa. Aku berharap, bisa terus seperti ini. Melihatnya tersenyum dan berbahagia. Aku benar-benar lupa mendoakan diriku, yang aku doakan hanya dia dan kebahagiaannya.
"Aamiin. Sampun doa mas"
"Tak itung ya. Siji, loro, yak tiup" tepat saat aku meniup angin, korek dibawah sana ikut padam. Dan malamku, terasa jauh lebih terang.
"Wes, istirahat. Sesok bar subuh tak jemput ya"
"Bade teng pundi mas" tanyaku penasaran
"Wes toh, pokoke seharian iki, awakmu tak dadekne putri nduk" kekehnya mulai terdengar. Membuatku mau tak mau ikut tertawa renyah
"Siyap laksanakan komandan" kami tertawa, melanjutkan obrolan sampai ketan pesanannya tandas. Setelahnya, ia pamit pulang. Dan aku, kembali tidur dengan penuh kebahagiaan.

"Marem nduk?" Katanya sambil mengaduk pop ice coklat. Aku manthuk manthuk sambil tersenyum.
"Maturnuwun mas" sambil mengacungkan jari telunjuk dan jempol yang membentuk love.
"Ahahahahaha. Opo iki, tanda opo? Nyuwun uit?" Kelakarnya. Aku manyun sambil menurunkan tanganku.
"Mas loo"
"Hahahaha, yoo ojo ngambul toh cah ayu" tangannya mencubit pipiku. Dan seketika, debaran jantungku tidak terkendali. Sejak awal pertemuan dulu, hingga hari ini. Tak sedikitpun debaranku berkurang jika berhubungan dengan dia. Herannya, hubungan diantara kami pun, tidak ada status dan komitmen apapun. Tidak ada kalimat romantis yang ia umbar. Hanya terkadang gombalan receh tapi unik yang bisa membuatku tertawa terpingkal pingkal. Diantara kami pun tidak ada aturan dan kepemilikan apapun, hanya berjalan apa adanya saja. Dan kami, bisa bertahan dengan keadaan ini tanpa banyak drama. Matanya menatapku dengan hangat, lama sekali. Dan itu membuat aku malu. Perlahan, kutundukkan pandanganku pada sedotan plastik berwarna pink yang senada dengan pop ice dalam gelas. Hening diantara kami hingga membuat suara gesekan ranting menjadi nyaring. Perlahan kuberanikan diri melihatnya, aku ingin tahu bagaimana ekspresi yang ia munculkan dalam keheningan ini. Ternyata, ia masih menatapku, membuatku semakin salah tingkah.
"Cemot ta mas?" Dia mengernyitkan dahi, lalu tertawa
"Kok iso kepikiran kui toh nduk?"
"Njenengan sih, ningaline ngoten" aku sok sok protes, padahal semu merah pasti mulai menyeruak di pipiku
"Nduk, nikah ayo"
"Ha?" Refleks, aku melongo. Kenapa tiba-tiba muncul kalimat ajakan seperti itu? Dia tersenyum, aku masih syok.
"Loh, serius aku" tangannya memegang tanganku. Aku terdiam, dan menangis secara tiba-tiba saja. "Loh nduk, kok nangis toh" dia panik. Berusaha mencari jawaban padaku yang menutupi wajah dengan tangan. 
Aku bahagia, amat sangat bahagia. Saking bahagianya, air mata tiba-tiba menyeruak muncul. "Nduk, nek ndak kerso ndak papa. Ojok nangis tapi nduk" mas Zidan menyandarkan kepalaku pada tubuhnya. Merengkuhku yang masih saja menangis tanpa bisa kuhentikan. Aku ingin berteriak bahagia, melompat setinggi awan untuk menunjukkan betapa bahagianya aku. Tapi kenapa malah yang keluar air mata? Aku ingin memberitahukan dia bahwa aku benar-benar bersedia dan sangat bahagia mendapatkan tawaran seperti itu. Namun lihatlah, yang aku lakukan justru membuatnya khawatir. Aku berusaha sekuat tenaga meredam tangisku
"Purun mas, kulo purun" ingus dan isak tangis berebut ingin saling mendahului untuk aku keluarkan. Pelukannya menjadi lebih erat, dan aku sayup sayup mendengar isak tangisnya juga. Terimakasih tuhan, untuk segala kejutan indahmu.

Manusia hanya bisa berencana, Tuhanlah yang menentukan. Seperti hujan yang tiba-tiba datang ditengah hari ini. Tanpa mendung, tanpa gemuruh. Aku memandang jalanan yang basah, menguapkan bau yang khas saat hujan pertama turun. Aroma tanah, kubilang. Segar dan membuatku selalu ingin berlarian dibawahnya. Aku menelfon nomor mas Zidan, tersambung. Beberapa kali setelahnya, tetap tidak diangkat. Mungkin sibuk, pikirku. Setelah kegiatan kkn yang marathon dengan magang, aku merasa jarak diantara kami semakin renggang. Dia mulai sibuk dengan urusan kenaikan jabatannya, pun aku yang mulai direpotkan dengan segala keperluan untuk tugas akhirku. Intensitas obrolan kami berkurang drastis. Saat aku ada waktu telfon, dia ada rapat. Pun saat dia ada waktu akhir pekan, aku yang sibuk dengan tugas kuliah. Dunia kami sudah berbeda jauh, kesibukan kerjanya seperti menyedot hampir 24jam waktu yang sebelumnya banyak luangnya untukku. Ditambah lagi, pertengkaran besar kami seminggu lalu.
"Coba maturo ayahmu nduk" tanyanya sambil menggenggam tanganku
"Sampun mas, terose ayah nunggu lulus, wisuda. Minimal sidang lah"
"Nek sidang, minta opo samean?"
"Njenengan dugi mawon cekap mas. Kulo marem pun, mboten usah repot laine" jawabku sambil nyengir padanya.
"Nek samean sidang, tak lamar langsung ya"
"Teng kampus? Ngajenge tiang katah?"
"Loh iyo toh, bene kabeh wong ndak takon takon maneh kapan kita resmi" jawabnya sambil tertawa.
"Dih, mas loh. Isin ah" protesku sambil mencubit lengannya. Dia meringis, pura-pura kesakitan. Lalu membetulkan rambutku yang mengintipnya dibalik kerudung.
"Paling cepet kapan?"
"Semester depan, insyaallah mas" jawabku sambil menarik janggutnya.
"Suwe loh kaah" ekspresinya sungguh menggemaskan.
"Kesusu bade teng pundi toh mas" aku tertawa.
"Selak dipek uwong ngko" kami tertawa bersama.
"Sabar toh, kan semester depan insyaallah"
"Samean i dolan tok makane. Wes rausah melu fesban fesban maneh"
"Loh, kok ngoten seh. Mpun campur adukkan fesban kale urusan niki lah" aku protes
"Kan, dikandani ngeyel toh. Samean kakean fesban iki, sampe ndak mari skripsi semester iki" hatiku memanas, tidak pernah sebelumnya dia mengungkit ungkit kuliahku yang menurutku sudah tergolong cepat ini.
"Njenengan seng ngenalaken kulo teng banjari, teng fesban, njenengan seng bejo nek banjari niku mboten bakal menghambat kuliah. Kok sakniki malah njenengan piyambak seng ngeten sih" suaraku mulai sedikit tercekat, duh aku mulai emosi
"Loh kan, aku ngomong ngene i bene dadi motivasi samean nduk. Bene ndang digarap skripsine, bene wakdewe ndang iso nikah. Samean gak ndang nggarap makane, santai tok"
"Mas, njenengan niki mboten kinten mboten ngertos yaknopo perjuangan kulo pados topik, pados referensi, pados buku damel skripsi. Njenengan nggeh ngertos piyambak yaknopo susahe bimbingane pak Abdul. Kulo fesban nggeh namung damel hiburan ditengah skripsi. Njenengan lak nggeh ngertos kulo sering mboten tilem, mboten dhahar damel nggarap skripsi. Kok saget sih njenengan ngomong ngoten" air mataku jatuh, tanpa aba-aba. Aku menangis karena marah, marah pada diriku, marah padanya, marah pada ayahku, marah pada pembimbingku, kampusku. Aku marah pada semuanya telah membuat segala hal terasa begitu rumit. Emosiku meledak, pun dia. Butuh waktu agak lama sampai akhirnya dia memelukku dan meminta maaf. Pelukannya yang biasanya selalu bisa menjadi tempat ternyamanku, tiba-tiba membuatku terasa semakin sesak. Belum pernah kami bertengkar sampai aku menangis di depannya. Hatiku sakit, saat dia bilang aku tidak segera mengerjakan dan menyelesaikan skripsiku. Duh Gusti, kenapa aku tiba-tiba kecewa sekali dengannya?

Ada telefon masuk dari mas Zidan, sejak dering pertama, aku langsung mengangkatnya
"Nduk ayo temenin mas beli sepatu"
"Kapan mas?"
"Nanti malem. Sekalian jalan-jalan, wes suwe ratau jalan-jalan kan kita"
"Oke, mantun magrib jemput nggeh. Kulo tak siap-siap"
"Sip, wes ya, assalamualaikum" setelah kujawab salamnya dan telepon dimatikan dari seberang sana, segera aku bersiap-siap. Kencan pertama setelah berbagai macam kesibukan dan prahara diantara kami berdua. Sembari menunggu, aku membuka e-mail dari temanku yang isinya lowongan untuk magang bekerja di kedutaan besar Indonesia di Iran. Salah satu tempat dan pekerjaan yang sangat aku idam-idamkan. Lowongan dibuka untuk tahun depan, yang artinya masih bisa aku ambil jika wisuda paling lambat semester depan. Aku tidak sabar untuk menyampaikan kabar bahagia ini pada mas Zidan.
Setelah berbelanja sepatu, makan, dan nonton, kami bersantai di salah satu kedai kopi faforit kami. Mas Zidan menanyakan perkembangan skripsiku. Aku jelaskan jika sudah sampai tahap penyusunan panduan wawancara, yang artinya jika sudah ACC, maka aku bisa langsung turun lapang. Dia terlihat bahagia dan bersemangat mendengarkan ceritaku tentang skripsi.
"Pandungane mas, kersane langsung set set ACC. Ngoten yaa" pintaku, lalu dia mengangkat tangannya, mengatakan dengan kencang kalimat Aamiin sampai orang disekitar kami tertawa. Aku memukul pelan lengannya
"Dih mas iki lo, isin kah" dia tertawa
"Loh, kersane manjur toh nduk aamiin e. Aamiin paling serius iki" ganti aku yang tertawa
"Eh mas, enten lowongan damel magang teng dubes Iran loh" aku mengatakan sambil berbinar-binar. Dia diam, lalu menyulut rokoknya.
"Hm, terus?"
"Pengeeeeen"
"Berapa lama?"
"Em, kadose sih serangkaian tes dan lain-lain niku 2 minggu teng Jakarta. Terus nek pun final, mulai bidal sampe wangsul maleh nggeh satu tahunan. Nek cocok, langsung direkrut mriko. Uuuh pengen maaas" ceritaku sambil menggebu-gebu. Dia, menghela nafas panjang dan dalam.
"Samean opo ora kerso nikah mbek aku toh nduk?" Tatapan dan kalimatnya, entah mengapa membuatku ingin menangis.
"Kok mas bejo ngoten?" Protesku
"Samean loh nduk, ndak mikiri kelanjutan hubungane kene. Kan mari samean sidang, atau wisuda lah. Wakdewe arep nikah toh?" Aku sama sekali tidak berfikir ke arah sana. Aku diam, menunduk.
"Nduk, mas ora ngalangi kowe bekerja atau belajar nduk, ora. Cuman mbok ya samean i mikir jangka panjangnya, ke depannya. Ojo mikiri tentang samean tok nduk, tapi tentang wakdewe" kata-katanya benar, tapi entah kenapa aku tidak setuju
"Mas kan ngertos kulo pengen banget mriko"
"Iyo, mas paham. Paham nemen nek iki cita-citae samean mulai ndisik. Tapi nek wakdewe wes nikah, terus samean nguber iku, mas mbek sopo nduk? Mosok ate nikah ngenteni samean mulih teko kono?"
"Mas mboten purun ngerantos kulo?"
"Nduk, nek aku ora gelem ngenteni kowe, wes tak tinggal nggolek calon lain seng siap nikah saiki saiki nduk. Cuman kan kesepakatane kita, bar samean sidang atau wisuda toh" dia mengelus jilbabku. Aku diam, menahan perasaan marah dan sebal pada mas Zidan.
"Yawes sana" tiba-tiba saja ucapan itu keluar dari mulutku. Mas Zidan berhenti mengelus jilbabku, tangannya ia lipat diatas meja. Duh, aku ngomong apa sih.
"Maksudnya?" Tatapannya menusuk, aku ingin menyudahi ketegangan diantara kami.
"Cario calon istri lain, aku emoh. Mas egois" perkataan yang aku sendiri tidak tahu dari mana munculnya. Aku diam, lalu berdiri. Mas zidan menahan lenganku, meminta kejelasan
"Arep nandi emosi ngunu?"
"Pulang" aku berharap ia menahanku dan meminta maaf, agar semua bisa kembali baik-baik saja.
"Ayo, tak anter"
"Ndak usah" potongku cepat
"Nduk, aku yang jemput kamu. Dadi aku seng kudu nganterin samean" akhirnya aku menurut dan diam. Sepanjang jalan pulang, punggung yang biasanya tempatku merebahkan kepala, tidak tersentuh sama sekali. Terlihat dingin, atau aku yang terlalu angkuh untuk meletakkan kepala seperti biasanya? Sampai di kosan, mas Zidan pamit sambil memelukku dengan hangat.
"Sepurane ya nduk nek mas mau emosi. Saiki terserah samean, mas manut" aku diam, saat ia melepaskan pelukannya padaku, aku membalikkan badan dan menangis. Menyesal mengapa egoku tidak mau mengalah dan berpikir secara rasional. Sesampainya di kamar, aku menangis. Meluapkan segala hal yang ada dipikiranku. Menyesali perkataan dan perbuatanku pada mas zidan hari ini. Sampai akhirnya, aku terlelap.
-semoga harimu cerah seperti biasanya nduk. Mas ada rapat dan lembur beberapa hari kedepan. Maem dijaga loh ya-
Pesan yang sedari tadi hanya aku lihat. Belum terbaca, apalagi kubalas. Dulu, saat kami bertengkar kecil saja, dia tiba-tiba muncul diparkiran kampus atau kosan. Dengan membawa coklat dan monopoli. Yang kalah, harus nraktir yang menang. Meskipun aku tau mas Zidan jauh lebih jago dariku, tapi dia selalu mengalah agar bisa mentraktirku batagor depan kampusnya. Setelahnya, kami akan berbaikan. Sekarang, jangankan untuk bermain monopoli. Ngobrol lama saja hanya mendapatkan jatah seminggu sekali. Aku bertekad tidak akan mengirim pesan dulu padanya sampai ia meminta maaf padaku. Setelahnya, aku mengambil tawaran dosenku untuk menjadi asisten penelitian beliau. Makin sibuklah aku dengam urusan yang bukan prioritas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar