Senin, 25 Mei 2020

Mas Alif, part 1

"nanti selesai kelas jam berapa?" Tanyanya diujung telfon
"Jam 2 mas, kenapa?"
"Ada kelas lagi?" Aku melihat jadwal di sampul binder
"Nggak, ini yang terakhir. Mau makan?"
"Boleh, sama nonton yuk. Ada yang pengen aku liat. Ratingnya sih bagus kayake" aku melihat beberapa anak mulai masuk sambil berlari, sepertinya dosenku datang
"Oke, nanti aku kabarin ya. Ini bu Lia udah dateng, dah" aku merapikan peralatan tulis dan jilbab hijauku.

Orang diujung telepon sana adalah mas Alif, rekan dalam UKM yang akhir akhir ini dekat denganku. Dia punya pacar, tapi ya bagaimana lagi. Kami hanya teman, setidaknya itu yang selalu dia yakinkan pada pacarnya. Setiap saat kami berkirim pesan, setiap malam kami berbincang melalui telfon, setiap ada waktu luang juga vidiocall. Akhir pekan setelah latihan kami makan, jalan, berenang. Apakah seperti itu teman? Entahlah, yang aku tau hanya aku menyukainya, aku suka menghabiskan waktu dengannya, aku suka berdiskusi hingga subuh dengannya via telfon, aku suka segala hal tentang dia. Dan aku tau mungkin sikapku salah, sikapku egois. Tapi ayolah, siapa yang tidak bahagia dekat dengan seseorang yang kita sukai? Setidaknya kami memang ngobrol sebagai teman, meskipun kadang ada beberapa kalimat dan bercandaan yang lebih dari itu. Selingkuhan? Tidak. Sejauh ini dia tidak pernah mengajakku menjadi selingkuhannya. Semuanya mengalir begitu saja. Bahkan aku sudah lupa, sejak kapan hubungan kami menjadi semakin dekat seperti ini.

Diluar dugaan, dosenku melebihkan jam kuliahnya 10 menit. Padahal di dalam kelas hanya tinggal aku dan satu orang temanku yang masih duduk mendengarkan. Lainnya tertidur dan sebagian lagi maen hp. Aku membuka wa dari mas Alif. Ada 2 pesan
-Kal, aku minta maaf ya. Nyonya minta anter ke salon nih. Nontonnya kita pending dulu aja-
-btw, jangan bales chatku. Ntar tunggu aku chat duluan-
Aku menertawakan diri sendiri, kasihan sekali kamu kal. Apa yang kamu harapkan dari masuk di hubungan orang? Aku melihat Bu Lia, kembali memperhatikan beliau yang sibuk merapikan meja.

"Kal, kamu itu cantik, baik, supel, pinter, ramah. Tinggal nyari cowok yang jomblo kenapa toh?" Amira, salah satu temanku mulai berceramah. Aku nyengir, tidak berkomentar.
"Kal, hukum karma itu ada loh" deg! Aku menoleh pada Mona "bukannya apa, kamu perempuan, mbak itu perempuan. Kalian kan sama-sama perempuan, masa iya kamu tega. Bayangin kamu ada di posisi mbaknya. Pacarmu jalan sama cewek lain, bahkan hampir tiap detik chating dan gak pernah putus. Piye perasaanmu?"
"Kal, kita itu gak mau kamu dicap jelek. Pelakor hayo, kita gak pengen kamu sampe dilabrak Kal. Wes toh, tinggalin mas Alif itu. Udah jelas dia ndak baik. Kalau dia baik, ndak mungkin dia bermain di belakang ceweknya. Dan kalau dia suka sama kamu, gak mungkin dia jadiin kamu simpenan" Amira memegang pundakku
"Aku bukan simpenan rek, bahasanya kalian loh terlalu tinggi" aku tertawa, mereka tidak
"Kalau nanti ada apa-apa, pasti kamu yang dicap jelek. Kamu yang dicap gatel Kal. Dan kalau dia mutusin mbaknya karena kamu, apa ada jaminan dia ndak bakal ngelakuin hal yang sama ke kamu demi perempuan lain? Percayao sama kita, kita gak mau kamu disakiti Kal"
Aku terdiam, sedikit banyak omongan mereka ada benarnya. Dan perlahan, aku mulai memutuskan untuk mundur teratur dari hubungan mas Alif dan pacarnya. Mungkin memang itu yang terbaik untuk semua.

"Kal, turun dong. Aku di depan" suara dari seberang telefon sebelum mati. Segera aku berlari ke depan almari. Memakai bedak dan lipgloss, mengambil kerudung dan jaket, lalu buru-buru ke bawah. Ada mas Alif, dengan kaos pink-peachnya sedang duduk di teras kosku.
"Hai mas" dia menoleh, tersenyum sambil mengulurkan kresek. Aku mengerutkan kening, isinya satu box besar es krim 3 rasa. Vanilla, strawberry dan capucino.
"Aku minta maaf ya tadi siang" aku mengeluarkan es krim dan sendoknya
"Gapapa, aku juga tadi ada tugas kelompok selesai kuliah" jawabku sambil mesem.
Lalu kami berbicara banyak, tentang kegiatan UKM minggu lalu, tentang jadwal latihan bulan depan, bahkan tentang kegiatan bakti sosial untuk akhir periodenya. Ya, dia adalah ketua UKM olahraga universitas. Siapa yang tidak kenal dia? Dan aku, kebetulan jadi penanggung jawab salah satu cabang olahraga. Meskipun awalnya aku tidak terlalu suka dengan dia, lama-lama aku jadi paham mengapa dia seperti itu. Semakin kesini aku semakin tau alasan keputusan-keputusan yg dia ambil selama ini. Entah sejak kapan aku menyukainya. Apa sejak aku bertemu hantu dan mengantarkan aku ke kos saat turnamen tahun lalu. Atau sejak kami saling bercerita hingga larut malam berganti pagi. Aku lupa, tapi yang jelas aku mulai menyukainya sejak kami belum sedekat ini.
"Tadi belanja apa aja?" Tanyaku dengan memberanikan diri. Dia menoleh
"Aku gak belanja, cuman nganter nyonya. Kenapa? Kamu mau aku anter belanja?" Aku menggeleng, dia tertawa
"Mas, aku rasa aku mau mundur" aku menyendok es krim sambil menunduk
"Mundur? Dari kepanitiaan event? Dari koordinator? Atau mundur dari UKM?" Dia mendekatkan wajahnya, aku pura pura masih sibuk melahap es krim yang sudah habis. Tiba-tiba dia memegang lenganku dan menariknya agar aku berdiri. Kami naik motornya dan menembus malam, dia masih memegang tanganku ke depan. Mengeratkan peganganku pada perutnya, aku nelangsa. Mengapa aku harus jatuh cinta pada orang yang sudah milik orang lain? Mengapa tuhan menjatuhkan hatiku pada hati yang sudah dijatuhi hati lain terlebih dahulu?

Laju motor terhenti di warung pempek kesukaanku. Kami memilih rooftop, karena di bawah banyak keluarga dengan anak-anak kecil. Kami saling diam setelah memesan. Lalu dia memegang tanganku, menatapku begitu dalam dengan mata hitamnya yang pekat. Duh, tolong aku, aku tidak sanggup lagi untuk tidak terus-menerus jatuh hati pada lelaki ini.
"Kal, ayo kita ngobrol" dia memasang wajah serius
"Yo ayo, tinggal ngobrol kok" aku tertawa
"Aku pengen kita ngomong serius Kal"
"Oke" aku hanya bisa tersenyum. Aku sepertinya tau ke arah mana pembicaraan ini
"Ayo kita bicarakan hubungan kita Kal" ha? Apa aku tidak salah dengar?
"Hubungan apa?" Wah, tidak kusangka aku berani juga bertanya seperti itu
"Hubungan kita Kal, hubungan ini" dia memegang punggung tanganku
"Mas, hubungan kita hanya sebatas rekan kerja. Dan sepertinya memang lebih baik hanya sebatas itu. Aku mundur saja kalau selama ini aku kelebihan batas"
"Kok kamu gitu Kal" wajahnya memelas
"Terus aku harus gimana mas? Mas kan udah punya pacar"
"Iya aku tau, tapi aku gak mau kamu mundur kal. Udah kayak gini aja" kenapa justru aku senang dia tidak ingin aku mundur? Apa ini artinya dia punya perasaan yang sama denganku?
"Gak bisa mas, kalau mbak itu tau dia akan sakit. Mas gimana sih. Mas harus memilih dong" aku pura-pura sibuk menuangkan cuko pada pesanan kami yang baru datang
"Kal, aku gak mungkin putus sama dia. Tapi aku juga gak mau kamu pergi kal"
"Maunya mas gimana?"
"Aku mau kalian berdua. Aku mau pacarku, dan aku juga mau kamu Kal" ah, aku salah. Kukira dia akan melepaskan pacarnya demi aku
"Gak bisa mas, kamu harus memilih"
"Aku milih kalian berdua" aku tertawa dan mengajaknya mengakhiri pembicaraan ini. Kami makan sambil mengobrolkan hal lain. Disatu sisi, aku kasihan dengan pacarnya. Tapi disisi lain, aku tidak bisa berbohong kalau aku juga menyukainya. Aku suka dia pilih, meskipun hanya jadi yang kedua. Bucin? Ya, begitulah. Setiap manusia pasti pernah menjadi bucin pada seseorang atau sesuatu.

Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Yah, pepatah itu ada benarnya. Karena selalu ada kemungkinan terburuk dalam setiap hal, selalu ada risiko dalam setiap keputusan. Seperti keputusan yang aku ambil, risiko besar namun aku tak peduli. Aku kadung jatuh hati, dan kapan lagi orang yang aku sukai juga menyukaiku. Selepas perbincangan kami malam itu, memang aku mulai perlahan mengabaikan chat dan telfonnya. Namun mas Alif malah semakin gencar datang ke kos dan kampusku. Awalnya, aku kekeuh menolak dan menjauh. Tapi ternyata, akhirnya aku luluh juga dengan perjuangannya. Aku tidak bisa menolak membalas chatnya yang selama ini aku abaikan. Aku tidak sanggup membiarkan telepon darinya berdering tanpa henti. Dan ternyata, aku tidak sanggup tidak melihat dia, tidak mendengar tawanya, tidak mendapatkan cubitan pipi darinya. Sungguh, ternyata memang aku yang tidak sanggup kalau tidak dengan dia. Saat kami kembali berbaikan, kami ketahuan dengan pacarnya. Dia marah besar, aku dihina habis-habisan, aku dicap perempuan paling rendahan. Mau menyanggah, tapi nyatanya memang aku bersalah. Sedangkan mas Alif? Dia seolah menjadi korban yang bebas tuntutan. Sepertinya di sini hanya aku yang bersalah sendirian. Hanya aku yang disalahkan, dan mas Alif hilang tak memberikan pembelaan. Padahal aku ingat sekali mas Alif sendiri yang pernah bilang kalau dia ingin aku bertahan, karena aku memberikan apa yang pacarnya tidak berikan. Yaitu perhatian dan sosok yang selalu ada untuk dia. Tapi sekarang, yang ada hanya aku adalah seorang perusak hubungan orang. Seolah aku yang mengejar mas Alif membabi buta, dan mas Alif hanya korban rayuanku. Hah, ternyata semua lelaki sama saja.

Sejak saat itu, aku benar-benar menghilang. Mas Alif berusaha menghubungiku, meminta maaf kepadaku dan menjelaskan mengapa dia bersikap berpihak pada pacarnya dan bukan padaku. Tapi aku tidak peduli lagi. Aku menjauh, bahkan menghilang dari hidupnya. Berusaha menghindari segala hal yang akan berurusan dengannya. Menghindari seluruh kegiatan yang kemungkinan akan mempertemukan kami. Memblokir semua kontaknya, memblokir semua media sosialnya, menolak bertemu meskipun sudah berjam-jam dia menunggu di ruang tamu kosku. Sikapku kekanakan? Yah, beginilah aku bisa bersikap. Aku sakit hati, ternyata lelaki yang sangat aku idamkan begitu mengecewakan. Aku marah, karena diperlakukan tidak adil dan dipojokkan sendirian. Aku sebal, karena ternyata mas Alif lebih memilih pacarnya. Tapi aku juga sadar, yang aku lakukan ini salah. Aku rasa aku pantas mendapatkannya, aku pantas dihukum oleh alam.

Dua bulan ini aku kehausan, haus semangat dan keceriaan. Setiap hari seperti ada yang kosong, ada yang hilang, ada yang kurang. Sampai tiba-tiba alam mempermainkanku, mempertemukan aku dengan mas Alif yang tiga bulan terakhir ini aku hindari. Tiba-tiba saja aku harus bertemu dia di ruang dosen kampusku. Sungguh hal yang tidak masuk akal dia ada di sini. Ternyata dosenku melakukan proyek pengabdian masyarakat yang anggotanya adalah kami berdua. Sungguh ironi yang menyebalkan, namun diam-diam aku syukuri. Yah, setidaknya dia sehat-sehat saja. Meskipun rambutnya terlihat sedikit gondrong dan kumisnya mulai tidak tapi. Parfumnya pun masih bau yang sama, parfum yang aku rekomendasikan. Parfum yang dia beli berkali-kali karena aku bilang aku sungguh menyukai aromanya. Aku merasa sedikit bersalah padanya. Karena aku sudah tidak adil membencinya. Ya, bukankah aku sendiri yang mau hadir dan menetap diantara mereka? Jadi sepertinya tidak salah jika mas Alif meninggalkan aku sendirian sebagai seorang tersangka. Bucin? Memang, itulah aku.

"Pulang naik apa Kal?" Tanyanya setelah kami keluar dari ruangan dosen bersama.
"Ini mau pesen ojek mas" aku nyengir, ternyata senyumnya masih berhasil membuatku ingin membawanya pulang.
"Sama aku aja yuk. Sekalian makan, lama kita gak ngobrol ngobrol" aku bahagia, tapi agak gedek juga kalau ingat kejadian waktu itu.
"Ngobrolin hubungan kita?" Aku tertawa, mencoba bercanda dengan kepahitanku waktu itu
"Hahaha, aku juga mau minta maaf soal itu. Maaf banget Kal, aku menyesal gabisa nepatin janji aku buat jaga kamu" wajahnya menyebalkan, tapi aku sayang
"Nggak deh mas, makasih banyak. Aku ndak berminat dimaki-maki lagi" aku membuka aplikasi ojek online, sebelum tiba-tiba dia mengambil handphoneku
"Kal, plis. Aku beneran mau minta maaf. Aku sama Nana udah putus, ternyata dia yang selingkuh. Dia tunangan sama kakak tingkatnya, seminggu setelah kami putus" aku diam, tidak pernah mengira plot twist dari kisah ini. Kami berpandangan, dia mengajakku duduk dan melanjutkan ceritanya "beberapa hari setelah insiden kita, dia login WhatsApp web di laptop aku. Dan dia lupa logout, dari sana aku nemuin chat mereka. Bahkan beberapa hari sebelum itu, dia udah setuju minta dilamar. Setelah tau itu kami putus, dan seminggu setelahnya mereka bertunangan. Benar-benar karma untukku karena menyakitimu ya Kal" dia menerawang, ada segurat luka di matanya. Ada kepahitan di senyumnya, dan hatiku sakit melihat itu. Aku sakit melihat dia terluka seperti ini. Aku memegang tangannya, dan dia mencubit pipiku
"Maaf, aku gak tau mas" dia tersenyum. Senyum yang sangat aku rindukan, meskipun masih ada sisa sisa kekecewaan di sana.
"Bukannya aku mau melakukan pembelaan atau basa basi agar kamu maafkan Kal. Tapi aku rasa, kamu harus tau kalau aku dan Nana sudah berakhir. Dan aku menyesal telah menyakitimu" kami diam sejenak, entah kenapa rasanya aku lega. Aku lega karena mas Alif bisa sekali lagi aku dekati. Tapi aku juga sedih tahu bahwa dia sempat patah hati karena dikhianati. Setelah hening yang panjang, akhirnya kami memutuskan untuk nonton. Mengabulkan agenda nonton kami yang tertunda beberapa bulan lalu.

Setelah hari itu, kami kembali seperti yang dulu. Chat dan telfon hampir setiap waktu, dari sarapan hingga buka puasa kami lakukan berdua, bahkan malam Senin hingga malam Minggu kami dihabiskan sambil main UNO di teras kosku. Aku semakin menyayanginya, menyukainya. Tidak ada setitikpun hal darinya yang aku tidak suka. Ketika dia penelitian skripsi, aku membantunya mengumpulkan data. Kami mengolah hingga menyajikan data bersama. Bisa dibilang, kerja yang kami lakukan pada skripsinya hampir 50-50. Pun saat aku skripsi, hingga wisuda. Tidak ada hal yang lebih romantis ketika dia berlari membelikanku sendal jepit ketika aku wisuda. Aku suka memasakkan tumis cumi pedas favoritnya. Aku suka menguncir rambutnya sebelum dia memasuki lapangan untuk bertanding basket. Aku suka mengelap keringatnya ketika kami makan ayam geprek pak Jos. Aku suka cubitannya pada pipiku saat aku sedang ngambek. Aku suka tatapan matanya saat melihatku makan. Aku suka senyumnya saat datang dengan memakai kemeja pink. Aku suka saat dia menggodaku ketika aku sedang serius dan tidak mau diganggu. Dan aku suka respon serta perlakuannya padaku meskipun kami tidak terikat status apapun selama tiga tahun ini. Percayalah, aku tidak pernah bosan dengannya.

"Kal, kangen" ucapnya sambil mengeratkan tanganku di perutnya. Aku tersenyum sambil menyandarkan diri di punggungnya yang hangat dan nyaman. Dia baru pulang setelah seminggu lamanya pergi seminar di Bali. Setelah membawakan oleh-oleh pie susu kesukaan kami, dia membawaku ke pak Jos. Waktunya makan malam sambil berkeringat, karena ayam geprek pak Jos terkenal paling juara sambalnya. Melihatnya didepanku sambil makan, benar-benar saat yang membahagiakan. Siapa sangka akhirnya kami bisa bersama lagi. Siapa sangka akhirnya hubungan tanpa status kami bertahan selama ini.
"Mas, aku dapat kerja di GA. Kemungkinan Minggu depan mulai berangkat" aku membuka pembicaraan setelah menghabiskan kerupuk.
"Wih, keren tuh Kal. Selamat ya, hebat banget ih kamu bisa masuk sana" matanya berbinar, tulus memancarkan selamat.
"Gak bisa maen UNO bareng lagi dong" kataku sambil mengaduk es teh.
"Nanti aku sempetin jenguk sebulan sekali atau duakali deh. Yaa"
"Ih, kurang" aku pura-pura cemberut. Dia tertawa, manis sekali
"Iya deh, seminggu sekali. Atau 3 hari sekali kalo gak ada lembur"
"Beneran?" Aku mendekatkan wajahku untuk meyakinkan jawabannya
"Beneeer" dia memasang wajah jeleknya sambil tertawa. "Eh kal, nonton yuk. Kangen nih" aku mengangguk cepat dan dia kembali tertawa.

Aku lupa siapa yang mulai menjauh. Aku lupa, siapa yang mulai acuh. Apakah kesibukanku yang membuat aku terlambat membalas chatnya hingga sehari hanya satu-dua chat saja. Ataukah kesibukannya yang menyita waktunya menelfonku? Aku yang terlalu lelah sampai kos karena menyesuaikan dengan pekerjaanku, ataukah dia yang mulai lelah melewati 3 jam perjalanan untuk sampai kos baruku? Perlahan namun pasti, hubungan kami mulai tidak sama. Tanpa ikatan apapun yang mungkin memberatkan orang lain saat akan berpisah, kami berdua tidak punya apapun. Tidak ada hal pasti siapa milik siapa, tidak jelas hal apa saja yang harus diberikan dan diterima. Semua berjalan sendiri, tanpa ada rambu-rambu yang harus kita ikuti. Sampai aku lupa kapan terakhir kali dia menelfonku, kapan terakhir kali kami bergandengan tangan, kapan terakhir kali aku bersandar dipunggung hangatnya, kapan terakhir kali kami bertatapan mata, aku lupa. Bahkan dalam beberapa waktu, aku lupa kalau kami pernah sedekat itu. Kesibukanku benar-benar mengambil lebih dari separuh kehidupanku.

Satu dua kali, kami masih saling mengirimkan kabar. Tapi sudah tidak seintens dulu, sepertinya kami sudah mulai dewasa. Aku sudah tidak lagi menggebu-gebu bahagia saat suaranya menyapa telingaku. Pun saat dia berkata menganggapku sebagai teman terbaiknya, aku sudah bisa menerima. Setidaknya aku merasa perasaan kami tidak harus dipaksa. Aku tidak ingin kami saling merusak hubungan dengan cemburu kekanakan. Toh, sejak awal kami berdua memang tidak pernah naik kelas menjadi lebih dari teman.
"Kal, pusing aku ditanyain pacar terus sama ibu" aku tertawa mendengar keluhannya dari seberang sana
"Ya bilang aja belum ada"
"Emangnya aku udah tua banget ya, disuruh nikah tahun depan"
"Ayok deh. Aku juga punya rencana nikah tahun depan" aku sedikit banyak berharap dia peka. Ternyata dia tertawa
"Ada ada aja kamu Kal. Kamu tuh temenku paling baik"
"Masa iya cuma temen? Bukannya mas dulu gak pengen aku pergi? Hayoloh" aku sedikit menggiringnya menjawab apa yang aku ingin
"Iya, kamu tuh baik banget. Terlalu baik jadi orang, sampai sampai aku gak mau kehilangan temen sebaik kamu cuma karena pacar" deg, aku sedikit terkejut
"Wah, kirain aku bisa jadi istrinya mas" candaku sambil menahan kecewa di seberang telefon
"Gak mungkin lah Kal, aku gak pernah nganggep kamu selain teman. Aku harap kamu juga gak pernah baper sama aku" dia tertawa, aku? Kecewa. Merasa seperti orang bodoh, aku tau sejak awal sepertinya memang perasaanku ini hanya bertepuk sebelah tangan. Pembicaraan kami berujung pada ucapan selamat tidur seperti biasanya. Bedanya, hatiku berada dalam posisi yang tidak sama. Aku tertegun, memikirkan apa yang sedang terjadi. Terkadang aku berfikir mungkin memang sejak awal aku sendiri, tapi dipertengahan kedekatan kami aku sedikit berharap dia punya minimal peduli padaku. Karena yang aku tau, dia sempat menahanku agar tidak pergi. Aku memang tidak berharap kami berpacaran, tapi aku sempat yakin dia menganggap aku lebih dari teman seperti lainnya. Aku benar-benar tidak menduga dia akan mengucapkannya malam ini. Kalau sudah begini, sudah jelas dia menginginkan aku sebagai seseorang yang akan dijadikannya istri. Lalu sekarang ini aku harus apa? Perasaanku 5 tahun ini harus aku buang ke mana? Aku merasa selama ini hidup dalam lelucon besar yang menyedihkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar