Senin, 25 Mei 2020

Mas Alif, part 2

Tiba-tiba saja pagi ini hujan, tepat setelah aku masuk kamar kos. Aku membuka cendela, membiarkan aroma hujan masuk memenuhi kamarku. Sambil membuka bungkusan nasi goreng, aku membuka WhatsApp. Melihat foto profilku berjilbab cokelat muda, sedang mengangkat sendok berisi nasi goreng dan difoto dengan flash dari depan. Yah, itu foto yang diambil mas Alif saat kami keluar untuk makan bersama pertama kali.
"Mau makan apa Kal?" Tanyanya

"Terserah mas, aku manut. Aku gak pilih-pilih makanan kok" jawabku sambil memajukan badan agar mas Alif mendengar suaraku.
"Nasi goreng ya Kal" aku mengulurkan tangan ke depan, menunjukkan kode kalau aku setuju. Mas Alif menepikan motornya di trotoar pinggiran gedung DPR saat gerimis mulai jatuh. Kami segera mengambil posisi duduk di salah satu sudut lesehan sebelum gerimis semakin deras.
"Aku takut mas"
"Kenapa?" Katanya sambil menaruh gelas es teh
"Aku takut tiba-tiba kita ketemu mbak Nana" dia tertawa sambil mengatur poninya
"Aman kok, dia lagi pulang kampung dari kemaren. Makanya aku ngajak kamu" aku tersenyum, kecut. Merasa sedih hanya dijadikan pelarian
"Sek aku mau bayar, berapa ya? 15 kan punyaku?" Tanyaku sambil mengambil tas
"Gak usah, aku traktir. Kan aku yang ngajak keluar" katanya sambil menahan tanganku
"Emoh, kan aku yang lapar dan minta makan" aku kekeuh membuka tas, mencari dompet tosca minisoku. Lah kok gak ada? Aku ubek ubek lagi, masih gak ada. Apa jangan-jangan aku gak bawa dompet? Karena memang kadang aku ganti tas dan sering mengeluarkan dompet. Akhirnya aku buka tas bagian depan, mencari uang yang biasanya selalu ada di sana. Tapi entah kenapa, nihil. Hanya ada tiga koin 100 rupiah. Heran, tidak biasanya aku membiarkan uang di tas bersih. Aku menyerah, aku mengangkat kepalaku saat nasi goreng kami datang.
"Mas, kayaknya aku tarik ucapanku deh" aku meringis
"Kenapa? Kan aku udah bilang mau aku traktir"
"Ehe, kayaknya aku gak bawa duid. Dompet juga ketinggalan di kamar" dia tertawa, tetap terlihat ganteng meskipun suasana diemperan sini remang. Aku menunduk malu, sambil memegang sendok. Dia mulai makan, aku hanya menunduk sambil sesekali melihatnya makan.
"Kok gak dimakan Kal?"
"Em, aku takut kalo ntar udah habis ternyata mas gak bayarin makananku" dia tertawa sambil mencubit pipiku
"Kamu takut aku tinggal kabur? Nih pegang kamu biar aku gak kabur" dia memberikan kontak motornya. Aku masih malu sambil menunduk.
"Kok bisa aku gak bawa duid sih"
"Kal" dia memanggilku. Saat aku mengangkat kepala, ada sesendok penuh nasi goreng dengan potongan telur di depan wajahku. Aku melongo, dia memajukan sendoknya sambil menyuruhku membuka mulut
"Mas, malu ih"
"Aaa....ayo dong Kal. Nih aku suapin" aku menggeleng
"Iya, aku makan sendiri aja. Jangan gitu" dia tertawa, sambil tetap memaksa agar aku memakannya. Pipiku memanas, sepertinya sekarang tanpa blush-on pun pipiku sudah merah. Aku melahapnya sambil was was, takut menjatuhkan nasi atau keselek saat makan. Dia tersenyum puas, aku tetap menunduk malu.
"Udah, jangan lagi" kataku
"Dih, aku juga laper tau. Kalo nyuapin kamu, kapan aku makannya" dia mengeluarkan hp, aku lagi-lagi menunduk mulai menyendok. Saat aku hendak makan dan sudah membuka mulut, tiba-tiba ada cahaya silau. Ternyata itu flash! Aku kaget, bayangkan dipenerangan remang, tiba-tiba ada flash kamera. Aku memonyongkan bibir protes, tapi dia tertawa bahagia berhasil memotretku.
"Maaaas, malu aku eee"
"Ahahahahaha, cantik kamu Kal"
"Coba liat, iih aku kan gak pakai make-up mas" aku berusaha meraih hpnya. Dia menjauhkan hpnya sambil tertawa.
"Cantik kok kal, kamu selalu cantik" aku kembali duduk sambil menunduk. Aku menghabiskan nasi goreng sambil menahan agar jantungku tidak berhenti berdetak saking bahagianya. Saat sampai kos, aku membuka hp dan melihat mas Alif mengirimkan foto itu dengan kalimat -kamu cantik bahkan saat mau makan- lagi lagi hari itu aku tidur dengan perasaan amat sangat bahagia.
Makan sambil bernostalgia, membuatku tiba-tiba rindu mas Alif. Aku rasa, aku tidak apa-apa meskipun hanya menjadi temannya. Yang penting, mas Alfi tetap ada, yang penting hubungan kami tetap seperti ini. Aku memberanikan diri mengirimkan chat ke mas Alif
-Mas, kangen. Mas udah pulang kerja?-
Dia membalas
-Baru aja selesai mandi Kal. Kamu udah makan?-
-Udah, nih. Mas samean jangan nikah dulu ya-
-Hahahaha, kenapa?-
-Aku gak siap mas ditinggal kamu nikah-
-Wah, kamu abis dapat kabar dadi siapa?-
-Nggak dari siapa-siapa, tiba-tiba kepikiran aja-
-Aku besok mau tunangan Kal-
deg! Aku diam, membaca lagi pesan yang dia kirimkan. Gemuruh di luar menambah dramatis apa yang aku rasakan. Hangat yang biasa menjalari tubuh, terasa berbeda. Aku memberanikan diri membalas
-Wih, sumpah? Waah selamat ya mas-
-Doanya ya Kal- aku membiarkan chat mas Alif hanya terbaca, tidak aku balas. Gerimis di luar menjadi turun lebih deras, dan air mataku pun tidak mau kalah untuk ikut turun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar