Bicara soal berjuang, pasti gak asing dengan pepatah "batu sekeras apapun, jika ditetesi air terus-menerus maka batu tersebut akan berlubang juga" yang artinya, akan ada saatnya suatu saat nanti seseorang akan luluh juga jika diperjuangkan terus menerus.
Benarkah?
Jika kita lihat di novel, sinetron, drama atau film sih begitu. Tapi itu kan dalam naskah, kalau dalam kehidupan nyata bagaimana?
Entahlah, menurut aku pribadi sih tidak akan berlaku jika kita tidak masuk dalam kriteria orang tersebut. Maksudnya, kalau kita emang udah masuk kriteria dia kemungkinan perjuangan kita tidak akan mengkhianati hasil. Tapi kalau bahkan kita tidak masuk kriteria mereka, meskipun semesta dan seisinya kita kasihpun kemungkinan perjuangan kita tidak akan membuahkan hasil. Wkwkwkwk
Balik lagi ke pepatah tadi ya. Menurut aku, pepatah itu kurang sesuai diterapkan dalam suatu hubungan. Kenapa? Karena yang kita hadapi adalah manusia, makhluk yang dinamis. Sedangkan yang dihadapi air adalah batu, benda yang statis. Batu gak bakalan menghindari tetesan air, karena mereka gak bisa bergerak. Pun jika ada faktor lain seperti angin yang akan membelokkan atah tetesan air, itu tidak akan lama. Air akan kembali menetesi pada jalurnya saat angin itu hilang. Jelas hal ini berbeda dengan perjuangan kita terhadap seseorang. Kalaupun kita ibaratkan perjuangan kita adalah air dan doi adalah batu, toh ada kemungkinan tambahan lain. Ya, doi adalah batu yang bisa berjalan. Doi bisa memilih menghindar tetesan perjuangan yang kita berikan terus menerus. Bahkan doi bisa memilih pergi jauh, tak lagi hanya menghindar.
Pernah suatu hari aku bertanya pada seseorang yang aku sukai. Aku bertanya karena dia bukan batu. Jadi dia berhak menghindari tetesan air dariku atau malah membiarkan aku berjuang tanpa lelah. Dan jawabannya? Dia memang bilang dia bukan batu, tapi dia bilang dia adalah air itu sendiri. Lalu aku kembali bertanya, kalau dia air apakah aku batunya? Jawaban dia, bukan. Lalu aku bertanya lagi, maksudnya bagaimana? Dia menjawab bahwa dia air, begitulah dia dan prinsipnya. Mengalir saja, let it flow~ Dia mengakui bahwa itu kesalahannya, tidak berani menolak langsung karena dia bilang tidak ada yang tau bagaimana takdir kedepannya. Dari balik layar hp ini aku tertawa, mengerti maksud pembicaraan kami. Dan aku bertanya lagi, lalu kalau dia air dan aku bukan batu bagaimana kelanjutan ceritanya? Dia bilang ndak ada script cerita. Dia air, aku air, lalu siapa yang jadi batunya?
Aku baru paham malam ini, setelah aku baca ulang. Sebenarnya sudah jelas dia menolakku. Menolak aku mengucurkan air padanya secara terus-menerus. Secara tidak langsung, dia ingin mengatakan bahwa dia tidak ingin ada kami dalam suatu hubungan. Sesimpel itu, tapi aku bahkan tidak mampu memahami. Dibutakan cinta sepihak yang meresahkan dia.
Mungkin sejak pertengahan tahun 2016 aku mulai menyadari bahwa aku menyukainya. Dan mungkin juga sejak itu aku mulai tertarik belajar hal-hal baru agar bisa aku tanyakan padanya, atau hanya sekedar membuat obrolan kami bisa nyambung. Sungguh menggelikan mengingat bagaimana aku mempekerjakan otakku agar bisa mengimbangi obrolan dia. Berkali-kali aku mengingat apa-apa saja hal yang ia sukai, yang tidak ia sukai. Memang sih, aku belum berjuang seperti air yang mampu melubangi batu. Selama ini bahkan rasanya aku selalu menata kalimatku, menjaga sikapku, meng-upgrade wawasanku untuknya. Wah, muka dua dong? Tidak. Aku berani menjawab lantang bahwa aku tidak berusaha terlihat sempurna di depan dia. Kalau kalian tau, ini lebih seperti ke bagaimana bersikap di depan guru atau orang yang kita hormati. Tidak ingin salah bersikap, tidak ingin salah ucap. Dan yang paling penting, sepertinya aku tidak ingin dia terbebani dengan perasaanku. Aku benar-benar menghormatinya, bahkan untuk sekedar melempar guyonan pun aku sangat berhati-hati. Lama-lama aku menyadari, diantara kami ada sekat yang sangat tidak bisa ditembus jika aku masih menyukainya. Ya, aku sendiri yang membangun semua itu tanpa kusadari.
Lalu esoknya setelah pembahasan pepatah itu, dia akhirnya mau memberikan kejelasan. Kejelasan yang sebenarnya sudah amat sangat jelas aku tau sejak pertama kali aku confess ke dia tentang perasaanku. Aku bukannya ingin memaksa dia membalas perasaanku. Aku hanya ingin dia tidak merasa terbebani. Aku takut, dia akan sungkan jika suatu saat nanti dia punya perasaan pada seseorang. Aku khawatir, dia akan tidak enak padaku jika ingin berbahagia. Aku tidak mau dia merasa sesak dan tertekan dengan segala perasaanku untuknya.
Sejujurnya, aku mampu berjuang sendirian berapa lamapun itu. Tidak, aku tidak sedang gombal. Tapi aku memang orang seperti itu. Jika memang dia menginginkan aku menunggunya sampai dia siap, aku bisa. Jika dia ingin aku bersabar hingga dia menyelesaikan impiannya, aku sanggup. Aku benar-benar bisa melakukan semua itu. Tapi sayangnya, usia dan lingkungan sekitar tidak mendukung. Bagi perempuan sepertiku, usia menjadi lajang sangat terbatas. Lingkungan sekitar pun sepertinya kurang mendukung dengan prinsip perempuan menikah saat siap. Ada peraturan tak kasat mata agar tidak menikah melewati usia 25. Tapi lebih dari usia dan lingkungan sekitar, ada hal yang jauh lebih penting dan tidak bisa aku perjuangkan. Yah, perasaannya padaku. Sampai titik darah penghabisan pun aku berjuang, dia tidak akan pernah bisa merasakannya. Karena sedari awal, dia memang tidak ingin berada dalam satu episode cerita bersamaku.
How do I make money from playing games and earning
BalasHapusThese are poormansguidetocasinogambling the three most popular forms jancasino.com of gambling, and are explained in a very concise wooricasinos.info and concise manner. The most common forms of gambling are: งานออนไลน์