Selasa, 17 November 2020

Sebelum pepatah yang tidak tepat

"mas gak khawatir suatu saat aku berhenti suka ambe mas?" Dia menoleh, tertawa

"Omong opo sih nduk, mesti lak nglantur" aku hanya bisa mengulum senyum, diam. Ya, aku rasa dia benar. Aku mek omong dobol, ngomong yang gak bakalan jadi kenyataan. Bagaimana mungkin aku yang bucin sejak 4 tahun lalu akan berhenti menyukainya?

-

"Mas, samean nikaho sek age" dia berhenti memainkan hp, menoleh padaku

"Lah lapo?"

"Nek aku sek seng nikah aku wedi" dia mengangkat alis, menunjukkan ketidakpahaman "aku wedi nek ternyata mas pernah suka mbek aku, meskipun seupil dan sebentar" dia tertawa

"Enek enek ae samean iki"

-

"Mas, samean udah mulai suka mbek aku gak?"

"Suka, sebagai teman" aku mecucu

"Lebih dari teman walau seupil, ada?" Dia tersenyum

"Ora, murni sebagai teman"

"Seupilnya semut wes?"

"Teman itu hubungan yang paling awet loh, gak bakalan bisa putus. Selalu bisa silaturahmi sampai kapanpun" aku diam, meringis

-

"Mas, aku suka sama mas"

"Iya, makasih"

"Dih, ngunu tok?"

"Lah gimana? Terimakasih sebanyak-banyaknya atas perasaan yang telah kamu berikan untuk saya selama ini. Semoga kamu segera dipertemukan dengan jodoh"

"IH MAS KOK GITU NDUNGONE"

"Eh, gimana dong?"

"EMBO WES, AKU NGAMBUL"

"Em, okay"

"Gak jadi deng"

"Kenapa? Takut dibilang childish?"

"Enggak, tapi gak guna juga aku ngambul"

"Yaampun, kok gitu sih"

-

"Mas aku mau nabung buat beli kambing, eh kalo cukup ya sapi sih. Pengen buat kurban"

"Wah tujuan yang mulia sekali" dia menaruh gelasnya, disandarkan punggungnya pada kursi

"Nek kita nikah, aku te kurban sapi. Ya nek gak sido nikah mbek samean tak gawe kurban idul adha" aku meringis, dia tertawa

"Lah yo ojo ngunu, kudu seng ikhlas seh"

"Emang di dunia ini contoh yang ndak bersyarat ada?"

"Ada, perasaan" dia menjawab dengan mantap

"Wah, bagiku itu justru paling mutlak harus bersyarat" Sanggahku dengan bersemangat

"Kok bisa? Perasaan Sayang, Cinta, Rindu kayaknya sih gak bersyarat"

" Bersyarat mas, syaratnya harus samean. Kalo bukan mas, aku gak bakal punya perasaan seperti ini. Nah loh, bersyarat kan"

"Astaga dek, aku gak kepikiran tutuk kunu" aku hanya tertawa

-

"Mas, ayo nikah" pertanyaan yang sudah tidak asing lagi untuk dia dengar

"Loh, kok moro-moro tutuk nikah?"

"Lah masa iya aku mau ngajak samean FWBan?"

"Jiahahaha, agama hanya mitos ya" dia menopang wajahnya dengan satu tangan

"Makanya aku ngajak nikah"

"Ya ndak sesimpel itu, banyak pertimbangan"

"Yawes ayo kita pertimbangkan. Aku mau daftar jadi calon istri mas. Syarat dan ketentuan apa saja yang harus aku penuhi?" Tanyaku serius, dia menegakkan tubuhnya

"Udah sore nih, balik yuk" Aku tersenyum dan mengangguk, mulai membereskan barang

-

"Mas mas"

"Hm? Kenapa dek?" Tanyanya sambil menaruh hp

"Kalau aku terus berusaha, apakah mas akan terbebani?" Dia meneguk susu jahe hangatnya

"Kenapa kamu selalu begini sih dek? Tanya tuh yang gampang lah, kayak bagaimana kondisi Iran saat ini. Ngunu loh, aku iso jawab pasti"

"Ih mas, jawaben agee. Ya, terbebani atau ndak terbebani kok"

"Esensinya tanya gitu apa se?"

"Em, biar aku bisa menentukan mau terus atau berhenti suka sama mas"

-

"Dek, why?" Aku mendongak

"Ha?"

"Why did all this things happened?"

"Corona atau aku?" Aku tertawa

"Dek, umurku udah segini" dia tersenyum, pandangannya tegas

"Sama mas, makanya aku serius nanya ke samean"

"Kamu tau kan jawabanku apa"

"Aku tau mas mau jawab terbebani, tapi gak enak sama aku"

"Kamu tau kan kenapa aku ndak bisa bilang iya atau ndak secara gamblang? Ya karena itu aku. Aku akui, aku salah, aku ndak teges. Tapi bagaimana lagi, ini prinsipku sudah"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar