Selasa, 28 Mei 2019

Ternyata aku tidak pernah bertepuk sebelah tangan


Apa yang sebenarnya ada dibalik kedalaman matamu? Aku tidak pernah bisa menebaknya. Seperti laut tenang yang sesekali berombak. Hanya keindahan dan kesejukan yang bisa aku temukan disetiap kedipanmu. Seperti pasir yang tidak akan pernah bosan menunggu datangnya ombak, pun aku yang tidak akan bosan memandangmu.

Sore ini, tidak sampai hitungan menit sejak kita merebahkan diri di atas pasir, kau lagi-lagi tidak tertebak. Setelah sebelumnya tenang seperti laut tanpa ombak, tiba-tiba saja laut itu bergemuruh dan berombak tinggi. 

"apa kabar Fa?" kuberanikan diri memandang gemuruh pada tatapannya
"hahaha, apa toh. I am okay Ril" jawabnya  sambil mencubit lenganku. "pantainya indah ya. Sayang sebentar lagi gelap"
"bukankah itu hakikat senja? Setiap detik menuju gelapnya yang selalu di buru. Kalau kamu udah siap cerita, aku ada 24 jam mendengarkan keluh kesahmu fa. Kupingku diciptakan untuk mendengarkan semua ceritamu"
"dasar penyair abal-abal. Isi omonganmu itu gombal semua Ril, tapi sorry ya aku udah kebal" ah lihat lesung pipi itu, tidak pernah tidak membuatku berdebar.
"hampir 4 tahun sejak pertemuan pertama kita ya Fa. Akhirnya bisa wisuda bareng, nanti kita foto bareng yuk sama ayah bundaku dan abi umimu. Siapa tau bisa jadi besan" ia memandangku sambil tersenyum, penuh makna yang masih tidak bisa aku tebak. Duh gusti, tatapan dan senyumannya jauh lebih indah dari lukisan senjamu.
"semakin kesini, aku merasa semakin sendiri. Entah ya, rasanya seluruh dunia membalikkan punggung mereka. Kau tidak merasa seperti itu?"
"satu satunya yang membuatku merasa kesepian saat kamu marah fa. Duniaku berpusat padamu, senyumanmu, dan bahagiamu. Bahan bakar kebahagiaanku ada di kamu, seluruhnya" aku menggenggam tangannya, namun ia tetap tidak menatapku. Hanya debur ombak yang memecah keheningan diantara kami berdua. Sampai matahari tenggelam sempurna, kami menghabiskan hari dengan diam dalam fikiran masing-masing. Apa aku salah mengungkapkan perasaanku pada Ifa?
"Ril, pulang yuk" suara halusnya sedikit mengagetkanku. Aku mengangguk, balasannya dia lalu tertawa. Sambil memeluk pinggangku dan aku memeluk pundaknya, kami tertawa seakan tidak ada keheningan beberapa menit lalu.

Setelah selesai melengkapi berkas wisuda, Ifa memutuskan untuk pulang. Rindu rumah, katanya di ujung telfon. Aku memaksa mengantarnya di stasiun. Sengaja kuajak berangkat satu jam sebelum keberangkatan, aku ingin menghabiskan waktu sebelum jarak memisahkan separuh nyawaku itu. 

"Fa, aku belum pernah senyaman ini dengan orang"
"jelas dong, siapa sih yang gak nagih kalo maen bareng aku" aku mencubit pipinya, dia meringis. 
Perempuan ini, yang berhasil membuatku melepaskan harapanku. Sejak mengenalnya, aku lebih  memilih tetap di jurusanku ini. Merelakan ambisiku tes ulang untuk jurusan yang sejak lama aku idam idamkan. Benar kata orang, kalau sedang jatuh cinta, tai kucing rasa coklat. 
Pengumuman persiapan boarding sudah terdengar, aku berdiri disebelahnya sambil mengantri. 
“Fa… kita sudah lama seperti ini, pernahkah kau merasakan hal sedekat ini  sebelumnya dengan yang lain?” tanyaku terpatah-patah.
“maksudmu, Hubungan kita ini?" ia memandangku penuh selidik. Aku
mencoba menghindari tatapan matanya.
“aku sedekat ini hanya denganmu Ril. Aku senang berteman denganmu, hanya kamu satu-satunya orang yang bisa membuatku merasa bebas mengekspresikan apapun yang
kuinginkan”
“itu artinya…. Apa kau punya perasaan yang sama denganku Fa?"
"aku sangat menyayangimu Ril. Bukankah teman harus seperti itu? Kita teman kan Ril?" ia menggenggam tanganku, menatapku dalam dalam. Kali ini gantian, ombak di dadaku yang bergemuruh hebat.
"kau benar, seperti yang pernah kau katakan dulu. Persaudaraan kita yang dilandasi nilai keikhlasan itu jauh lebih berharga dari apapun" kami kembali terdiam. Semakin lama jarak antrian semakin pendek. Tiba-tiba dia memelukku, erat sekali.
"jaga diri ya Ril, jangan sering kangen aku. Nanti bulu mataku gundul" aku tidak tahan lagi melihatnya, kubalas pelukannya tidak kalah erat.
"have a nice trip, Fa. Akan kubuat bulu matamu gundul, aku akan kangen kamu setiap saat" kami tertawa, entah kenapa serasa sumbang. 
Aku menunduk, melepaskan dia yang masih tenggelam dalam pelukan. Ku kecup keningnya, pelan dan singkat. Lalu aku mundur, membiarkan ia masuk sendirian dalam boarding gate. Ia menoleh dan melambaikan tangan, aku membalasnya. Tepat sebelum Ifa membalikkan badan, aku yakin melihat ada yang mengalir di pipinya. Apa aku menyakiti hatinya?

Aku hampir saja gila. Sejak pertemuan terakhir di stasiun itu, Ifa seperti menghilang di telan bumi. Tidak ada satupun akses yang bisa menjangkaunya. Tidak ada satupun yang tau kabarnya. Ah sial, hampir dua bulan aku menghubunginya yang berujung pada centang abu-abu. Apa dia sengaja menjauhiku? Apa mencium keningnya adalah kesalahan fatal? Dua minggu lagi kami wisuda, dan dia masih belum ada kabar. Ah bisa gila aku memikirkannya.

"Ril, ada paket nih buat kamu" teman kontrakanku melempar sebuah paket bersampul cokelat. Seingatku, aku tidak beli apapun mendekati wisuda ini. 
Aku baca, ternyata paket dari Ifa. Langsung aku duduk dan merobek bungkusnya. Sebuah buku, bersampul gradasi warna hitam, biru, ungu, jingga. Seperti warna langit saat matahari hampir tenggelam sempurna. Ada tulisan "sebelum hari berakhir" berwarna abu abu di bagian depannya. Tidak ada nama penulis, atau penerbit. Jangan jangan, ini buku yang sempat Ifa ceritakan dulu. 

"Ril, aku pengen bisa nerbitin buku. Tanpa ikatan penerbit manapun. Aku hanya ingin membukukan hatiku"
"kenapa gitu? Gak nyoba dikirim ke penerbit aja?"
"enggak Ril, aku cuman pengen menerbitkan satu buku untuk satu kisah. Biar gak ada orang lain yang punya"

Aku mulai membuka halaman pertama, hanya ada tulisan
"sebelum hidup berjalan terlalu jauh dan sebelum hati berpaling terlalu lama". Kubuka lagi halaman selanjutnya, ada satu paragraf di sana.

Untuk seseorang yang selalu ada saat susah dan senangku. Seseorang yang tidak pernah berkata tidak pada segala kegilaanku. Pada seseorang yang aku tau hatinya selalu merindukanku.

Aku tersenyum, lalu melanjutkan membaca

Aku harap, setelah kamu membaca ini, tidak ada hujatan alay atau lebay ya. Mungkin tulisanku tidak seindah puisi puisi yang sering kau tulis Ril, kau tahu kan aku tidak ahli bermanis kata. Selamat membaca Ril, kutunggu kritik dan saranmu.
Salam hangat, aku yang mungkin punya perasaan yang sama denganmu.

Kubaca lembar demi lembar. Isinya kata-kata, paragraf pendek, puisi, dan curhatannya tentang apa yang selama ini ia rasakan. Aku semakin merindukannya, setiap kata yang aku baca terdengar seperti suaranya. Dia selalu bilang suka menulis tapi bukan sastra, bukan seni, ia bilang karyanya hanya tulisan omong kosong curhatannya saja, tidak bernyawa. Padahal lihatlah, ia setara dengan pujangga. Setiap goresannya membuatku ikut larut di dalamnya. Dari awal hingga akhir, isinya tentang aku, perasaannya, dan kisah kita. Diakhir halaman, ada sepucuk surat.

Pasti kamu bingung ya mau telfon aku. Hihihi, ini nomor baruku 085259763xxx di save ya. Kalau kamu udah selesai baca, segera telfon aku. Kutunggu loh Ril 

Aku tersenyum, bolehkah aku sedikit berharap?

Tut... Tut...
"halo" astaga, itu suara yang sangat aku rindukan
"apa kabar fa?" suaraku berat sekali untuk keluar
"baru sampai ya bukunya?"
"kenapa selama ini kamu gak bisa dihubungi?"
"maaf Ril, waktu turun dari kereta, hpku hilang. Dan setelah itu aku masih sibuk mempersiapkan banyak hal. Mau menghubungimu dan teman teman juga aku gak hafal nomor mereka"
"kenapa kamu gak jujur kalau perasaan kita sama Fa? Kamu sengaja ya bikin aku hampir mati penasaran" dia mendiamkanku, lama. Padahal kukira ia akan menertawakanku dan mengejekku.
"manusia hanya bisa merencanakan, tuhan yang menentukan Ril" sempat kudengar isak di ujung sana, walaupun sangat lirih. Hei apakah dia terharu?
"kamu nangis Fa? Kangen aku ya?" dia tertawa. Benar, dia menangis. Meskipun ia memaksakan tertawa, tetap saja isaknya masih terdengar jelas
"beberapa hari lagi kita wisuda ya"
"nanti aku akan bilang langsung ke abi ummi mu kalau aku siap jadi menantu mereka. Aku udah kerja Fa, aku juga udah punya tabungan cukup buat kita nikah. Aku barusan udah telfon ayah sama bunda, dan beliau berdua setuju apapun keputusan kita. Kamu mau kan jadi istriku Fa?" isaknya semakin deras, aku semakin bingung. Dia menangis bahagia atau apa?
"Ril, kalau boleh, aku berharap kita tidak pernah bertemu saat ospek" astaga, apa maksudnya? Hatiku seperti jadi kepinginan kaca yang pecah, rapuh dan sakit
"apa maksudmu Fa? Bukankah kamu bilang semuanya dalam buku ini? Bahkan kamu menulis surat yang isinya nomor barumu. Bukannya perasaan kita sama Fa?"
"Ril, besok pagi aku menikah"
"gak lucu fa" rahangku mengeras. Aku merasakan sesak yang sangat menyakitkan. Dia sesenggukan pelan, menahan tangis. Detik berikutnya, tangusnya pecah. Setiap tangisannya membuat otakku semakin tidak berfikir waras. Bukankah dalam buku ini dia bercerita bagaimana dia mencintaiku juga?
"maafkan aku Ril, keputusan ini sudah lama. Abi dan Umi yang meminta, dan aku gak bisa menolak. Aku minta maaf Ril jika selama ini aku sering melukai hatimu" suaranya parau, memilukan. Menguliti jantujhku dalam dalam. Posisiku yang tadi bersandar di tembok sudah tidak lagi bisa berdiri. Setiap kalimat yang diucapkan ifa berputar di kepalaku
"Fa, aku gak ulang tahun loh" tawaku semakin sumbang
"aku tau Ril, aku juga tidak. Sebelum aku menjadi milik orang, aku ingin mengatakan langsung. Aku juga mencintaimu Ril" kalimatnya terhenti, lumayan lama. Suara lembutnya sempurna terganti dengan isak yang semakin menjadi. Aku menerawang jauh ke atas, tidak mengerti bagaimana bisa takdir bisa sebercanda ini. Bertahun tahun aku hidup dengan kehadirannya, bertahun tahun aku merasa jatuh cinta pada gadis ini, bertahun tahun aku berjuang sendiri dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan, beberapa minggu lalu aku mati matian mencari kabarnya, beberapa saat lalu, aku mengetahui kenyataan bahwa ternyata cintaku tidak pernah bertepuk sebelah tangan. Dan sekarang, orang yang aku jadikan calon tunggal sebagai istriku akan menjadi istri orang dalam kurang dari 24 jam
"fa, aku akan menyusulmu. Maukah kau menungguku?"
Hening, bahkan isak tangisnya pun tidak terdengar lagi

2 komentar: