Terimakasih sudah bersedia aku
repotkan dengan segala macam hal. Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk
menghabiskan seujung malam bersamaku. Terimakasih sudah sedikit banyak mau
berbagi cerita dan bertukar fikiran tentangmu, dari sudut pandangmu. Terimakasih
sudah membuatku sedikit lebih banyak tahu hal-hal yang selama ini sangat ingin
aku tau. Terimakasih kesediaanmu, kebaikanmu. Terimakasih untuk selalu
membuatku baik-baik saja saat aku berada dititik terendah, walau mungkin kau
pun sedang berada di posisi yang sama denganku.
Hal yang selalu ingin aku tahu,
tentangmu, hidupmu, pandanganmu, fikiranmu, kebiasaanmu, apapun tentangmu. Saat
kau bercerita, pelan tapi pasti di malam itu, aku jadi tau sedikit tentang apa
yang selama ini kau fikirkan. Aku berusaha keras untuk menjaga keseimbangan dan
kewarasan saat berada di belakangmu, sambil mendengarkanmu, sambil
memikirkanmu, memikirkan kita. Astaga dasar aku.
Semakin aku memahamimu, semakin
aku ingin menangis. Menangis bahagia sekaligus terluka. Bahagia, perlahan
mengetahuimu sedikit lebih banyak. Bahagia, turut merasakan semangatmu,
cita-citamu, mimpimu. Sekaligus terluka, karena semakin sadar bahwa sejauh ini
jarak yang ada diiantara kita. Terluka, karena tau bahwa sepertinya aku bukan yang
terbaik, sementara kau harus mendapatkan yang terbaik, agar seimbang.
Usia kita hanya terpaut dua tahun, sedikit
ya. Nyatanya, dua tahun itulah yang membuat kita semakin jauh,
membuatmu semakin susah terjangkau oleh hatiku. Dua tahun lagi, saat kau sedang
berproses merampungkan cita-citamu, mungkin aku sudah tidak boleh lagi
memikirkanmu. Dua tahun lagi, saat kau berusaha meraih keinginanmu, mungkin aku
sudah tidak bisa lagi ikut mendukungmu seperti ini. Dan mungkin saat beberapa
tahun lagi saat kau masih asik mengejar mimpi-mimpimu, pada saat itu juga aku
sudah asik merajut mimpi baru dengan sosok yang bukan kamu. Sosok lain yang
berhasil mengisi posisi yang sempat aku simpan untukmu.
Pertemuan dan kebersamaan kita
yang hanya 1 sore dua malam membuatku sangat berbahagia. Terimakasih banyak
sudah menorehkan kenangan yang indah. Rambut barumu yang lucu, ingin aku
komentari tapi aku khawatir kau kegeeran karena aku terlalu memperhatikan. Jawaban spontan
dan unikmu selalu ada saat aku melontarkan pertanyaan dan pernyataan yang
sulit. Itu akan selalu aku ingat darimu. Aku tidak tahu bahwa badanku bisa sumuk dan deg degan setelah menembus dinginnya malam dibelakangmu. Aku tidak tahu bahwa sesulit itu
melewati scanner boarding untuk kembali ke sini. Aku tidak tahu betapa
menyebalkannya waktu berlalu dengan cepat. Aku pun tidak tahu apa yang aku
rasakan saat melihat angka menit yang bertambah semakin banyak. Bahkan aku
tidak tahu betapa menyebalkannya suara pengumuman dari stasiun yang menyuruh
penumpang bersiap-siap. Ya tuhan, meninggalkanmu sesulit itu.
Suatu saat nanti, kalau kau
sedang berada di satu titik terendah. Mungkin merasa tidak berdaya, tidak
berguna, ingin menyerah atau apalah itu. Ingatlah, bahwa akan selalu ada orang
yang mendukungmu, mencintaimu dan berharap kau bisa berbahagia dan berhasil
mewujudkan apa yang kau inginkan. Akan selalu ada orang yang sangat bersyukur
bisa bertemu denganmu, mengenalmu, dan mencintaimu walau mungkin bagimu hanya angin
lalu. Kau harus tau, ada seseorang yang selalu mendoakanmu pada tuhannya lebih
dari ia mendoakan dirinya sendiri. Ada, seseorang yang setiap mengingatmu saja
sudah bersyukur karena kamu dilahirkan dan membuatnya semakin bersyukur ia
dilahirkan juga. Ada seseorang yang selalu baik-baik saja saat membaca namamu
di daftar inboxnya. Ada seseorang yang berharap bisa mendampingimu dalam segala
keadaan, tanpa peduli apapun. Ada,
seseorang yang bersedia menjadi tempatmu bersandar untuk bercerita hari yang
lelah hingga hari yang bahagia. Ada seseorang yang dengan senang hati
meluangkan separuh ruangan di hati dan otaknya khusus untukmu. Ada, seseorang
yang rela telinganya mendengarkan segala hal yang kau ucapkan ataupun kau
keluhkan. Ada, seseorang yang hatinya selalu berdebar saat memikirkanmu,
berdebar saat melihat senyummu, dan berdebar saat berada di dekatmu. Orang itu,
aku.
Sebelum kamu menjadi milik orang
lain, aku ingin sebanyak mungkin mengungkapkannya padamu. Sebelum aku yang
menjadi milik orang lain, sebanyak mungkin aku ingin mencintaimu. Sebelum salah
satu dari kita dimiliki orang lain, keinginanku adalah membuatmu berkali-kali
tau bahwa aku benar-benar mencintaimu. Sebelum salah satu dari kita memulai
kehidupan baru bersama seseorang yang bukan kita, aku ingin sedikit saja bisa
menjadi alasamu bisa bahagia. Kalau boleh.
Kau tahu kan betapa aku berharap
kau bisa selalu berbahagia? Bahagialah. Bahagialah dengan seseorang yang kau
cintai dari terang dan gelapnya. Bahagialah dengan sosok yang bisa membuatmu
jatuh hati dari pagi ke pagi. Bahagialah dengan segala hal yang kau sukai dan
kau inginkan. Bahagialah dengan pilihan-pilihanmu. Bahagialah dengan seluruh
keputusan dan tindakan yang kau pilih dengan matang. Bahagialah dengan sosok
yang bisa kau cintai seperti aku mencintaimu. Walaupun sepertinya jelas bahwa itu
bukan aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar