Rabu, 15 Mei 2019

kau yang semakin tidak terjangkau


Terimakasih sudah bersedia aku repotkan dengan segala macam hal. Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk menghabiskan seujung malam bersamaku. Terimakasih sudah sedikit banyak mau berbagi cerita dan bertukar fikiran tentangmu, dari sudut pandangmu. Terimakasih sudah membuatku sedikit lebih banyak tahu hal-hal yang selama ini sangat ingin aku tau. Terimakasih kesediaanmu, kebaikanmu. Terimakasih untuk selalu membuatku baik-baik saja saat aku berada dititik terendah, walau mungkin kau pun sedang berada di posisi yang sama denganku.


Hal yang selalu ingin aku tahu, tentangmu, hidupmu, pandanganmu, fikiranmu, kebiasaanmu, apapun tentangmu. Saat kau bercerita, pelan tapi pasti di malam itu, aku jadi tau sedikit tentang apa yang selama ini kau fikirkan. Aku berusaha keras untuk menjaga keseimbangan dan kewarasan saat berada di belakangmu, sambil mendengarkanmu, sambil memikirkanmu, memikirkan kita. Astaga dasar aku. 

Semakin aku memahamimu, semakin aku ingin menangis. Menangis bahagia sekaligus terluka. Bahagia, perlahan mengetahuimu sedikit lebih banyak. Bahagia, turut merasakan semangatmu, cita-citamu, mimpimu. Sekaligus terluka, karena semakin sadar bahwa sejauh ini jarak yang ada diiantara kita. Terluka, karena tau bahwa sepertinya aku bukan yang terbaik, sementara kau harus mendapatkan yang terbaik, agar seimbang.

Usia kita hanya terpaut dua tahun, sedikit ya. Nyatanya, dua tahun itulah yang membuat kita semakin jauh, membuatmu semakin susah terjangkau oleh hatiku. Dua tahun lagi, saat kau sedang berproses merampungkan cita-citamu, mungkin aku sudah tidak boleh lagi memikirkanmu. Dua tahun lagi, saat kau berusaha meraih keinginanmu, mungkin aku sudah tidak bisa lagi ikut mendukungmu seperti ini. Dan mungkin saat beberapa tahun lagi saat kau masih asik mengejar mimpi-mimpimu, pada saat itu juga aku sudah asik merajut mimpi baru dengan sosok yang bukan kamu. Sosok lain yang berhasil mengisi posisi yang sempat aku simpan untukmu.

Pertemuan dan kebersamaan kita yang hanya 1 sore dua malam membuatku sangat berbahagia. Terimakasih banyak sudah menorehkan kenangan yang indah. Rambut barumu yang lucu, ingin aku komentari tapi aku khawatir kau kegeeran karena aku terlalu memperhatikan. Jawaban spontan dan unikmu selalu ada saat aku melontarkan pertanyaan dan pernyataan yang sulit. Itu akan selalu aku ingat darimu. Aku tidak tahu bahwa badanku bisa sumuk dan deg degan setelah menembus dinginnya malam dibelakangmu. Aku tidak tahu bahwa sesulit itu melewati scanner boarding untuk kembali ke sini. Aku tidak tahu betapa menyebalkannya waktu berlalu dengan cepat. Aku pun tidak tahu apa yang aku rasakan saat melihat angka menit yang bertambah semakin banyak. Bahkan aku tidak tahu betapa menyebalkannya suara pengumuman dari stasiun yang menyuruh penumpang bersiap-siap. Ya tuhan, meninggalkanmu sesulit itu.

Suatu saat nanti, kalau kau sedang berada di satu titik terendah. Mungkin merasa tidak berdaya, tidak berguna, ingin menyerah atau apalah itu. Ingatlah, bahwa akan selalu ada orang yang mendukungmu, mencintaimu dan berharap kau bisa berbahagia dan berhasil mewujudkan apa yang kau inginkan. Akan selalu ada orang yang sangat bersyukur bisa bertemu denganmu, mengenalmu, dan mencintaimu walau mungkin bagimu hanya angin lalu. Kau harus tau, ada seseorang yang selalu mendoakanmu pada tuhannya lebih dari ia mendoakan dirinya sendiri. Ada, seseorang yang setiap mengingatmu saja sudah bersyukur karena kamu dilahirkan dan membuatnya semakin bersyukur ia dilahirkan juga. Ada seseorang yang selalu baik-baik saja saat membaca namamu di daftar inboxnya. Ada seseorang yang berharap bisa mendampingimu dalam segala keadaan, tanpa peduli apapun. Ada, seseorang yang bersedia menjadi tempatmu bersandar untuk bercerita hari yang lelah hingga hari yang bahagia. Ada seseorang yang dengan senang hati meluangkan separuh ruangan di hati dan otaknya khusus untukmu. Ada, seseorang yang rela telinganya mendengarkan segala hal yang kau ucapkan ataupun kau keluhkan. Ada, seseorang yang hatinya selalu berdebar saat memikirkanmu, berdebar saat melihat senyummu, dan berdebar saat berada di dekatmu. Orang itu, aku.

Sebelum kamu menjadi milik orang lain, aku ingin sebanyak mungkin mengungkapkannya padamu. Sebelum aku yang menjadi milik orang lain, sebanyak mungkin aku ingin mencintaimu. Sebelum salah satu dari kita dimiliki orang lain, keinginanku adalah membuatmu berkali-kali tau bahwa aku benar-benar mencintaimu. Sebelum salah satu dari kita memulai kehidupan baru bersama seseorang yang bukan kita, aku ingin sedikit saja bisa menjadi alasamu bisa bahagia. Kalau boleh.

Kau tahu kan betapa aku berharap kau bisa selalu berbahagia? Bahagialah. Bahagialah dengan seseorang yang kau cintai dari terang dan gelapnya. Bahagialah dengan sosok yang bisa membuatmu jatuh hati dari pagi ke pagi. Bahagialah dengan segala hal yang kau sukai dan kau inginkan. Bahagialah dengan pilihan-pilihanmu. Bahagialah dengan seluruh keputusan dan tindakan yang kau pilih dengan matang. Bahagialah dengan sosok yang bisa kau cintai seperti aku mencintaimu. Walaupun sepertinya jelas bahwa itu bukan aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar