Kurang 2 stasiun lagi dari pemberhentianku. Siang ini bertepatan dengan hari pertama puasa ramadhan, jadwal keretaku ke banyuwangi. Akhirnya aku meminta bantuan mas Tama untuk cari kost harian dekat tempat tesku. Putri, temanku di kampus yang tiba-tiba ada kegiatan membuatnya gagal menemaniku selama di Banyuwangi. Aku gugup, karena mas Tama bersedia untuk aku repotkan selama 2 hari ini. Bahkan ia menawari untuk menjemputku sesampainya di stasiun nanti.
Mas Tama
14.10
Keretanya 14.25 kan? Jangan lupa stasiun Karangasem
Bila - 14.11
Iyaa 15 menit lagi. Jadi jemput kaan? Ehehe
Mas Tama - 14.11
Ini mau berangkat
Bila - 14.12
Owkay, hati hati di jalan
Mas Tama - 14.23
Keluar stasiun belok kiri ya, aku dibawah pohon
Saking banyaknya manusia, aku hampir tidak bisa melihat sosok mas Tama. Sampai akhirnya dia melambaikan tangan dengan jaket hitamnya. Waduh, cakep amat bos. Aku mendekat sambil menikmati sosoknya yang selalu menenangkan.
"Hehe, makasiih. Maaf ngerepotne ya"
"Nggak lah, sini tasnya taruh depan" dia memberiku helm dan mengambil tasku. Hatiku menghangat, hehehe anggap aja lagi latihan jadi pasangan.
"Langsung ke kos aja dulu ya, sekalian istirahat bentar" aku menjawab sambil menaiki jok belakang. Hm, jadi pengen peluk dari belakang kayak di film-film. Tapi sayangnya aku tidak senekat itu.
Kami melongo setelah sampai di tempat. Kebetulan kata mbok yang jaga, pemiliknya sedang ke luar kota, dan ternyata kamarnya memang sisa ini aja. Kamar paling besar, dengan satu dipan besar dan satu dipan susun. Kamarnya gaya kuno, persis film horor belakangan ini yang akan memunculkan hantu di malam hari. Aku tersenyum, agak takut tapi gak papa karena bareng mas Tama.
"Sorry Bil, aku gatau kalau keadaan kamarnya juga masih kotor gini"
"Hehe gapapa mas, tinggal sapu sama pasang sprei kok"
"Ayo tak bantu, kamu pasti capek perjalanan" mas Tama meletakkan ranselku di atas dipan. Ada sedikit perasaan hangat diperhatikan seperti ini.
"Hehe, simulasi rumah tangga ya mas" mas Tama hanya tertawa sambil menyapu. Aku mengambil lap untuk membersihkan meja. Baru pertama kali aku berada dalam kamar bersama laki-laki, apalagi dengan crush. Hehe deg deg an takut khilaf sih ada, tapi mas Tama kayaknya diajak khiaf juga gak tertarik. Hahahaha
"Bil, aku pasangin ya spreinya"
"He mas, gausah aku aja" dia menggeleng, tapi aku tetap kekeuh untuk membantu. Jadilah kami, memasang sprei berdua. Mas Tama memasang sprei sementara aku memegang ujungnya. Astaga aku benar-benar ingin teriak saking bahagianya.
"Kamu bawa sajadah?" Tanya mas Tama sambil membantuku mengecek berkas.
"Nggak mas, gampang lah nanti pake alas seadanya"
"Tak ambilin ya, rumahku di gang sebelah kok. Mumpung masih jam 4, kamu mandi dulu aja nanti aku ke sini setelah buka puasa" dia melirik jam tangan sambil beranjak menuju pintu. Entah kenapa aku merasa sedikit tidak rela ditinggal pulang
"Oke. Nanti habis buka temenin cari makan ya mas, cuma bawa roti soalnya" aku nyengir sambil meletakkan roti sobek. Aku kira sampai sini bisa langsung ngabuburit, ternyata masih harus bersih-bersih kamar kos yang lumayan memakan waktu. Mas Tama berhenti tepat di daun pintu dan tidak merespon ucapanku. Wajahnya kaget, sedetik kemudian berbalik masuk kamar lagi. Aku bertanya tanpa suara, kenapa? Lalu dari belakangnya, aku melihat laki-laki dengan perempuan yang berbuat kurang senonoh sambil cekikikan keluar dari kamar depanku. Kami diam, mas Tama menaruh kontak motornya dan menyuruhku duduk.
"Kamu mandio, tak tunggu sini. Kita jamaah ashar, setelah itu cari buka. Tak temenin, aku pulang malem aja kalo kamu mau tidur" aku melongo, kaget, ragu, tapi tidak mau bilang tidak. "Sorry ya, aku gatau kalo kostnya jadi gini sekarang. Aku khawatir kalau ninggal kamu sendiri" aku mengangguk sambil perutku mulas, seperti banyak kupu-kupu beterbangan. Meskipun dilain sisi agak was was karena hanya berdua dengan mas Tama di kamar. Tapi sejak kedatangan kami, pintu dan cendela kami buka lebar agar tidak menimbulkan fitnah. Akhirnya aku hanya cuci muka dan bersih-bersih, sepertinya tidak etis membiarkan mas Tama menungguku mandi. Setelahnya, kami berjamaah. Jangan tanya lagi bagaimana groginya aku, waah ini mah bener-bener simulasi rumah tangga. Jadi bingung, enaknya pakai adat apa ya?
"Mas, aku beli buat sahur sekalian ya"
"Loh, gak nanti ae ta? Habis magrib keluar lagi kita"
"Nggak mas, nanti malem di kos aja. Hehe, pengen ngobrol banyak sama mas" Dia mengangguk sambil terus berjalan. Sore ini, mas Tama dan aku memutuskan berjalan kaki saja karena letak bazar ramadhan tidak terlalu jauh. Aku benar-benar puas mengamati sosoknya dari belakang. Sempat terfikir ingin jalan sejajar, tapi tidak enak dengan pengendara yang kewat karena jalannya tidak terlalu lebar. Tapi alasan utamanya sih kalau jalan di samping, aku gak bisa melihat mas Tama.
Tidak pernah sedikitpun terbersit bahwa aku akan berada di satu ruangan, makan, bahkan solat jamaah hanya berdua dengan mas Tama. Benar-benar hoki setahunku sudah terpakai sih ini. Selesai berbuka, kami mulai ngobrol banyak hal. Dari rencana tesku besok, kabarnya, kerjaannya, sampai pada mimpinya. Baru kali ini aku tahu sisi lain mas Tama. Selama ini aku hanya mengagumi sosoknya yang menurutku hampir sempurna. Wawasannya luas dalam bidang apapun, kemampuan berbahasa inggris dan mandarinnya lancar, pengetahuan bidang politik dan agamanya sangat matang, sikapnya santun, dan kepribadiannya sangat bagus. Yang aku tahu, aku suka responnya yang selalu bisa memecahkan permasalahanku, bisa meredakan gundahku, bisa menenangkan kalutku. Setiap aku sedang tidak baik-baik saja, entah kenapa jariku selalu membuat laporan tidak penting padanya. Karena lagi-lagi, hanya dia yang bisa membuatku baik-baik saja. Tapi malam ini, obrolan kami sangat luas. Aku baru tahu bahwa dia tinggal bersama sepupunya yang sudah yatim piatu. Aku juga baru tahu cerita kehidupannya yang menurutnya tidak penting, tapi sangat berharga untukku. Bahkan aku baru tahu, rencananya untuk sekolah lagi jauh di benua lain. Melihatnya berbinar dan merasakan semangat dalam suaranya ketika menceritakan mimpinya, membuatku diam-diam mengaminkan dan berdoa agar bisa terlibat untuk mewujudkannya. Lagi-lagi, dadaku menghangat dan tanpa sadar wajahku kaku karena terlalu banyak senyum sepanjang malam. Hingga tepat pada pukul 9 malam, mas Tama berpamitan sambil meminta maaf karena tidak bisa mengantarku esok pagi. Sebagai gantinya, dia kembali lagi untuk membawakan sajadah dan setrika agar aku bisa berangkat dengan pakaian rapi. Oke, lupakan kamar dengan suasana horor ini karena tubuhku penuh energi positif yang memancar dari hati yang berbunga.
Bila - 13.30
Mas, aku lolos psikotes. Nunggu giliran wawancara nih
Mas Tama - 13.35
Wih, congrats yaa. Balik jam berapa ntar?
Bila - 13.35
Belum tahu, paling jam 2an. Tinggal 2 nomor lagi aku
Mas Tama - 13.36
Wah aku baru balik jam 4 nih. Gapapa naik gojek?
Bila - 13.36
Gapapa ih, sans ajaa
Mas Tama - 13.37
Okay, goodluck ya Bil!
Aku tersenyum sambil mengecek tiket pulang. Ah, keretanya berangkat jam 20.35. Sayangnya hari ini Senin, coba kalau Jumat kayaknya aku bakal nambah sehari atau dua hari biar lebih lama ngerepotin mas Tama nya. Entah kenapa, bagiku Banyuwangi selalu punya pesona sendiri.
Jam pulang mas Tama masih lama, akhirnya aku memutuskan untuk melihat-lihat sosial mediaku. Aku post foto langit sore yang kemarin aku abadikan saat sedang cari makan dengan mas Tama. Ada punggungnya, lalu aku geser hingga hanya tampak sedikit bahu lebarnya. Aku tulis "That if I can't be close to you
I'll settle for the ghost of you"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar