“tidak adakah kesempatan lagi untukku?” tanyaku diujung
telefon. Dia terdiam cukup lama hingga terdengar ia menghembuskan nafas
dalam-dalam.
“maaf re, kamu udah gak sendirian lagi” apa maksudnya?
Jelas-jelas sampai sekarang aku masih tidak berhubungan dengan siapapun. Oh
tunggu...mungkinkah yang dimaksud itu
“kamu udah punya penggantiku?”
“bukan begitu, hanya saja, posisi untukmu dulu kini juga kemungkinan
terisi dengannya” suaranya pelan dan lembut, aku membenci hal itu.
“aku tidak mengerti” jawabku lirih. Ada sesuatu yang
berdenyut ngilu di dalam sini.
“kamu memang tidak pernah mau mengerti re. Sejak awal aku
memintanya, kamu tidak pernah mau mengerti” apa-apaan ini? Apa yang dia katakan?
“tapi aku bersedia. Sekarang aku bersedia” dia bungkam, lalu
menghela nafas “haha, jadi tidak bisa ya” aku tertawa sumbang.
“maaf re, dia yang membuatku bangkit lagi” hahaha, semua
laki-laki selalu begitu
“jadi janji-janjimu dulu bagaimana? Kapan akan ditepati?” tak
ada jawaban. Nafasnya terdengar seperti menimbang-nimbang akan menjawab apa.
“ceritanya kan sudah beda re, janji itu sudah tidak berlaku
sejak kau menyakitiku. Semuanya sudah hangus bersama dengan lunturnya kedekatan
kita” aku hanya tersenyum tanpa suara dari ujung sini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar