Selasa, 19 Januari 2016

usikan kecil



Sebenarnya malam ini ada tugas yang harus diselesaikan dan beberapa materi yang harus dipelajari. Namun tangan ini lebih memilih mengetik uneg-uneg yang ada di hati karena di kampus sedang ada permasalahan. Ditengah hiruk-pikuk keadaan yang entahlah akupun tak tahu dan tidak mau tahu ada seorang kakak angkatan yang berkata 


“sebagai mahasiswa, tugas utama kita adalah belajar. Abahku tau kalau aku maaf bodoh, makanya beliau menyekolahkanku biar mendapat ilmu. Karena tugas utama kita belajar, masalah nilai itu bukan urusan kita. Yang penting kita sudah belajar maka kita sudah menjalankan tugas kita sebagai pelajar/mahasiswa. Jangan sampai kita dibutakan oleh nilai, biarkan nilai hanya sekedar menjadi acuan untuk kita semakin giat belajar. Aku yakin disini para orangtuanya ga ada yang mempermasalahkan nilai anaknya selama anaknya sudah berusaha. Iya gak? Masalah rizki seseorang sudah ditetapkan allah jauh sebelum kita diciptakan. Kita menuntut ilmu agar bisa membedakan mana yang haq dan yang bathil. Jika kita orientasi nilai agar mudah mendapatkan pekerjaan supaya rizkinya banyak waah kita salah besar. Karena sejatinya ilmu itu tidak bisa diukur”

Bagaimana bisa kita mengatakan nilai itu bukan urusankita ketika kita yang mengikuti perkuliahan? Lalu untuk apa kita mengulang nilai yang C kalau itu hanya sekedar ilmu? Lalu untuk apa kita diadakan UTS dan UAS kalau ilmu itu tidak bisa diukur? Bagaimana anda yakin orang tua tidak mempermaslahkan nilai ketika kita sebagai anak sudah berusaha mati-matian? Salah besar dari mana orientasi nilai agar mudah mendapatkan pekerjaan? 

Siapa yang salah? Kita? Orangtua? Dosen? Rektorat? Sistem? Entahlah. Pernah ketika saya SMP, saya menanyakan kepada guru saya karena saya merasa ada ketidak adilan dalam sistem penilaian dalam belajar mengajar selama saya bersekolah. Bagaimana bisa pelajaran segitu banyaknya diteskan dalam ujian kenaikan kelas untuk menentukan kenaikan kelas kita setelah sekolah selama satu tahun? Bagaimana bisa pengawan dan peletakan tempat duduk menjadi juru kunci timbulnya nilai pada raport kita?

Saya memberanikan diri kepada guru saya untuk bertanya “bu, kenapa harus ada ujian? Sedangkan pelajaran yang selama ini kita capai pasti sudah banyak kegesernya. Belum lagi mereka yang berhasil curang saat ujian berlangsung” lalu guru saya menjawab “lalu, bagaimana kita tau bahwa kalian memahami pelajaran atau tidak kalau tidak diberi ujian? Ujian itu nduk digunakan untuk acuan kemampuan kalian. Bukankah kalau kalian faham berarti kalkian bisa mengerjakan?” aku terdiam. Iyasih, tapi bagaimana dengan mereka yang sering grogi atau sakit saat pelaksanaan ujian? Bukankah itu tidak adil? Beliau menambahkan “nilai bukan segalanya nduk, yang penting kalian faham, insya allah barokah. Yang penting prosesnya, bukan hasilnya”

Okelah, kalimat beliau cukup menenangkan saya. Bukannya apa sih, tapi saya dulu, perlu digaris bawahi, DULU adalah orang yang pintar. Sejak SD selalu menempati peringkat terbaik meski beberapa kali sempat lengser. Keluar SDpun saya terbaik nomer 2 se-Kecamatan. Hanya selisih 0.5 dengan yang terbaik nomer 1 se kecamatan. Masuk SMP, tes saya peringkat 1, keluar SMP pun saya peringkat 1 hingga mendapat hadiah ke Thailand. Lalu kalau nilai bukan tujuan, untuk apa ada peringkat? Untuk apa ada hadiah seperti itu? Sejak saya masuk MAN, prestasi saya menurun. Entah kenapa, saya benar-benar merasakan susahnya mencari nilai ketika hidup saya benar-benar jujur tanpa kecurangan. Melihat situasi yang seperti ini, adalah akhirnya kecurangan saya seperti mencontek pekerjaan teman, dan hal-hal lain. Kakak saya IPK-nya diatas 3.5, dan dia lolos sebagai pegawai negeri sipil di salah satu kota di provinsi saya. Syarat pendaftaran dariawal saja sudah IPK 3,5 lalu apakah ini yang dinamakan proses lebih penting? Memang benar ada banyak pengusaha diluar sana yang bahkan mungkin sekolah saja tidak tamat, tapi hanya berapa persen? Kalau memang kami para penerus bangsa dicetak agar menciptakan peluang pekerjaan, mengapa tidak bekali kami dengan hal berguna saja? Bukannya saya memandang kimia, fisika dan biologi tidak berguna, BUKAN! Sama sekali bukan. Saya hanya berfikir, kita dijejali puluhan materi, puluhan pelajaran yang belum tentu akan kita gunakan? Untuk apa? Apakah kita dicetakj untuk menjadi Google-yang serba tahu dan serba bisa? Banyak orang mengatakan bahwa kita hanya menggunakan sekian persen dari otak kita. Andai kita mau berusaha lagi, kita pasti bisa lebih memaksimalkan apa yang otak kita bisa lakukan. Bukankah lebih baik kita memaksimalkan otak kita dengan mengasahnya dengan apa yang benar-benar kita senangi? Menjalankan sesuatu yang kita senangi akan membuat kita tidak terbebani dalam mengerjakannya, mengapa sistem belajar di negri ini tidak begitu?

Saya hanyalah mahasiswa yang hanya bisa menyampaikan uneg-uneg saya lewat tulisan. Banyak teman saya yang mohon maaf tidak sesuai dengan bidang yang mereka ambil. Contoh, dalam bidang kesehatan. Sekarang ini banyak sekolah kesehatan baik itu bidan, perawat, apoteker yang berasal dari swasta dan muridnya adalah orang-orang yang terkesan “daripada ndak kuliah” gitu. Sepertinya miris sekali melihat hal itu disekitar saya. Untuk perguruan tinggi negri yang berbasis islam juga diisi sebagai “pelarian” dan tidak sedikit yang dipandang sebagai “gampang dapet nilai A atau IP maupun IPK bagus”. Padahal di sana adalah calon-calon pendidik anak-cucu kita, penerus bangsa, penerus agama! Kalau sudah jelek dari pencetaknya, bagaimana hasil cetakannya? Saya tidak berbicara semua perguruan tinggi, hanya sebagian saja. Jurusan kesehatan dipandang sebgai jurusan yang waow. Pokok judulnya bidan, judulnya dokter, perawat, ndak mikiri kualitas gituloh. Kenapa ndak saringan untuk bagian FKIP, orang-orang yang akan mendidik dan mencetak karakter penerus bangsa, atau orang-orang ekonomi, yang akan menggerakkan perekonomian bangsa, atau orang-orang FISIP yang berhubungan dengan negara, kenapa ndak saringan itu yang dicari bibit2 unggulnya? Jujur saja, orang tua saya termasuk yang ingin punya anak dokter. Namun apa daya, anaknya tidak ada yang berminat. Bukannya kami tidak mampu, namun kami tidak mau. Saya memang sekolah pada jurusan kesehatan masyarakat, anak kesehatan juga, tapi pandangannya beda. Saya bertugas mencegah agar penyakit tidak terjadi, bukan menangani pasien secara langsung.

Di fakultas saya, mendapatkan nilai A tidak semudah fakultas lain. Ada fakultas yang IPK 3.8 sekian itu merupakan IPK yang tergolong rendah. Kalau di fakultas saya, jangankan Ipk segitu, SKS 24 itu bersyukurnya masya allah. Dan alhamdulillah ini sudah sesuai dengan yang saya inginkan. Alhamdulillah Allah memberi saya jalan untuk berkuliah ditempat yang insya allah barokah untuk hidup saya, aamiin.

 Jadi, nikmatilah apa yang kau cintai. sekolah itu kudu jalan dua-duanya. Nuntut ilmu iya, nyari nilai yo iya. Tapi ingat, jalannya harus barengan biar gak pincang! biar gak terbutakan oleh ambisi dan target semata

Berhubung sudah malam, dan saya harus kembali untuk mengerjakan tugas, saya akhiri sampai sini. Terimakasih telah repot-repot membaca. Salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar