Sebenarnya malam ini ada tugas yang harus diselesaikan dan
beberapa materi yang harus dipelajari. Namun tangan ini lebih memilih mengetik
uneg-uneg yang ada di hati karena di kampus sedang ada permasalahan. Ditengah hiruk-pikuk
keadaan yang entahlah akupun tak tahu dan tidak mau tahu ada seorang kakak
angkatan yang berkata
“sebagai mahasiswa, tugas utama kita
adalah belajar. Abahku tau kalau aku maaf bodoh, makanya beliau menyekolahkanku
biar mendapat ilmu. Karena tugas utama kita belajar, masalah nilai itu bukan
urusan kita. Yang penting kita sudah belajar maka kita sudah menjalankan tugas
kita sebagai pelajar/mahasiswa. Jangan sampai kita dibutakan oleh nilai,
biarkan nilai hanya sekedar menjadi acuan untuk kita semakin giat belajar. Aku yakin
disini para orangtuanya ga ada yang mempermasalahkan nilai anaknya selama
anaknya sudah berusaha. Iya gak? Masalah rizki seseorang sudah ditetapkan allah
jauh sebelum kita diciptakan. Kita menuntut ilmu agar bisa membedakan mana yang
haq dan yang bathil. Jika kita orientasi nilai agar mudah mendapatkan pekerjaan
supaya rizkinya banyak waah kita salah besar. Karena sejatinya ilmu itu tidak
bisa diukur”
Bagaimana bisa kita mengatakan nilai itu bukan urusankita ketika kita
yang mengikuti perkuliahan? Lalu untuk apa kita mengulang nilai yang C kalau
itu hanya sekedar ilmu? Lalu untuk apa kita diadakan UTS dan UAS kalau ilmu itu
tidak bisa diukur? Bagaimana anda yakin orang tua tidak mempermaslahkan nilai ketika
kita sebagai anak sudah berusaha mati-matian? Salah besar dari mana orientasi
nilai agar mudah mendapatkan pekerjaan?
Siapa yang salah? Kita? Orangtua? Dosen? Rektorat? Sistem? Entahlah. Pernah
ketika saya SMP, saya menanyakan kepada guru saya karena saya merasa ada
ketidak adilan dalam sistem penilaian dalam belajar mengajar selama saya
bersekolah. Bagaimana bisa pelajaran segitu banyaknya diteskan dalam ujian
kenaikan kelas untuk menentukan kenaikan kelas kita setelah sekolah selama satu
tahun? Bagaimana bisa pengawan dan peletakan tempat duduk menjadi juru kunci
timbulnya nilai pada raport kita?
Saya memberanikan diri kepada guru saya untuk bertanya “bu, kenapa
harus ada ujian? Sedangkan pelajaran yang selama ini kita capai pasti sudah
banyak kegesernya. Belum lagi mereka yang berhasil curang saat ujian
berlangsung” lalu guru saya menjawab “lalu, bagaimana kita tau bahwa kalian
memahami pelajaran atau tidak kalau tidak diberi ujian? Ujian itu nduk
digunakan untuk acuan kemampuan kalian. Bukankah kalau kalian faham berarti
kalkian bisa mengerjakan?” aku terdiam. Iyasih, tapi bagaimana dengan mereka
yang sering grogi atau sakit saat pelaksanaan ujian? Bukankah itu tidak adil? Beliau
menambahkan “nilai bukan segalanya nduk, yang penting kalian faham, insya allah
barokah. Yang penting prosesnya, bukan hasilnya”
Okelah, kalimat beliau cukup menenangkan saya. Bukannya apa sih, tapi
saya dulu, perlu digaris bawahi, DULU adalah orang yang pintar. Sejak SD selalu
menempati peringkat terbaik meski beberapa kali sempat lengser. Keluar SDpun
saya terbaik nomer 2 se-Kecamatan. Hanya selisih 0.5 dengan yang terbaik nomer
1 se kecamatan. Masuk SMP, tes saya peringkat 1, keluar SMP pun saya peringkat
1 hingga mendapat hadiah ke Thailand. Lalu kalau nilai bukan tujuan, untuk apa
ada peringkat? Untuk apa ada hadiah seperti itu? Sejak saya masuk MAN, prestasi
saya menurun. Entah kenapa, saya benar-benar merasakan susahnya mencari nilai
ketika hidup saya benar-benar jujur tanpa kecurangan. Melihat situasi yang
seperti ini, adalah akhirnya kecurangan saya seperti mencontek pekerjaan teman,
dan hal-hal lain. Kakak saya IPK-nya diatas 3.5, dan dia lolos sebagai pegawai
negeri sipil di salah satu kota di provinsi saya. Syarat pendaftaran dariawal
saja sudah IPK 3,5 lalu apakah ini yang dinamakan proses lebih penting? Memang benar
ada banyak pengusaha diluar sana yang bahkan mungkin sekolah saja tidak tamat,
tapi hanya berapa persen? Kalau memang kami para penerus bangsa dicetak agar
menciptakan peluang pekerjaan, mengapa tidak bekali kami dengan hal berguna
saja? Bukannya saya memandang kimia, fisika dan biologi tidak berguna, BUKAN! Sama
sekali bukan. Saya hanya berfikir, kita dijejali puluhan materi, puluhan
pelajaran yang belum tentu akan kita gunakan? Untuk apa? Apakah kita dicetakj
untuk menjadi Google-yang serba tahu dan serba bisa? Banyak orang mengatakan
bahwa kita hanya menggunakan sekian persen dari otak kita. Andai kita mau
berusaha lagi, kita pasti bisa lebih memaksimalkan apa yang otak kita bisa
lakukan. Bukankah lebih baik kita memaksimalkan otak kita dengan mengasahnya
dengan apa yang benar-benar kita senangi? Menjalankan sesuatu yang kita senangi
akan membuat kita tidak terbebani dalam mengerjakannya, mengapa sistem belajar
di negri ini tidak begitu?
Saya hanyalah mahasiswa yang hanya bisa menyampaikan uneg-uneg saya
lewat tulisan. Banyak teman saya yang mohon maaf tidak sesuai dengan bidang
yang mereka ambil. Contoh, dalam bidang kesehatan. Sekarang ini banyak sekolah
kesehatan baik itu bidan, perawat, apoteker yang berasal dari swasta dan
muridnya adalah orang-orang yang terkesan “daripada ndak kuliah” gitu. Sepertinya
miris sekali melihat hal itu disekitar saya. Untuk perguruan tinggi negri yang
berbasis islam juga diisi sebagai “pelarian” dan tidak sedikit yang dipandang
sebagai “gampang dapet nilai A atau IP maupun IPK bagus”. Padahal di sana
adalah calon-calon pendidik anak-cucu kita, penerus bangsa, penerus agama! Kalau
sudah jelek dari pencetaknya, bagaimana hasil cetakannya? Saya tidak berbicara
semua perguruan tinggi, hanya sebagian saja. Jurusan kesehatan dipandang sebgai
jurusan yang waow. Pokok judulnya bidan, judulnya dokter, perawat, ndak mikiri
kualitas gituloh. Kenapa ndak saringan untuk bagian FKIP, orang-orang yang akan
mendidik dan mencetak karakter penerus bangsa, atau orang-orang ekonomi, yang
akan menggerakkan perekonomian bangsa, atau orang-orang FISIP yang berhubungan
dengan negara, kenapa ndak saringan itu yang dicari bibit2 unggulnya? Jujur saja,
orang tua saya termasuk yang ingin punya anak dokter. Namun apa daya, anaknya
tidak ada yang berminat. Bukannya kami tidak mampu, namun kami tidak mau. Saya memang
sekolah pada jurusan kesehatan masyarakat, anak kesehatan juga, tapi
pandangannya beda. Saya bertugas mencegah agar penyakit tidak terjadi, bukan
menangani pasien secara langsung.
Di fakultas saya, mendapatkan nilai A tidak semudah fakultas lain. Ada fakultas
yang IPK 3.8 sekian itu merupakan IPK yang tergolong rendah. Kalau di fakultas
saya, jangankan Ipk segitu, SKS 24 itu bersyukurnya masya allah. Dan alhamdulillah
ini sudah sesuai dengan yang saya inginkan. Alhamdulillah Allah memberi saya
jalan untuk berkuliah ditempat yang insya allah barokah untuk hidup saya,
aamiin.
Jadi, nikmatilah apa yang kau cintai. sekolah itu kudu jalan dua-duanya. Nuntut ilmu iya, nyari nilai yo iya. Tapi ingat, jalannya harus barengan biar gak pincang! biar gak terbutakan oleh ambisi dan target semata
Berhubung sudah malam, dan saya harus kembali untuk mengerjakan tugas,
saya akhiri sampai sini. Terimakasih telah repot-repot membaca. Salam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar